Filsafat Politik
KEBERADAAN ONTOLOGIS ATAS BASIS MATERIAL
Joko Sukmono
– Yang bertahan bukanlah mereka yang paling kuat secara administratif, melainkan mereka yang paling mampu beradaptasi terhadap arah gerak sejarah.
Di dalam pembacaannya, Dechiperisme menunjukkan bahwa lintasan peristiwa historis tidak pernah sepenuhnya dapat dibaca oleh manusia.
Sejarah memang selalu menampakkan dirinya melalui berbagai peristiwa yang konkret, namun apa yang benar-benar menentukan arah sejarah justru sering tersembunyi di balik lapisan-lapisan makna, simbol, kepentingan, serta konstruksi sosial yang dibangun secara sistematis.
Oleh karena itu, manusia pada umumnya hanya membaca permukaan sejarah, sementara substansi terdalamnya tetap tersembunyi dan tidak tersentuh. Hambatan tersebut tidak hanya berupa keterbatasan intelektual, tetapi juga berupa halangan dan ancaman esensial yang secara terus-menerus menghalangi manusia memahami realitas yang sedang bergerak.
Dalam konstruksi Dechiperisme keadaan demikian disebut sebagai disesensialisasi politis, yaitu suatu keadaan ketika realitas sosial tidak pernah benar-benar dipahami, namun justru terus diproduksi menjadi simbol-simbol historis yang dipuja dan diwariskan tanpa pernah lagi diperiksa keberadaan ontologisnya.
Oleh sebab itu, pembacaan Dechiperisme tidak diarahkan kepada apa yang telah tampak, melainkan kepada apa yang tidak terbaca, apa yang sengaja dibuat tidak terbaca, serta apa yang dibacakan secara manipulatif demi mempertahankan kepentingan-kepentingan yang telah membatu menjadi tradisi.
Pembacaan terhadap keberadaan ontologis Basis Material Peradaban Manusia, menurut Dechiperisme, tidak mungkin dilakukan dengan menggunakan metodologi konvensional yang selama ini dipergunakan oleh berbagai institusi akademik, politik, maupun kebudayaan.
Pembacaan demikian hanya mungkin dilakukan melalui metodologi non-konstruksialisasi struktural yang menjadi dasar kerja Dechiperisme sendiri.
Metodologi ini tidak berangkat dari dokumen-dokumen resmi, legitimasi kekuasaan, ataupun narasi besar yang diwariskan sejarah, melainkan berangkat dari fakta-fakta historis yang buram, retak, terpecah, bahkan sengaja disembunyikan oleh berbagai kepentingan politik dan ideologis.
Justru pada wilayah yang kabur itulah Dechiperisme menemukan resonansi ontologis yang sesungguhnya. Dalam konstruksinya keadaan tersebut disebut sebagai diskontinuitas substansial, yaitu terputusnya kesinambungan antara fakta historis dengan narasi resmi yang selama ini dianggap sebagai sejarah.
Dengan demikian, pembacaan Dechiperisme bukanlah usaha memperkuat sejarah resmi, melainkan membedah lapisan-lapisan yang selama ini disembunyikan oleh sejarah itu sendiri.
Lebih lanjut, Dechiperisme menunjukkan bahwa dunia sosial politik abad ke-21 ditandai oleh tekanan historis yang semakin meningkat hingga mencapai titik ultimasi. Tekanan tersebut tidak lagi bersifat lokal maupun regional, melainkan telah menjadi tekanan global yang menembus seluruh struktur kehidupan manusia.
Dalam konstruksi Dechiperisme keadaan demikian disebut sebagai inkonektisitas sistematika, yaitu suatu keadaan ketika sistem sosial politik telah kehilangan hubungan organiknya dengan Basis Material Peradaban Manusia.
Sistem masih bekerja, institusi masih berdiri, hukum masih diproduksi, organisasi masih menjalankan fungsi administratifnya, namun seluruh mekanisme tersebut telah kehilangan keterhubungannya dengan denyut kehidupan manusia yang konkret.
Ketika hubungan itu terputus, saluran historis tidak lagi mengikuti jalur institusional lama, melainkan mencari jalannya sendiri melalui berbagai terobosan yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya.
Oleh karena itu, percepatan sejarah yang sedang berlangsung hari ini bukan sekadar perubahan politik biasa, melainkan pembangunan jembatan eksistensial politik otentik yang menghancurkan seluruh bayang-bayang, ilusi, dan konstruksi semu yang selama berabad-abad melingkari serta menjerat leher Peradaban Manusia.
Kemudian daripada itu, Dechiperisme menyatakan bahwa tali kekang sosial yang selama ini disebut sebagai moral politik absurd sesungguhnya telah mulai terbakar oleh api sejarah.
Pelabuhan-pelabuhan sosial yang selama ini diperlakukan sebagai tujuan akhir perjalanan peradaban satu demi satu kehilangan maknanya. Kapal-kapal kehidupan yang dibangun di atas sistem lama tidak lagi dipandang layak untuk direnovasi ataupun dipertahankan, melainkan harus ditenggelamkan hingga ke dasar samudra sejarah agar tidak lagi menjadi beban bagi perjalanan manusia berikutnya.
