Sifat Dasar Dechiperisme: Penghancuran Ilusi dan Kerja Politik Otentik

Sifat Dasar Dechiperisme: Penghancuran Ilusi dan Kerja Politik Otentik

Filsafat Politik

Sifat Dasar Dechiperisme: Penghancuran Ilusi dan Kerja Politik Otentik
Oleh Joko Sukmono

Manusia merasa telah memahami kehidupannya, padahal sesungguhnya ia hanya memahami bayang-bayang dari kehidupan itu sendiri.

Keagungan Politik Otentik bukan terletak pada kemampuannya membangun istana-istana kekuasaan, melainkan pada keberaniannya menghancurkan penyakit sosial politik yang selama berabad-abad dipelihara sebagai kebajikan.

Politik Otentik adalah tindakan eksistensial yang tidak mengenal keraguan ketika berhadapan dengan kebusukan yang telah mengeras menjadi tradisi. Ia tidak tunduk kepada mitos sejarah, tidak berlutut kepada simbol-simbol yang kehilangan daya hidupnya, dan tidak bersedia memelihara bangkai konsepsi yang telah lama mati.

Dalam pembacaan Dechiperisme, penyakit sosial politik itu menjelma dalam berbagai bentuk yang selama ini dipuja sebagai nilai luhur, yaitu kemanusiaan, keadilan, kebenaran, kesejahteraan, dan stabilisasi.

Kelimanya telah berubah menjadi pelacur-pelacur politik yang diperdagangkan oleh kekuasaan, digunakan sebagai alat legitimasi, dan dipertontonkan sebagai topeng moral untuk menutupi kebrutalan sejarah.

Basis material peradaban manusia hari ini sesungguhnya terletak pada keterhubungannya dengan realitas yang konkret.

Keterhubungan dengan waktu, namun bukan waktu yang ilusi. Keterhubungan dengan ruang, namun bukan ruang yang ilusi. Keterhubungan dengan kehidupan sosial politik, namun bukan sosial politik yang dibangun di atas kepalsuan dan manipulasi. Keterhubungan dengan kebudayaan, namun bukan kebudayaan yang membatu menjadi lembaga-lembaga yang kehilangan ruh kehidupannya.

Dalam konstruksi Dechiperisme, keadaan seperti itu disebut sebagai situasi sosial politik ontologis eksistensial yang otentik, yakni suatu keadaan ketika manusia hadir secara utuh di dalam sejarah tanpa dikungkung oleh sekat-sekat historisitas regional, primordialisme, maupun identitas-identitas sempit yang menghalangi perjumpaannya dengan realitas konkret.

Namun selama ratusan tahun umat manusia justru memelihara berbagai konvensi yang dianggap sebagai substansi kehidupan. Keadilan dipuja. Kemanusiaan diagungkan. Kebenaran disakralkan. Kesejahteraan dijadikan tujuan tertinggi. Stabilitas dipertahankan dengan segala cara.

Dalam pembacaan Dechiperisme, semua itu tidak lebih daripada resonansi magnetik ilusi substantif, yakni keberadaan esensial yang diam, membatu, dan hidup hanya di dalam kesadaran kolektif manusia. Ia disembah ramai-ramai, dibela mati-matian, namun tidak pernah benar-benar hadir secara konkret di dalam kehidupan sosial.

Oleh karena itu, menurut Dechiperisme, momentum sejarah hari ini adalah momentum penghancuran terhadap seluruh ilusi tersebut agar daya hidup peradaban manusia dapat kembali dibebaskan.

Kerja Politik Otentik dengan demikian bukanlah kerja administrasi, bukan pula kerja prosedural yang sibuk mengelola gejala-gejala permukaan. Kerja Politik Otentik adalah penghancuran terhadap segala bentuk ilusi yang menyelimuti kehidupan sosial manusia.

Ilusi itu dapat tampil dalam wajah religius humanistik maupun dalam wajah mitologis yang humanistik. Keduanya sama-sama menampilkan epos-epos besar yang mistis, narasi-narasi agung yang diwariskan dari generasi ke generasi, dan melalui mekanisme hegemoni yang halus meresap ke dalam kesadaran manusia.

Berabad-abad lamanya manusia hidup di bawah bayang-bayang cerita besar yang dianggap suci, padahal cerita-cerita itu telah berubah menjadi instrumen kekuasaan yang mengendalikan cara berpikirnya.

Inilah tantangan utama Dechiperisme. Bukan sekadar mengkritik sistem, melainkan meruntuhkan cara berpikir ilusi, halusinatif, dan takhayul yang menopang sistem tersebut.

Dalam bahasa Dechiperisme, tindakan ini dinamakan Disrasionalisasi Esensial, yaitu penghancuran terhadap seluruh bentuk kesadaran yang menghalangi manusia untuk berhadapan langsung dengan realitas konkret kehidupannya.

