JODOH DIANTARA LUKA
Oleh: Kadir Wahyudi

Rumah di pinggir rel Surabaya itu kecil. Catnya mengelupas. Tapi dulu Warsih menamainya “rumah kita” setiap kali menyapu halaman.

Junin pulang kerja dari PT. Masphion selalu bawa beras 5 kilo dan cerita tentang mesin yang berisik. Warsih tertawa. Perutnya makin besar. Itu anak keempat mereka.

Sampai suatu sore, seorang perempuan datang. Menggendong bayi umur 3 tahun. Wajahnya mirip Junin.

“Bapaknya anakku,” kata perempuan itu pelan.
Bumi Warsih runtuh.

Ternyata Junin nikah siri. Sama buruh harian satu pabrik juga. Tinggalnya nggak jauh. Masih satu kota. Di Surabaya, kota sebesar ini, semesta bisa sesempit itu.

Pertengkaran pecah malam itu. Teriakan, piring pecah, tetangga mengintip dari pagar. Warsih hamil 7 bulan. Ia tidak menceraikan. Ia hanya diam. Menunggu.

Dua bulan kemudian lahir anak keempat. Laki-laki. Warsih menatapnya lama. Lalu menitipkannya ke ibunya di desa.
“Aku pamit Bu. Aku capek.”

Ia naik bus ke Kalimantan. Tanpa tujuan. Tanpa bekal kecuali kebencian yang membakar dada. “Yang penting jauh dari rumah itu,” gumamnya.

Di Pontianak, hidup tidak lebih murah. Uang habis. Perut lapar lebih jujur daripada harga diri. Akhirnya Warsih masuk ke satu komplek. Jadi pelacur. Satu-satunya cara _to survive_ yang ia tahu saat itu.

Tiga tahun. Tiga tahun ia tidur dengan laki-laki asing demi makan dan kirim uang untuk anaknya.

Sampai suatu malam, pintunya diketuk. Yang masuk tetangganya sendiri dari Surabaya. Laki-laki yang dulu sering main catur di teras “rumah itu”.

Warsih kaget. Tapi ia tetap tersenyum profesional.
“Sampeyan ngapain di sini Pak?”
“Cuma jajan. Penat.”

Sebelum pulang, Warsih memberanikan diri. “Anak-anak… sama Junin gimana?”
“Junin? Udah keluar dari Masphion. Sekarang ikut proyek perumahan di sini. Di mess daerah Sungai Jawi.”

Malam itu juga Warsih dandan seadanya. Ia tidak rindu. Ia butuh uang. Ia butuh kepastian.

Mess proyek itu berisik. Junin keluar dengan kaos oblong dan celana pendek. Kurus. Lebih tua. Matanya membesar melihat Warsih.

“Warsih?”
Junin tidak memeluk. Ia hanya mengeluarkan dompet dan menyodorkan uang. “Ini. Cukup sebulan ya. Maaf.”

Warsih menerima. Dingin.

Tapi tiga bulan itu aneh. Junin sering datang. Bukan untuk “jajan”. Ia duduk di kursi plastik. Cerita tentang proyek. Tentang anak-anak di Jawa. Tentang rasa bersalah yang tidak pernah selesai.

Kebencian Warsih perlahan menipis. Seperti karat yang digosok air mata. Pertemuan demi pertemuan membuat luka itu jadi ruang lain. Ruang bernama kangen.

“Pulangkah kita?” bisik Junin suatu malam. “Tinggalkan semua ini. Aku udah putus sama dia. Demi anak-anak.”

Warsih diam lama. Orang Jawa bilang, jodoh memang aneh. Bisa patah, bisa ketemu lagi di tempat paling tidak mungkin.

Enam tahun setelah ia pergi dari “rumah itu”, mereka pulang bersama ke Surabaya.

Rumahnya masih ada. Catnya masih mengelupas. Anak-anak sudah besar. Anak keempat memanggil “Bapak” dengan canggung di awal, lalu lari memeluk.

Malam pertama di rumah itu, Warsih dan Junin duduk di teras. Tidak banyak bicara.

“Capek ya,” kata Junin.
Warsih mengangguk. “Rumah ini pernah jadi neraka. Tapi ternyata… masih bisa jadi rumah lagi.”

Angin dari arah rel lewat pelan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Warsih merasa tidak ingin lari lagi.

Karena cinta itu, ternyata, masih di sana. Menunggu di antara tembok yang retak. ***)

TAMAT

Note: Cerpen ini fiksi. Tempat, nama dan kejadian imaginasi penulis