Ruang Filafat:
TAHUN BARU
Djoko Sukmono
Tahun Baru bukan sekadar penanda pergantian angka dalam kalender, melainkan suatu perintah simbolik dari Yang Berkuasa—bukan semata-mata dalam arti metafisis, tetapi dalam arti historis-material—kepada seluruh anak manusia untuk tunduk pada Hukum Rasional Peralihan yang bekerja di dalam sejarah.
Ia adalah momen ketika kekuasaan, waktu, dan kesadaran sosial bertemu dalam satu titik ritual yang tampak sederhana, tetapi sesungguhnya sarat makna ideologis.
Pergantian tahun menandai bahwa kehidupan manusia tidak bergerak dalam kehendak bebas yang mutlak, melainkan selalu berada di bawah disiplin waktu yang telah dikonstruksikan secara sosial dan dilembagakan secara historis.
Tahun Baru terdiri dari dua kata: tahun dan baru. Kata “tahun” merujuk pada perjalanan waktu yang dihitung secara rinci dan sistematis—dari detik ke menit, dari menit ke jam, dari jam ke hari, dari hari ke minggu, dari minggu ke bulan, hingga dari bulan ke tahun.
Penghitungan ini tampak netral dan objektif, seolah-olah ia adalah hukum alam yang tidak dapat digugat. Namun justru di sinilah persoalan filosofis muncul: siapakah yang menciptakan sistem penghitungan waktu ini? Untuk apakah waktu diukur sedemikian rinci? Dan bagi kepentingan siapakah pengukuran itu diberlakukan?
Dalam kehidupan sosial sehari-hari, waktu telah lama menjadi medan polemik. Selama ratusan tahun, bahkan ribuan tahun, waktu tidak hanya menjadi alat orientasi hidup, tetapi juga sumber konflik.
Kalender yang berbeda melahirkan klaim-klaim kebenaran, superioritas budaya, dan legitimasi politik. Waktu yang seharusnya menjadi medium koordinasi sosial justru berubah menjadi simbol identitas dan alat dominasi.
Kalender-kalender sakral dibela mati-matian karena dilekatkan pada figur historis tertentu, yang kemudian diposisikan sebagai pusat makna sejarah.
Dari sinilah lahir ilusi bahwa satu sistem waktu tertentu dapat mewakili gerak kehidupan manusia secara universal, padahal ia adalah produk sejarah yang partikular.
Dalam perspektif Marxian, waktu yang dilembagakan melalui kalender bukanlah sesuatu yang netral. Ia adalah bagian dari superstruktur yang bertumpu pada basis material masyarakat.
Cara manusia memahami dan mengorganisasi waktu sangat ditentukan oleh mode produksi yang berlaku. Dalam masyarakat agraris, waktu bergerak mengikuti siklus alam.
Dalam masyarakat kapitalis, waktu dipreteli, dipercepat, dan dikomodifikasi. Waktu menjadi uang, waktu menjadi produktivitas, waktu menjadi disiplin.
Kalender, jam, dan tahun bukan sekadar alat ukur, tetapi instrumen kontrol.
Oleh karena itu, ketika Januari selalu kembali dalam kalender Masehi, dan Muharram selalu kembali dalam kalender Hijriah, pertanyaan kritis jarang diajukan.
Pengulangan ini diterima sebagai keniscayaan, bahkan disakralkan. Pertanyaan tentang “apa yang sebenarnya berubah?” dianggap tabu.
Padahal, yang berulang bukanlah waktu itu sendiri, melainkan struktur simbolik yang memaksa manusia untuk memaknai hidupnya dalam pola yang sama, berulang, dan dapat diprediksi.
Yang baru sering kali hanya pergantian angka, sementara relasi sosial tetap bertahan.
Yang benar-benar terhubung dengan waktu bukanlah alam, bukan pula kalender, melainkan manusia itu sendiri. Hanya manusia yang mengalami waktu sebagai beban, harapan, kecemasan, dan disiplin.
Entah waktu itu ilusi atau realitas objektif, faktanya ia telah menjadi barometer utama dalam mengatur kehidupan manusia. Negara, hukum, ekonomi, dan pendidikan semuanya tunduk pada waktu yang dilembagakan.