Dalam pembacaan Dechiperisme, tindakan demikian bukanlah penghancuran yang bersifat destruktif semata, melainkan tindakan produktif yang membuka ruang bagi lahirnya kemungkinan historis baru.
Bahkan bukan hanya bangunan sosialnya yang ditinggalkan, tetapi juga seluruh dokumentasi historis yang menopang legitimasi keberadaannya perlahan kehilangan daya ontologisnya sehingga tidak lagi layak dipelihara sebagai pusat orientasi kehidupan manusia.
Inilah tindakan produktif yang efektif dari instruksionalisasi politik otentik, yaitu keberanian sejarah untuk meninggalkan seluruh perangkat yang telah kehilangan fungsi eksistensialnya.
Lebih dalam lagi, Dechiperisme menunjukkan bahwa basis material peradaban manusia bukanlah suatu sistem global yang telah membatu, bukan pula sekumpulan institusi yang dipertahankan hanya karena usia historisnya yang panjang.
Basis material peradaban manusia adalah dorongan hidup yang terus bergerak, suatu energi historis yang memungkinkan manusia melanjutkan perjalanan transhistorisnya dari satu zaman menuju zaman berikutnya.
Oleh karena itu, ia tidak tunduk kepada rezim yang telah kehilangan daya hidupnya, tidak pula menghormati sistem sosial yang telah membusuk hanya karena pernah berjasa pada suatu masa. Yang dihormatinya hanyalah kemampuan untuk terus hidup, berubah, dan menyesuaikan diri dengan realitas konkret yang sedang berlangsung.
Dalam konstruksi Dechiperisme keadaan ini disebut sebagai diskontruksialisasi struktural korelatif esensial, yakni penghancuran terhadap konsepsi-konsepsi yang telah membeku dan kehilangan fungsi ontologisnya meskipun secara administratif masih dipelihara, dirawat, bahkan dipropagandakan sebagai kebenaran yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Atas dasar itu pula Dechiperisme membacakan basis material peradaban manusia sebagai resonansi korelatif esensial antara sistem sosial politik global dengan institusionalisasi instruksional politik otentik.
Hubungan tersebut tidak bersifat mekanis, melainkan bersifat eksistensial. Selama keduanya masih saling menopang, kehidupan sosial akan terus bergerak mengikuti irama sejarah.
Namun ketika resonansi itu terputus, seluruh struktur global kehilangan orientasi ontologisnya. Menurut Dechiperisme, keadaan itulah yang sedang berlangsung pada abad ke-21. Otoritas global telah mencapai tingkat kejenuhan eksistensial politik yang akut.
Hampir seluruh tindakan produktif politik dunia berhenti pada negosiasi yang tidak pernah selesai, perundingan yang tidak pernah melahirkan keputusan fundamental, serta kompromi yang hanya memperpanjang usia sistem yang telah kehilangan legitimasi historisnya.
Dalam konstruksi Dechiperisme situasi demikian dinamakan kebuntuan negosiasi kronis, yaitu suatu keadaan ketika negosiasi tidak lagi menjadi jalan keluar, melainkan menjadi mekanisme untuk mempertahankan kebuntuan itu sendiri.
Contoh yang paling nyata, menurut pembacaan Dechiperisme, adalah kawasan Timur Tengah yang selama puluhan tahun menjadi pusat berbagai negosiasi internasional namun tidak pernah benar-benar mencapai penyelesaian yang definitif.
Harapan akan masa depan terus diproduksi melalui konferensi, memorandum, resolusi, dan berbagai forum diplomatik, sementara realitas konkret di lapangan justru bergerak ke arah yang berlawanan. Konflik meluas, ketidakpercayaan meningkat, institusi kehilangan wibawa, dan masyarakat hidup dalam ketidakpastian yang berkepanjangan.
Bagi Dechiperisme, keadaan ini bukan semata-mata kegagalan diplomasi, melainkan kegagalan otoritas politik global membangun jembatan eksistensial politik otentik yang mampu menjaga kesinambungan basis material peradaban manusia.
Yang dipelihara hanyalah prosedur, sementara kehidupan yang seharusnya menjadi tujuan dari prosedur tersebut perlahan-lahan ditinggalkan.
Akibat dari keterputusan tersebut, konektivitas antara tuntutan sejarah dengan konkretitas basis material peradaban manusia menjadi runtuh.
Sistem sosial kehilangan kemampuannya untuk merespons perubahan, sedangkan perubahan sendiri tidak lagi menunggu kesiapan sistem.
Saluran historis kemudian mencari jalannya sendiri, menerobos, menghantam, bahkan menghancurkan setiap bentuk kehidupan sosial yang telah menjadi ahistoris.
Dalam pembacaan Dechiperisme, sejarah tidak pernah meminta izin kepada institusi untuk bergerak. Ia tidak menunggu konsensus, tidak pula menunggu legitimasi politik. Ketika saluran historis telah menemukan jalannya, maka seluruh bangunan yang menghalangi pergerakannya akan tersapu oleh hukum rasional perubahan.
