Cerpen Fiksi: Humaniora
Konspirasi Cinta: Saat Namaku Dijual Demi Selingkuhan Anggota Dewan
Oleh Kadir Wahyudi
_Sepuluh tahun lalu namanya disebut-sebut sebagai “selingkuhan anggota dewan”. Rumah tangganya hancur, ia diusir, dan hak asuh anaknya diambil. Padahal, malam sebelum ditangkap KPK, sang anggota dewan justru pamit kepada perempuan lain. Ini kisah Nia, korban fitnah yang dikorbankan demi cinta terlarang._
_***_
Angin malam berembus agak kencang. Ibu-ibu PKK bergosip di sela-sela arisan dan rapat Bank Sampah.
Malam itu Lina bercerita sambil tertawa. Katanya bangga.
“Dulu aku pernah pacaran sama Pak Darman, anggota dewan lho,” katanya, sambil memainkan gelang emas di pergelangan tangannya. “Dapat ini itu. HP, tas, jalan-jalan, dan mobil. Enak, kan?” Cerita Lina sambil mengerlingkan mata.
Aku diam. Karena 10 tahun lalu, bukan dia yang namanya disebut orang.
Yang kena fitnah, yang bertengkar dengan suami dan mertua, justru sahabatnya sendiri: Nia. Aku.
“Katanya Nia selingkuh dengan Pak Darman,” bisik orang sekampung waktu itu.
Padahal aku hanya teman satu komunitas arisan.
Tetapi gosip lebih cepat dari klarifikasi. Rumah tanggaku retak.
Sekarang Lina bercerita lagi. Dengan nada yang sama sekali tidak merasa bersalah.
“Pak Dewan itu baik. Sayang sama aku,” katanya manja sambil menatap gelang di tangan kanannya.
Ia berhenti sejenak. Matanya menerawang.
“Tahu tidak? Sehari sebelum dia ditangkap KPK, tengah malam dia mampir. Mengetuk pintu pelan. Pamitan.”
“Katanya, ‘Lin, besok Bapak ditangkap. Jaga diri baik-baik ya.'”
Lina tersenyum. “Gentleman banget, kan?”
Aku menatap gelang emas itu.
Di luar sana aku sudah lama pindah. Tidak pernah kembali lagi.
Dan Pak Darman? Sekarang hanya tinggal nama di berita korupsi 10 tahun lalu.
Politik memang kejam.
Tetapi ternyata, cinta juga bisa dipolitisasi.
Ada yang dapat gelang. Ada yang dapat luka.
Ada yang dipamitkan tengah malam. Ada yang ditinggal tanpa pamit sama sekali.
_*_
Gosip Tidak Butuh Bukti, Butuh Nama
Sepuluh tahun.
Cukup lama untuk sebuah nama dilupakan orang. Tetapi tidak untukku.
Namaku Nia. Dulu.
Sekarang orang memanggilku Bu RT. Istri Pak Joko, tukang servis kulkas. Tinggal di ujung gang, rumah dengan cat yang sudah pudar.
Tetapi dulu… dulu aku Nia, bendahara arisan PKK. Istri muda yang rajin, yang tiap minggu membawa kue lapis untuk pertemuan.
Sampai nama “Pak Darman” muncul.
“Katanya Nia ada hubungan dengan Pak Darman.”
Kalimat itu datang dari mulut Ibu Sumi, saat arisan. Suaranya pelan, tetapi cukup untuk satu meja mendengar.
Aku sedang menyuapi anakku yang berumur 2 tahun. Sendok di tanganku jatuh.
Pak Darman. Anggota dewan. Suami orang.
Dan aku? Aku hanya meminjam pulpen beliau sekali saat rapat dana sosial.
Sejak itu hidupku menjadi berita.
Suamiku pulang dengan wajah merah. “Benar kamu, Nia?!”
Mertuaku datang membawa koper. “Kalau benar, malu keluarga kita.”
Anakku ditanya teman PAUD-nya, “Ibumu selingkuh, ya?”