Sejarah pun ditulis berdasarkan penanggalan, seolah-olah peristiwa memperoleh makna hanya jika ditempatkan pada tanggal tertentu.
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 adalah contoh konkret bagaimana waktu dilekatkan pada makna historis.
Tanggal tersebut bukan sekadar hari dalam kalender, melainkan simbol lahirnya subjek sejarah baru: bangsa Indonesia.
Namun perlu dicatat, makna historis itu tidak lahir dari tanggalnya, melainkan dari relasi sosial dan perjuangan material yang mendahuluinya. Kalender hanya mencatat; ia tidak menciptakan sejarah.
Masuk ke kosa kata kedua: baru. Secara filosofis, “baru” adalah problem yang jauh lebih radikal daripada sekadar pergantian waktu.
Baru berarti keterputusan. Baru berarti negasi terhadap yang lama. Jika sesuatu masih bergantung pada yang lama, masih meminta legitimasi dari masa lalu, maka ia bukan baru, melainkan reproduksi yang diperhalus.
Dalam logika dialektika materialis, yang baru hanya lahir melalui konflik dengan yang lama, bukan melalui kompromi romantis.
Namun sejarah manusia menunjukkan kecenderungan untuk terus memelihara yang lama atas nama kesinambungan, stabilitas, dan tradisi.
Ada kewajiban moral semu untuk menghormati masa lalu, seolah-olah masa lalu selalu lebih bijaksana.
Padahal, banyak struktur lama justru mempertahankan ketidakadilan, eksploitasi, dan dominasi. Di sinilah ideologi bekerja: ia membuat yang lama tampak wajar dan yang baru tampak berbahaya.
Manusia yang baru bukanlah manusia yang sekadar hidup di tahun yang baru. Manusia yang baru adalah subjek yang mengalami transformasi kesadaran. Ia berpikir secara logis dan realistis, bukan mitologis.
Ia berbicara secara terstruktur dan sistematis, bukan reaktif dan emosional. Ia bertindak secara administratif dan strategis, bukan impulsif. Dalam bahasa Marx, manusia yang baru adalah manusia yang mulai menyadari posisi materialnya dalam struktur sosial dan berani bertindak untuk mengubahnya.
Lembaga yang benar-benar baru adalah lembaga yang berani memutus ketergantungan pada warisan lama yang menindas.
Ia tidak membawa beban romantisme sejarah. Ia tidak mencari legitimasi dari masa lalu. Ia bergerak maju karena didorong oleh kebutuhan material dan kesadaran historis, bukan nostalgia.
Apa yang terjadi pada yang lama bukan lagi urusan yang baru, karena sejarah tidak bergerak mundur untuk menunggu yang tertinggal.
Dari keseluruhan uraian ini, lahirlah definisi yang lebih otentik tentang Tahun Baru. Tahun Baru bukan sekadar perayaan, melainkan momen ideologis ketika manusia dihadapkan pada Hukum Rasional Peralihan sejarah. Ia adalah peringatan bahwa tidak ada struktur sosial yang abadi.
Namun pada saat yang sama, ia juga sering menjadi ilusi perubahan, karena yang berganti hanya angka, sementara relasi produksi, distribusi kekuasaan, dan struktur ketidakadilan tetap bertahan.
Oleh sebab itu, Tahun Baru boleh dirayakan atau tidak dirayakan. Tidak ada keharusan ontologis di dalamnya.
Hingga hari ini, tidak ada bukti konkret bahwa tanggal 1 Januari menghadirkan waktu yang benar-benar baru atau kehidupan sosial yang sungguh berubah. Yang menentukan apakah sesuatu itu baru bukanlah kalender, melainkan perubahan nyata dalam relasi sosial manusia.
Tanpa itu, Tahun Baru hanyalah ritual pengulangan yang rapi, disiplin, dan patuh—sebuah kepatuhan massal kepada waktu yang telah dijinakkan oleh kekuasaan sejarah. ***)
Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 1 Januari 2026
Note, sumber lain: https://www.ideapers.com/2019/06/memahami-tentang-waktu-dari-kacamata-filsafat.html?utm_source=perplexity&m=1





