PERANG TERBUKA PRESIDEN PRABOWO VS JOKOWI SEDANG DIMULAI
Oleh: Saiful Huda Ems (SHE)
_Apakah dia lupa, bahwa tindakan ini bisa mengarah pada perbuatan makar?_
Baru saja tersiar berita yang tidak perlu diragukan lagi kebenarannya, bahwa Polisi telah menetapkan Kepala Staf Kepresidenan, Jenderal Listyo Sigit Prabowo (LSP) yang merupakan jenderal bintang empat dan mantan Kapolri, sebagai tersangka penyadapan ilegal terhadap Presiden RI Prabowo Subianto.
Penetapan tersangka ini telah diumumkan oleh Kabareskrim Polri, Komjen Pol Asep Safrudin dalam jumpa pers di Mabes Polri, Selasa (3/11).
Bukan hanya itu, Polisi juga telah menetapkan dua orang lainnya sebagai tersangka, yakni Kadivkum Polri Irjen Ahrie Sonta Nasution dan Irjen Pol Eko Hadi Santoso.
“Terhadap ketiga tersangka tersebut, diduga melakukan penyadapan tanpa prosedural terhadap Presiden RI, pejabat negara, tokoh politik, media, tokoh Ormas, LSM,” ucap Komjen Pol Asep Safrudin (Kompas.com, Selasa 3/11/2026).
Wow, ini sungguh berita yang sangat luar biasa mengejutkan!
Rupanya mantan Presiden yang sangat gila kekuasaan itu sepertinya mulai bermain kasar, hingga — jika benar dia aktor intelektualnya — nekat memerintahkan para operator politiknya untuk main sadap-sadapan ke Presiden dan para pejabat negara, termasuk tokoh-tokoh politik, media, Ormas dan LSM.
Apakah dia lupa, bahwa tindakan ini bisa mengarah pada perbuatan makar?
Mungkin teman-teman masih ingat dengan apa yang pernah saya katakan di awal Oktober 2026 lalu, bahwa digesernya LSP dari Kapolri ke KSP itu merupakan bentuk pembersihan orang-orangnya Jokowi oleh Presiden Prabowo.
Ketika itu para Termul malah mengolok-olok saya sebagai pengamat goblok, karena bagi mereka justru digesernya LSP dari Kapolri ke KSP itu menunjukkan Presiden Prabowo malah mau mendekatkan LSP padanya.
Tetapi ketika itu saya berkata sebaliknya, bahwa KSP memang secara fisik bisa lebih dekat dengan presiden, tetapi dengan menjadi KSP, Jenderal LSP telah kehilangan tongkat komandonya, yang berarti posisinya telah dilemahkan.
Sekarang fakta telah berbicara. Begitu LSP menjadi KSP, gerak-geriknya mudah terpantau, dan begitu ketahuan telah melakukan penyadapan, LSP langsung ditangkap, ditersangkakan dan ditahan!
Kalau sudah begini, analisa politik siapa yang benar, saya atau para Termulen?
Tetapi baiklah, itu tidak terlalu penting untuk kita bahas di sini, saya sekarang lebih ingin mengemukakan analisa saya berikutnya saja.
Jika benar semua tersangka pelaku penyadapan itu atas perintah Jokowi, lalu apa kira-kira yang mendasari Jokowi melakukan semua ini?
Pertama, sejak Mahkamah Konstitusi memutuskan tidak ditemukannya ijazah Wapres Gibran yang setara dengan SMA, ditambah lagi sejak Mahkamah Agung memutuskan Surat Keterangan Penyetaraan Ijazah SMA Gibran tidak sah dan batal demi hukum, Jokowi rupanya sangat stres, marah, dan panik.
Terlebih ketika para tokoh politik, aktivis, akademisi, dan lain-lain melakukan gerakan politik dengan mendatangi kantor-kantor Partai Politik untuk mendesak dilakukannya Hak Angket DPR terhadap Wapres Gibran.
Jokowi sepertinya benar-benar susah tidur dan dibayang-bayangi oleh aksi pemakzulan putranya, yakni Wapres Gibran Rakabuming Raka.
Kedua, Pengadilan Negeri Jakarta Timur telah mengagendakan untuk mendatangkan Jokowi pada Kamis (5/11) nanti sebagai saksi sekaligus pelapor untuk kasus Tuduhan Ijazah Palsu yang mentersangkakan dokter Tifauziyah.
Ini tentu saja merupakan bom nuklir bagi Jokowi, karena hal itu pasti akan sangat mempermalukannya di hadapan rakyat.
Jokowi yang selama ini terus-menerus bersembunyi dan membentengi dirinya dengan banyak pengacara, relawan hingga Polisi, seolah dipaksa oleh pengadilan untuk hadir dan menunjukkan ijazah aslinya.
Kalian bisa bayangkan, betapa akan malunya Jokowi. Wajahnya akan disembunyikan ke mana?
Ketiga, memperhatikan semua pergerakan politik dan hukum yang terus-menerus berlanjut dari tahun ke tahun tanpa henti itu, Jokowi pastinya sangat jengkel sekali dengan Presiden Prabowo Subianto yang dianggap tidak mau turut serta membantu atau melindungi mukanya.
Bahkan terkesan media-media televisi seolah dibiarkan oleh Pemerintahan Prabowo untuk terus menyiarkannya.
Masak, urusan demo mahasiswa saja media bisa distop untuk menyiarkannya, lah ini gerakan untuk mengungkap ijazah bodong kok dibiarkan terus-menerus disiarkan.
Di sinilah sepertinya Jokowi benar-benar murka pada Presiden Prabowo.
Rupanya Jokowi selama ini belum sadar, bahwa para informan Presiden Prabowo sudah lama mengumpulkan informasi tentang kegiatan kampanye terselubung Jokowi untuk mengusung Gibran sebagai Capres 2029, bahkan kalau bisa sebelum periode I kepresidenan Prabowo berakhir.
Ini kan sama halnya dengan mau menggunting dalam lipatan terhadap kepemimpinan nasional Prabowo. Selain itu, ini juga merupakan tantangan terbuka Jokowi pada Prabowo yang berkeinginan juga untuk nyapres lagi di Pilpres 2029.
Membiarkan Jokowi dan Gibran keluyuran untuk meraih dukungan pencapresan Gibran, itu sama halnya dengan membiarkan Singa Ngiler meraung-raung di tengah istana kepresidenan.
Presiden Prabowo tentu sangat terganggu dan terusik, maka segeralah dideklarasikan “Perang Terbuka” Presiden Prabowo vs Jokowi, dengan mulai menangkapi operator-operator politik Jokowi yang menyadap komunikasi Presiden dan jajaran pejabat negara termasuk para politisi, tokoh media, Ormas dan LSM.
Mari kita tunggu kelanjutan perang terbuka ini! ***)
Posted: sarinahnews.com
Jakarta, 3 November 2026*
Saiful Huda Ems (SHE)
Lawyer dan Analis Politik, Aktivis ’98