Aku menjelaskan. Menangis. Bersumpah.
Tetapi gosip tidak butuh bukti. Gosip butuh nama. Dan namaku yang terpilih.
Tiga bulan kemudian aku pergi. Mengontrak di ujung kota. Membawa anak dan 2 koper baju.
Pak Darman tidak pernah memberikan klarifikasi. Tidak pernah.
_*_
10 Tahun Kemudian, di Warung Kopi
Malam ini aku bertemu Lina lagi.
Setelah 10 tahun.
Dia masih sama. Kulit putih, gelang emas, tas bermerek. Duduk paling pojok, suaranya paling keras.
“Aku cerita ya Bu Nia… eh Bu RT,” katanya sambil tertawa. “Dulu aku pacaran sama Pak Dewan, tahu.”
Cerita itu diulang lagi. Membuat kepalaku serasa pecah.
Dunia berhenti 2 detik.
Gelas teh tawar di tanganku bergetar.
“Pacaran? Dengan Pak Darman?” suaraku pelan.
“Iya… dapat ini itu. Dia baik banget orangnya. Sayang.”
Lina menunjuk gelangnya. “Ini dari beliau. Terus tas ini juga. Dan motor itu.”
Lalu dia condong ke depan. Berbisik, tetapi semua meja mendengar.
“Tahu tidak yang paling romantis? Sehari sebelum beliau ditangkap KPK, tengah malam beliau ke rumahku. Pamitan.”
_*_
Pamit Tengah Malam – Versi Lina
_Jam 00.47. Hujan gerimis._
Nada dering khusus ‘special one’ dari HP berbunyi tengah malam.
“Halo Mas, ada apa malam-malam telepon?” kata Lina di telepon.
“Lin. Aku sudah di depan rumahmu.”
“Loh!” Seketika Lina bangun dari tempat tidur.
Dia membuka pintu. Pak Darman berdiri. Jasnya basah. Wajahnya lelah.
“Lin…”
“Mas? Kok malam-malam?”
Pak Darman masuk. Duduk di sofa. Kepalanya dipegang.
“Besok Mas ditangkap. Dan teman-teman. Kasus dana bansos.”
Lina langsung menangis. “Jangan, Mas. Kok bisa? Kenapa?” Air matanya mengalir deras.
Pak Darman mengusap kepala Lina. “Mas salah. Tetapi Mas sayang sama kamu. Jaga diri baik-baik ya. Kalau Mas keluar nanti, kita mulai lagi.”
Dia pamit. Memeluk erat. Mencium kening. Lalu pergi dengan mobil tanpa plat.
Hujan menutup suara mesinnya.
Dia pergi ditelan hujan.
_*_
Pergi – Versi Aku
Aku pulang malam itu dan tidak bisa tidur.
Jadi… yang dipamitkan tengah malam itu bukan aku.
Yang bertengkar dengan keluarga bukan dia.
Yang pindah mengontrak bukan dia.
Yang anaknya ditanya “ibumu selingkuh ya” bukan anaknya.
Politik memang kotor.
Tetapi yang lebih kotor: ada orang yang bangga menjadi “salah satu”.
Sementara ada orang lain yang harus membayar harga lebih mahal karena menjadi “kambing hitam”.
Aku menyeka mata. Anakku sudah tidur. Suamiku yang sekarang, Pak Joko, bertanya dari dapur: “Kenapa, Bu?”
“Tidak apa-apa, Pak. Hanya teringat 10 tahun lalu.”
“Sudahlah. Jangan dipikirkan.”
Besok aku harus bangun pagi. Ada kerja bakti pilah sampah. Program “RT Berkelas”.
Hidup harus terus berjalan. Walaupun nama ini pernah menjadi bahan bakar politik. Dan cinta gelap itu pernah menjadi konspirasi.
_*_
Flashback: Arisan dan Awal Fitnah
Arisan PKK waktu itu di rumah Bu Sumi.
Aku datang paling awal. Membawa 2 kotak kue lapis dan teh hangat. Anakku Dita kududukkan di pangkuan.