Lebih jauh lagi Dechiperisme menunjukkan bahwa otoritas religius maupun otoritas kebudayaan sering kali terjebak oleh substansi yang absurd. Mereka menganggap dirinya menjaga peradaban, padahal sesungguhnya mereka sedang memelihara produk konseptual yang mengasingkan dirinya sendiri.

Keadilan direduksi menjadi persoalan legalitas. Kemanusiaan direduksi menjadi rasa empati. Kesejahteraan direduksi menjadi sekadar bebas dari kemiskinan. Seluruh konsep besar itu kehilangan kedalaman ontologisnya dan berubah menjadi slogan-slogan moral yang diperdagangkan di pasar politik.

Dalam konstruksi Dechiperisme keadaan tersebut disebut sebagai Dissubstansial Esensial Ontologis Eksistensial, yakni sikap mental yang berhenti pada batas-batas sempit pemaknaan sehingga menjerumuskan manusia ke dalam kesadaran yang dangkal.

Manusia merasa telah memahami kehidupannya, padahal sesungguhnya ia hanya memahami bayang-bayang dari kehidupan itu sendiri.

Karena itu sifat dasar Dechiperisme adalah meniadakan cara berpikir ilusi. Sebab masyarakat yang hidup di bawah dominasi ilusi akan menjadi beban bagi dunia sosialnya sendiri.

Mereka membangun institusi yang tidak terhubung dengan kenyataan. Mereka menciptakan definisi-definisi yang tidak pernah menjadi konkret. Mereka memelihara konsep-konsep yang dianggap sakral meskipun tidak memiliki daya hidup historis.

Oleh sebab itu Dechiperisme menyerahkan seluruh konsepsi yang tidak terhubung dengan realitas kepada situasi batas sosial yang akut agar dieksekusi oleh Hukum Rasional Perubahan.

Negara yang absurd. Konstitusi yang tidak terhubung dengan kehidupan konkret rakyat. Pengorbanan yang diperalat oleh kepentingan kekuasaan. Pengabdian yang dijadikan instrumen manipulasi.

Semua itu oleh Dechiperisme disebut sebagai Disontologis Ephystimik, yaitu pandangan yang dianggap benar tetapi sesungguhnya hanya merupakan bentuk takhayul modern.

Pada akhirnya tuntutan sejarah tidak pernah berhenti pada memorandum, kesepakatan, deklarasi, ataupun momentum-momentum simbolik. Sejarah selalu menuntut keberadaan ontologis eksistensial yang otentik. Sejarah menuntut konsepsi yang benar-benar hidup dan menjadi.

Karena itu Dechiperisme memandang berbagai definisi yang selama ini diterima begitu saja sebagai sesuatu yang harus dicurigai.

Sebab definisi yang tampak netral sering kali menyembunyikan moral imperialistik represif. Ia membatasi kemungkinan-kemungkinan baru untuk hidup dan berkembang. Ia mengunci manusia di dalam satu bentuk pemahaman yang dianggap final.

Sementara itu kepesatan sains dan teknologi informasi yang ditopang oleh revolusi industri hanyalah bentuk kompensasi terhadap beratnya beban eksistensial manusia modern. Semakin maju teknologi, semakin besar pula kekosongan yang berusaha ditutupinya.

Dalam pembacaan Dechiperisme, moral bukanlah seperangkat aturan yang turun dari langit, melainkan keadaan kesadaran kolektif yang menciptakan ruang-ruang sosial sementara untuk mengurangi kecemasan hidup manusia.

Karena itu moral sering kali berfungsi sebagai candu sosial yang membuat manusia merasa nyaman tanpa harus memahami akar persoalannya.

Dan pada titik terdalamnya, sumber ilusi terbesar itu adalah keyakinan. Keyakinan yang tidak pernah diperiksa. Keyakinan yang tidak pernah diuji oleh realitas. Keyakinan yang hidup sebagai dogma dan diwariskan sebagai kebenaran mutlak.

Dalam konstruksi Dechiperisme, keadaan seperti itulah yang dinamakan sebagai Ahistoris, yakni suatu bentuk kesadaran yang terputus dari gerak sejarah, terputus dari realitas konkret, dan akhirnya hidup hanya sebagai bayang-bayang yang terus menghantui kehidupan sosial manusia.

Di situlah Dechiperisme menempatkan dirinya: bukan sebagai penjaga keyakinan, melainkan sebagai penghancur ilusi. Bukan sebagai pemelihara mitos, melainkan sebagai pembongkar segala bentuk kesadaran yang membatu.

Sebab hanya dengan penghancuran ilusi itulah, menurut Dechiperisme, manusia dapat kembali berhadapan dengan dirinya sendiri secara ontologis, eksistensial, konkret, dan otentik. ***)

Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 24 Juni 2026