Esai: Hukum
MAMPUKAH POLRI?
Oleh Kadir Wahyudi
Berita kemarin, saya baca Sekitar pukul 14.45 WIB, Suyudi Ario Seto dilantik dan diambil sumpahnya.
“Pelantikan Komjen Polisi Suyudi Ario Seto ini digelar setelah pada Kamis (01/10), Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menyetujui Suyudi menjadi Kapolri yang baru.” berita itu tertulis di media online, BBC Indonesia.
Pergantian seperti ini, bagi saya adalah rutinitas. Listyo Sigit Prabowo waktunya uzur, ya uzur saja. Tetapi tidak. Hanya bergeser menjabat lebih gede. Kalau sudah gede, gak dikenal kamus pensiun. Kecuali ada masalah, baru pensiun dini. Budaya pejabat kita.
Pergantian posisi Kapolri mestinya diikuti ada rancangan perubahan secara _radikal_ bukan omon-omon belaka. Setelah dilantik. Lupa. Budaya para pejabat negara kita.
Kita lihat, kejahatan hari ini tidak kenal jam malam. Narkoba, begal, mafia tanah masih ada. Di sisi lain muncul penjahat baru: pinjol ilegal, love scamming, deepfake, jual-beli data. Pelakunya di kamar kos, korbannya ribuan.
‘Pemain lama’ harus diputus sampai atasnya. Bukan teoritis dan omon-omon. Bukan hanya operator lapangan yang ditangkap untuk konferensi pers. Publik menunggu bukti: hukum berani naik ke atas.
“Sampai kini, proses hukum atas para pelaku tidak memberi keadilan bagi korban dan keluarganya karena tidak menyentuh tingkat komando yang lebih tinggi,” paparnya Heiril, sumber: (BBC News Indonesia, (1/10)).
Itu kata Heiril di BBC kemarin (1/10). Dia bukan asal ngomong tetapi seperti itu fakta di lapangan. Itu gaya kejahatan pemain lama. Dan bagaimana gaya kejahatan pemain baru?
‘Pemain baru’ lebih licin. Kejahatannya sudah 5G, penanganannya jangan masih 2G. Butuh polisi siber yang lebih cepat dari penjahatnya, patroli digital 24 jam, bukan hanya patroli fisik.
Peluangnya masih ada. Survei Litbang Kompas Triwulan II 2026 mencatat kepercayaan publik ke Polri naik ke 82,4% dari sebelumnya 76,2% di 2025. Citra positif juga naik ke 71,5%. Ini modal mahal setelah masa sulit 2025.
Tapi ini bukan alasan berpuas diri. Polri ada di persimpangan. Polri harus berani mengambil tindakan totalitas memberantas kejahatan ‘till ke atas.
Mau jadi polisi reaktif yang baru muncul setelah viral, atau kembali jadi pelindung yang transparan, berani bersih-bersih internal, dan modern?
Masa depan Polri ditentukan oleh satu hal sederhana: ketika jadi korban, rakyat masih berani lapor polisi, atau justru lebih takut lapor polisi? ***)
Posted: sarinahnews.com
Malang, 02 Oktober 2026
Sumber:
Presiden Prabowo lantik Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto – Siapa dia? – BBC News Indonesia