“Bu Nia rajin banget,” kata Bu Sumi. “Muda, cantik, suami PNS pula.”
Aku hanya tersenyum. “Biasa, Bu. Biar kompak.”
Rapat dimulai. Dana sosial bulan itu kurang 5 juta. Kami akan bedah rumah Pak Karto.
Pak Darman datang. Sebagai anggota dewan yang “membina”. Jasnya rapi, wangi parfum mahal.
“Tenang, ibu-ibu,” katanya. “Nanti saya carikan dana CSR.”
Rapat selesai. Aku yang mencatat.
“Bu Nia, pinjam pulpen,” kata Pak Darman.
Aku memberikannya. Tangan kami bersentuhan sepersekian detik.
Dua minggu kemudian, foto itu beredar.
Foto aku menyerahkan map kepada Pak Darman di kantor kelurahan. Entah siapa yang memotret. Caption-nya: _”Bendahara Arisan dan Oknum Dewan. Sudah 3 bulan.”_
Bohong.
Itu foto saat aku menyetor proposal bedah rumah.
Tetapi Bu Sumi yang pertama berkomentar di grup WA:
“Ya Allah, pantesan tiap rapat Pak Dewan selalu bertanya ‘Bu Nia mana?’.”
Fitnah itu seperti bola salju.
Dari “pinjam pulpen” menjadi “sering ke kantor”.
Dari “sering ke kantor” menjadi “menginap di hotel”.
Suamiku, Dimas, PNS biasa. Gajinya pas-pasan. Dia percaya kepadaku. Awalnya.
Sampai ibunya datang. “Mas, malu. Tetangga pada membicarakan.”
Malam itu Dimas memukul meja. “Kamu mengaku saja, Nia! Kalau benar kita cerai baik-baik!”
Aku menangis sejadi-jadinya. “Demi Allah, Mas, aku tidak kenal dekat dengan beliau.”
Dimas sudah terlanjur percaya pada screenshot yang dikirim Bu Sumi. Dan tetangga ramai membicarakanku. Nia.
_*_
Rumah Tangga yang Runtuh
Aku diusir.
Membawa Dita umur 2 tahun dan 1 koper. Jam 11 malam. Hujan.
“Kalau kamu tidak selingkuh, kenapa namamu yang disebut?” kata mertuaku.
Aku tidak bisa menjawab. Karena aku juga tidak tahu.
Mengontrak di Petukangan. Kamar 3×3. Kipas anginnya berisik.
Siang bekerja sebagai admin toko baju. Malam menjahit baju pesanan.
Dimas menggugat cerai 4 bulan kemudian. Hak asuh jatuh kepadanya.
“Anak butuh bapak,” kata hakim.
Aku hanya bisa memeluk Dita terakhir kali. “Ibu kerja dulu ya, Nak. Nanti jemput.”
Tetapi aku tidak pernah diizinkan menjemput lagi.
Dua tahun aku tidak bertemu anakku.
Pak Darman? Diam. Jabatannya aman. Lina? Masih mengunggah foto di Bali.
Dan aku? Menjadi bahan gosip di arisan yang dulu aku ikuti.
_*_
Berita Penangkapan
Tanggal 10 November 2016. Tepat Hari Pahlawan. TV tidak menayangkan upacara. Tetapi penayangan beberapa anggota dewan ditangkap KPK.
TV di warung menayangkan breaking news:
_”OTT KPK. 5 Anggota Dewan Ditangkap Termasuk Pak Darman.”_
Aku yang sedang menyetrika, tanganku berhenti.
Di layar, Pak Darman keluar dari mobil tahanan. Tangannya diborgol. Wajahnya menunduk.
Lina menonton juga. Katanya.
Karena tengah malam itu dia didatangi.
Aku? Aku hanya bisa duduk di lantai.
10 tahun aku digosipkan sebagai “selingkuhan Pak Dewan”.
Padahal aku tidak pernah sedekat itu.
