KESADARAN KOLEKTIF

KESADARAN KOLEKTIF

Ruang Filsafat:

KESADARAN KOLEKTIF
Djoko Sukmono

Kesadaran kolektif hari ini kerap dipahami sebagai kesadaran yang terintegrasi secara harmonis. Ia tampil sebagai kesatuan kehendak, keselarasan nilai, dan kebersamaan tujuan.

Namun keharmonisan ini bukanlah hasil kesadaran bebas yang tumbuh dari pengalaman material bersama, melainkan hasil rekayasa sosial yang sistematis.

Kesadaran kolektif hari ini bukan lahir dari bawah, melainkan ditanamkan dari atas, melalui bahasa persatuan, narasi kebersamaan, dan imbauan moral agar “engkau” meleburkan diri ke dalam “kita”.

Di titik ini, kesadaran kolektif tidak lagi bersifat organik, melainkan koersif. Ia bekerja sebagai pemaksaan yang halus, sebagai ajakan yang tidak memberi ruang untuk menolak.

Menjadi bagian dari “kita” bukan pilihan, melainkan kewajiban moral. Siapa pun yang berada di luar definisi itu segera dicap sebagai ancaman, pengganggu harmoni, atau bahkan musuh kemanusiaan.

Dengan demikian, kesadaran kolektif hari ini berfungsi sebagai mekanisme disipliner yang menyusup ke dalam kesadaran individual.

Kesadaran kolektif hari ini adalah Roh Politik yang bergentayangan di dalam benak setiap manusia. Ia tidak hadir sebagai doktrin eksplisit, melainkan sebagai rasa bersalah, ketakutan sosial, dan dorongan untuk menyesuaikan diri.

Inilah bentuk kekuasaan yang paling efektif: kekuasaan yang tidak perlu memerintah secara langsung, karena subjeknya telah menginternalisasi perintah itu sendiri.

Dalam pengertian ini, kesadaran kolektif hari ini adalah bentuk konkret dari imperialisme yang tidak kentara. Ia tidak datang dengan senjata dan pendudukan fisik, tetapi dengan nilai-nilai universal yang tampak netral dan manusiawi.

Imperialisme ini bekerja melalui generalisasi—mengubah kepentingan historis kelompok dominan menjadi norma bersama yang tampak alamiah. Ketika generalisasi itu mengendap dan diwariskan, ia berubah menjadi budaya.

Kesadaran kolektif hari ini kemudian tampil sebagai nilai-nilai fundamental kemanusiaan itu sendiri. Kebebasan, keadilan, dan kesejahteraan dikemas sebagai tujuan bersama yang tak terbantahkan. Namun nilai-nilai tersebut dipisahkan dari basis materialnya.

Kebebasan dipahami tanpa pembebasan dari eksploitasi, keadilan tanpa penghapusan relasi produksi yang timpang, kesejahteraan tanpa kepemilikan atas alat-alat kehidupan. Di sinilah kesadaran kolektif berubah menjadi ilusi sosial yang disepakati bersama.

Ilusi ini tidak pasif. Ia aktif membentuk cara berpikir, cara merasa, dan cara bertindak. Kesadaran kolektif hari ini justru menjadi tragedi kemanusiaan itu sendiri, karena ia menghalangi manusia untuk mengenali sumber nyata penderitaannya.

Ketika krisis terjadi, kesadaran kolektif memicu berbagai protes, tetapi protes itu sering kali bergerak di permukaan, terjebak dalam simbol, slogan, dan tuntutan moral yang tidak menyentuh akar persoalan.

Lebih jauh, kesadaran kolektif hari ini adalah bentuk tirani mayoritas. Ia mengklaim legitimasi dari jumlah, bukan dari kebenaran material.

Mayoritas tidak lagi dipahami sebagai subjek historis yang berjuang, melainkan sebagai alat legitimasi untuk menekan minoritas, perbedaan, dan kritik. Atas nama “kepentingan bersama”, kekerasan simbolik dan material dilegalkan.

Dalam logika ini, kesadaran kolektif hari ini beroperasi sebagai proyek politik untuk menghasilkan manusia-manusia yang bermoralkan Budak.

Moral yang patuh, tunduk, dan menerima. Moral yang memandang penderitaan sebagai takdir dan ketimpangan sebagai konsekuensi alamiah.

Kesadaran semacam ini esensial bagi keberlangsungan sistem, karena ia menyediakan legitimasi psikologis bagi eksploitasi struktural.

Tidak berhenti di situ, kesadaran kolektif hari ini juga merupakan prasyarat bagi paradigma pembunuhan massal.

Bukan semata pembunuhan fisik, tetapi pembunuhan sosial: pemusnahan identitas, penghapusan hak hidup layak, dan normalisasi kematian yang lambat.

Ketika kelompok tertentu telah didefinisikan sebagai “di luar kita”, maka kehancurannya dapat diterima sebagai sesuatu yang perlu, bahkan benar.

Namun kontradiksi tidak pernah sepenuhnya bisa diredam. Kesadaran kolektif hari ini juga mengandung potensi ledakan. Ia adalah gunung berapi revolusi sosial yang sewaktu-waktu meletus.

Akumulasi ketimpangan, alienasi, dan kebohongan ideologis pada akhirnya menciptakan tekanan yang tak tertahankan.

Akan tetapi, tanpa kesadaran kelas yang jernih, letusan itu mudah dibelokkan, dipadamkan, atau dimanfaatkan kembali oleh kekuatan dominan.

Karena itu, kesadaran kolektif hari ini bukanlah kesadaran untuk memanusiakan manusia.

Ia justru bekerja melalui tindakan-tindakan provokatif yang dijalankan oleh agen-agen dogma yang telah menyebar ke setiap lorong kehidupan sosial: media, institusi, pendidikan, bahkan bahasa sehari-hari.

Atas nama stabilitas dan kemanusiaan, kekuasaan melakukan tindakan-tindakan biadab untuk melibas segala anasir yang dianggap kontra terhadap imperialis.

Kesadaran kolektif hari ini juga merupakan proses dekonstruksi sosial. Struktur lama dihancurkan, tetapi bukan untuk membebaskan manusia, melainkan untuk membangun tatanan baru yang lebih efisien bagi akumulasi kapital.

Distribusi benda-benda ekonomi berlangsung dengan logika pasca-pengiriman: manusia menerima dampak, utang, dan risiko setelah keputusan diambil tanpa keterlibatannya.

Proses ini tidak bisa dicegah dan tidak bisa dibatalkan. Kesadaran kolektif telah hadir dalam sejarah sebagai kekuatan yang signifikan dan tak terelakkan. Ia menentukan siapa yang hidup dan siapa yang binasa.

Yang menang hidup.
Yang kalah binasa.

Dan selama kesadaran kolektif itu tidak dibongkar hingga ke basis materialnya, ia akan terus hadir bukan sebagai jalan emansipasi, melainkan sebagai wajah lain dari penindasan yang telah belajar berbicara dengan bahasa kemanusiaan.

Kesadaran kolektif, menurut Émile Durkheim, menggambarkan keyakinan, norma, dan perasaan bersama yang menyatukan anggota masyarakat, membentuk solidaritas sosial melalui interaksi kolektif.

Ilustrasi sederhana sering divisualisasikan sebagai kerumunan orang dalam ritual keagamaan atau demonstrasi massa, di mana individu melebur menjadi satu kesadaran utuh yang lebih besar dari diri masing-masing. ***)