Yang bertahan bukanlah mereka yang paling kuat secara administratif, melainkan mereka yang paling mampu beradaptasi terhadap arah gerak sejarah.
Oleh karena itu Dechiperisme menerangkan bahwa tuntutan sejarah tidak pernah berpihak kepada mereka yang terus-menerus meneriakkan slogan-slogan kemanusiaan, keadilan, perdamaian, kesetaraan, ataupun kesejahteraan apabila seluruh konsep tersebut hanya berhenti sebagai narasi moral tanpa keberadaan konkret di dalam sejarah.
Dalam pembacaan Dechiperisme, slogan-slogan tersebut justru sering kali berubah menjadi pelacuran politik yang paling besar, sebab esensi yang terus dipuja itu tidak pernah benar-benar hadir sebagai realitas ontologis.
Ia hidup sebagai janji, sebagai legitimasi, sebagai simbol, dan sebagai instrumen politik, tetapi tidak pernah menjadi pengalaman eksistensial yang sungguh-sungguh dialami manusia.
Karena itulah hukum rasional perubahan tidak mungkin dapat dihalangi oleh institusi, ideologi, ataupun narasi yang menolak perubahan.
Sejarah hanya mengenal satu ukuran, yakni kemampuan suatu peradaban mempertahankan daya hidupnya melalui proses koadaptasi, komodifikasi, dan koeksistensi terhadap seluruh bentuk kehidupan baru yang terus bermunculan. Di situlah, menurut Dechiperisme, letak basis ontologis eksistensial otentik dari setiap peradaban.
Pembacaan Dechiperisme terhadap keberadaan ontologis basis material peradaban manusia bukanlah pembacaan mengenai kebenaran maupun kebaikan sebagaimana dipahami dalam tradisi filsafat klasik ataupun moralitas keagamaan.
Pembacaan ini adalah pembacaan substansial terhadap dinamika kehidupan itu sendiri. Kebenaran dan kebaikan, apabila diperlakukan sebagai entitas yang tetap, mutlak, dan berada di luar sejarah, justru berubah menjadi ilusi terbesar dalam perjalanan umat manusia.
Dalam pandangan Dechiperisme, keduanya tidak pernah sungguh-sungguh hadir sebagai realitas konkret, melainkan terus diproduksi sebagai legitimasi bagi berbagai bentuk kekuasaan.
Oleh sebab itu Dechiperisme menyebutnya sebagai kejahatan konseptual terbesar dalam sejarah umat manusia, yakni ketika konsep-konsep yang tidak pernah benar-benar hidup diperlakukan seolah-olah lebih nyata daripada kehidupan manusia itu sendiri.
Lebih jauh lagi, Dechiperisme menunjukkan bahwa runtuhnya setiap tatanan peradaban lama selalu berawal dari kegagalannya menjalankan fungsi sebagai Basis Material Peradaban Manusia pada zamannya sendiri.
Ketika suatu peradaban tidak lagi mampu menopang kehidupan yang sedang berubah, ia kehilangan daya ontologisnya, sekalipun simbol-simbolnya masih berdiri megah dan institusinya masih berfungsi secara administratif.
Namun yang lebih ironis adalah ketika masih terdapat otoritas religius maupun otoritas politik yang berusaha menyeret peradaban lama tersebut kembali ke masa kini, seolah-olah kegagalan historis dapat dijadikan model bagi kehidupan yang telah bergerak jauh meninggalkannya.
Dalam pembacaan Dechiperisme, usaha demikian hanyalah menghadirkan “hantu peradaban lama”, yaitu bayang-bayang masa lalu yang terus menghantui kesadaran kolektif manusia tanpa lagi memiliki kemampuan menjawab tantangan zaman. Masa lalu dipertahankan bukan karena masih hidup, melainkan karena telah disakralkan.
Karena itu Dechiperisme mengingatkan bahwa hari ini adalah sebuah era modern yang tidak pernah dapat dibayangkan oleh zaman sebelumnya. Dunia telah memasuki ruang historis yang sama sekali baru, dengan bentuk kehidupan, teknologi, jaringan sosial, serta dinamika politik yang tidak lagi tunduk kepada pola lama.
Memahami dunia baru dengan menggunakan perangkat konseptual yang telah kehilangan daya hidupnya hanya akan memperpanjang krisis yang sedang berlangsung.
Oleh sebab itu, abad ke-21 dibacakan oleh Dechiperisme sebagai era Eksistensial Politik Otentik konkret, yakni suatu zaman ketika keberlangsungan Peradaban Manusia hanya dapat ditopang oleh konstruksi ontologis yang benar-benar hidup, bergerak bersama sejarah, dan sanggup membangun kembali Basis Material Peradaban Manusia sesuai dengan tuntutan hukum rasional perubahan.
Di sanalah, menurut Dechiperisme, peradaban menemukan kembali kemungkinan ontologisnya untuk terus menjadi, bukan sekadar mempertahankan apa yang telah lama ada. ***)
Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 4 Juli 2026