Padahal yang dipamitkan tengah malam, yang diberi gelang, yang diajak ke Bali… bukan aku.
Aku tertawa. Tertawa kecil.
Politik itu kejam. Tetapi manusia yang memainkan politik, lebih kejam lagi.
_*_
RT Berkelas dan Memaafkan
Hari ini kerja bakti.
“RT Berkelas”. Pilah sampah organik, anorganik, residu. Anak-anak membawa poster. Ibu-ibu membawa sarung tangan.
Aku, Nia, sekarang Bu RT.
Bukan Nia yang bendahara arisan lagi. Bukan Nia yang menjadi bahan gosip lagi.
“Bu RT semangat!” teriak anak-anak.
Aku tersenyum. Menyapu daun kering sambil berpikir: 10 tahun lalu aku tidak pernah membayangkan akan berdiri di sini lagi.
Lina datang juga. Mengenakan daster mahal. Gelang emasnya masih ada.
“Bu RT, sampahku sudah dipilah lho,” katanya bangga.
“Iya, Mbak Lina, terima kasih,” jawabku datar.
Kami tidak pernah membahas Pak Darman lagi setelah malam di warung kopi itu.
Tetapi malam ini, setelah semua pulang, Lina menahanku di pos ronda.
“Bu Nia… dulu aku minta maaf ya.”
Aku berhenti. “Minta maaf kenapa?”
“Soal Pak Dewan. Soal fitnah itu. Aku tahu yang menyebar foto itu dari HP aku. Tetapi aku takut. Jadi aku diam.”
Angin malam berembus. Lampu pos ronda berkedip.
10 tahun. Baru sekarang dia bicara.
“Dulu saat Pak Dewan pamit tengah malam itu,” Lina melanjutkan, suaranya gemetar. “Dia bilang begini: ‘Lin, kalau ada apa-apa, jangan sebut nama Nia. Dia tidak tahu apa-apa.'”
Tanganku dingin.
“Lalu kenapa kamu diam?” tanyaku pelan.
“Aku takut ikut terseret, Bu. Aku… aku hanya salah satu dari banyak. Aku malu.”
Aku menatap Lina. Perempuan yang 10 tahun lalu tertawa bangga bercerita mendapat gelang.
Sekarang matanya sembab.
“Aku sudah tidak benci, Lin,” kataku akhirnya. “Benci itu melelahkan. Aku sudah lelah selama 10 tahun.”
Lina menangis. “Terima kasih, Bu…”
Aku berjalan pulang. Rumahku kecil. Catnya pudar. Tetapi lampunya menyala.
Pak Joko sedang membuat kopi. “Bagaimana kerja baktinya, Bu?”
“Lancar, Pak.”
Di meja ada foto. Foto aku dan Dita.
Dita sekarang sudah SMA. Dua bulan lalu dia menghubungiku. “Ma, aku kangen.”
Minggu depan dia akan main ke sini.
Aku duduk. Menyeruput kopi.
Pak Darman sudah keluar. Katanya mendapat remisi.
Lina sudah bersama orang lain. Pak Darman ditinggal menikah lagi.
Tetapi Lina masih mengunggah tas baru. Tas lama. Yang katanya dibelikan Pak Dewan dari Singapura.
Dan aku? Aku sudah tidak menjadi korban lagi.
Politik bisa mengorbankan siapa saja.
Cinta juga bisa mempolitisasi siapa saja.
Ada yang mendapat pamit tengah malam. Ada yang mendapat fitnah siang bolong.
Tetapi hidup harus berjalan.
Besok ada rapat warga lagi. Ada sampah yang harus dipilah. Ada anak yang harus dijemput.
Dan namaku… namaku sekarang bukan “selingkuhan Pak Dewan”. Namaku Bu RT.
_*_
SELESAI
_Posted: http://sarinahnews.com_
_Malang, 9 Agustus 2026_
_`**_ Cerita ini adalah karya fiksi. Nama tokoh dan tempat telah disamarkan.`_





