MENJADI IDEALIS SEJATI DI HADAPAN PENGUASA BORJUIS DAN FASIS

MENJADI IDEALIS SEJATI DI HADAPAN PENGUASA BORJUIS DAN FASIS

MENJADI IDEALIS SEJATI DI HADAPAN PENGUASA BORJUIS DAN FASIS
Oleh: Saiful Huda Ems (SHE)

Menjadi idealis sejati itu tidak mudah. Menjadi progresif dan revolusioner yang teguh membela kebenaran dan keadilan di hadapan penguasa borjuis dan fasis, harganya mahal.

Ia tidak hanya berhadapan dengan intimidasi, persekusi, hingga teror fisik dan psikis dari luar. Ia juga harus berhadapan dengan dirinya sendiri: kemiskinan, penderitaan, dan keterasingan dari lingkungan, pekerjaan, masyarakat, bahkan dari dirinya sendiri.

Itu sebabnya kita tidak perlu kaget melihat banyak figur oposisi jadi-jadian. Awalnya kritis dan garang, setelah dirangkul masuk lingkaran kekuasaan, mendadak lunak, lembut, dan mengaku moderat bijaksana. Pikiran kritisnya musnah, tersapu sorot lampu istana yang megah.

Siapa penguasa borjuis dan fasis itu?

Penguasa borjuis adalah penguasa yang lahir dari kelas pemilik modal dan alat produksi. Orang kaya yang hidup mewah dengan gaya hidup elit.

Sedangkan penguasa fasis adalah penguasa yang menjalankan pemerintahan dengan watak fasisme:

1. Anti-kritik. Kekuasaan sangat terpusat pada pemimpin otoriter yang gemar “membajingankan” pengkritiknya.

2. Menekan oposisi. Kritik dibungkam lewat intimidasi, teror, penculikan, bahkan pembunuhan. Atau dengan cara yang lebih halus: dirangkul paksa masuk sistem, diangkat jadi pejabat untuk memperkuat kekuasaan.

3. Membatasi kebebasan sipil dan pers. Baru-baru ini saya menulis kritik tentang mantan presiden yang ahli perkeliruan dan pernah merebut salah satu partai politik. Tulisan itu dilike dan dikomentari ribuan orang, tiba-tiba dihapus oleh Meta. Saya harus menulisnya lagi dan lagi.

4. Meminta loyalitas buta. Kepatuhan pada penguasa dikaburkan dengan istilah loyalitas pada negara.

5. Propaganda dan mobilisasi massa. Mengerahkan Buzzer Garis Sinting (BGS) untuk mengganggu konsentrasi dan pergerakan orang-orang kritis.

6. Menggunakan aparat untuk mempertahankan kekuasaan. Salah satunya lewat kriminalisasi terhadap mereka yang kritis.

Lalu bagaimana menjadi idealis sejati?

Menghadapi kekuasaan seperti itu butuh laku. Harus berlatih hidup sederhana, meninggalkan glamour dunia. Harus berlatih terus-menerus menyampaikan gagasan ke publik untuk diuji secara terbuka. Dan harus siap dicaci-maki oleh Buzzer Garis Sinting (BGS) yang muncul tiba-tiba dengan kalimat kasar.

Setelah semua itu dilalui, barulah ia tumbuh menjadi Idealis Sejati. Sosok yang tidak lagi risau dan putus asa meski teralienasi, meski kesepian karena dijauhi teman-temannya yang cuti nalar.

Apalagi hanya dijauhi oleh mereka yang sudah menjadi pragmatis, oportunis, dan penjilat! ***)

Posted: sarinahnews.com
Jakarta, 3 Oktober 2026.

Saiful Huda Ems (SHE) – Lawyer dan Aktivis ’98