Ruang Filsafat: Filsafat Informasi dan Komunikasi

Carut Marut Era Informasi
Djoko Sukmono

Sang Narator berkata: di era informasi global, setiap informasi yang disinformatif pada akhirnya akan tersingkir oleh arus informasi baru yang lebih lengkap, lebih konkret, dan lebih mendekati kondisi objektif material.

Bukan karena manusia menjadi lebih bijak, melainkan karena struktur informasi itu sendiri bergerak mengikuti logika produksi, distribusi, dan konsumsi pengetahuan yang semakin cepat.

Informasi lama yang tidak lagi berfungsi sebagai alat baca realitas akan menjadi residu ideologis—dipertahankan bukan karena kebenarannya, tetapi karena kepentingan yang menopangnya.

Kerangka berpikir lama tidak runtuh karena dibantah secara rasional, melainkan karena ia tidak lagi operasional dalam membaca relasi-relasi sosial yang telah berubah.

Kerangka tersebut hanya sanggup menjelaskan dunia sampai pada batas sosial-historis zamannya sendiri.

Ketika basis material masyarakat berubah—cara produksi, relasi kerja, teknologi, dan pola komunikasi—maka seluruh bangunan kesadaran yang berdiri di atasnya ikut mengalami krisis. Di titik inilah keterbatasan kepastian rasional lama menjadi nyata.

Kesadaran trans-historis bukanlah kesadaran yang melayang di udara, melainkan kesadaran yang memahami bahwa sejarah bergerak melalui kontradiksi material.

Ia membebaskan rasio dari dogma metodologis lama dan memaksanya membangun perangkat analisis baru yang sesuai dengan kondisi objektif yang sedang menjadi.

Revolusi informasi bukan sekadar kemajuan teknologi komunikasi, tetapi transformasi radikal atas cara kesadaran sosial diproduksi, direproduksi, dan dikendalikan.

Fenomena-fenomena sosial dari era yang telah lapuk tidak mungkin terus dipaksakan sebagai sumber kebenaran. Ketika itu dilakukan, yang terjadi bukanlah pelestarian nilai, melainkan pemalsuan realitas.

Informasi menjadi disinformatif bukan karena salah secara faktual semata, tetapi karena ia menutupi relasi kuasa yang sesungguhnya bekerja di balik kehidupan sosial.

Revolusi informasi, dalam hal ini, bekerja seperti palu sejarah: menghantam bentuk-bentuk kesadaran palsu yang tidak lagi mampu menjelaskan penderitaan, ketimpangan, dan alienasi manusia modern.

Namun, revolusi ini tidak netral. Ia bergerak dalam medan pertarungan ideologi. Konektivitas sosial yang tampak membebaskan pada saat yang sama menjadi sarana baru bagi kapital untuk memperluas dominasinya.

Kesadaran sosial digerakkan, tetapi juga diarahkan. Yang tidak sesuai dengan kepentingan dominan akan dikaburkan, diremehkan, atau ditenggelamkan oleh banjir informasi yang tampak plural tetapi sesungguhnya seragam secara ideologis.

Tentang masa depan era informasi, tidak ada prediksi yang benar-benar pasti. Yang dapat dipastikan hanyalah bahwa perubahan sosial akan berlangsung semakin cepat, sementara kemampuan reflektif manusia justru tertinggal.

Di sinilah tragedi sosial kita bermula: kecepatan produksi informasi tidak diimbangi dengan kedalaman kesadaran kritis.

Dalam gambaran objektif psikologis masyarakat global hari ini, Sang Narator menjelajah ruang dan waktu, terlempar ke dalam situasi batas yang penuh paradoks.

Ia menyaksikan manusia yang hidup dalam limpahan informasi, tetapi miskin pemahaman; bebas berbicara, tetapi kehilangan makna; terhubung secara teknis, tetapi terasing secara eksistensial.

Dengan menerobos batas ruang dan waktu itu, Narator sampai pada posisi esensial: suatu sudut pandang yang berada di luar ilusi sejarah semu.

Dari sana, Narator melihat bahwa pertentangan pendapat yang tampak sebagai konflik nilai—antara agama dan kebudayaan, Tuhan dan manusia pilihan, ideologi, kebebasan, keadilan, kesejahteraan, sains, dan teknologi—sebenarnya berakar pada konflik material yang lebih dalam.

Nilai-nilai tersebut dijadikan simbol, sementara relasi produksi yang eksploitatif dibiarkan tak tersentuh. Pertengkaran ideologis menjadi tontonan, sementara struktur ketimpangan tetap bekerja dengan tenang.

Kegaduhan instruksional yang terus-menerus diproduksi oleh aparat ideologis—media, institusi, dan otoritas moral—menciptakan kekacauan dalam cara berpikir, berbicara, dan bersikap.

Skeptisisme tidak lagi menjadi alat kritik, melainkan berubah menjadi budaya pasrah yang ironis. Manusia ragu pada segalanya, kecuali pada sistem yang menindasnya.

Dunia di dalam ruang dan waktu itu terjebak dalam misteri yang seolah metafisis, padahal sepenuhnya historis dan material.

Keputusan-keputusan sosial dan politik diambil dalam kondisi kronis: ketakutan kehilangan, kecemasan akan masa depan, dan ketergantungan pada otoritas.

Dari situ lahir kebijakan-kebijakan paradoksal yang mengatasnamakan kemanusiaan tetapi justru memperdalam dehumanisasi.

Mayoritas manusia hidup bukan sebagai subjek sejarah, melainkan sebagai objek dari proses yang tidak mereka pahami dan tidak mereka kendalikan.

Pikiran yang terkooptasi oleh budaya dominan membentuk jiwa yang kronis.

Dalam interaksi sosial, manusia berada pada posisi esensial yang terasing: bekerja tanpa makna, berbicara tanpa tujuan, dan percaya pada narasi-narasi surga dan neraka yang berfungsi sebagai kompensasi ideologis atas penderitaan nyata di dunia.

Ilustrasi tentang surga dan neraka bukanlah cerita teologis, melainkan alegori sosial. Ketika seseorang seperti Joko Sukmono dinyatakan kafir dan diseret ke neraka oleh otoritas moral, itu mencerminkan mekanisme eksklusi ideologis.

Namun, ketika ia justru terlempar ke masa depan dan menikmati kenyamanan hidup, sementara para algojo moralnya terjerumus ke neraka, di situlah ironi sejarah bekerja.

Surga dan neraka tidak berada di alam transenden, melainkan di dalam struktur sosial itu sendiri. Siapa yang berkuasa atas produksi makna, dialah yang menentukan siapa yang “selamat” dan siapa yang “terkutuk”.

Di titik ini, Sang Narator memahami bahwa tragedi sosial kita hari ini bukanlah krisis nilai semata, melainkan krisis material yang disamarkan oleh banjir simbol dan narasi.

Revolusi informasi membuka peluang pembebasan, tetapi tanpa kesadaran kelas dan analisis material, ia justru menjadi instrumen baru bagi reproduksi dominasi.

Dan di sanalah pertanyaan terakhir menggantung: apakah manusia akan menggunakan revolusi informasi untuk membebaskan dirinya dari alienasi, atau justru menenggelamkan dirinya lebih dalam ke dalam ilusi yang diproduksi oleh sistem yang sama? ***)

Posted: sarinahnewa.com
Surabaya, 3 Januari 2026