Opini:
Pengumuman: Tender Neraka Telah Dimenangkan oleh Peradaban Djoko Sukmono
Sejak moral dijadikan komoditas dan dosa diberi nilai tukar, spesifikasi teknis Neraka pun direvisi total.
Api abadi yang dulu menyala sebagai simbol hukuman kini dianggap tidak efisien, tidak ramah pasar, dan tidak sesuai dengan selera zaman.
Maka neraka direnovasi: api diganti lampu LED, jerit diganti musik elektronik, siksaan diganti relaksasi. Neraka bertransformasi menjadi ruang hiburan, spa eksistensial, dan pusat distraksi tanpa henti.
Kabar ini menyebar cepat. Anak-anak manusia di muka bumi tidak lagi takut jatuh ke Neraka, sebab Neraka telah kehilangan daya etiknya.
Dosa tidak lagi dipahami sebagai krisis moral, melainkan sebagai tiket masuk ke ruang gaya hidup alternatif. Maka manusia berbondong-bondong berbuat salah bukan karena kejahatan, tetapi karena insentif.
Akibatnya fatal: Setan dan Iblis kehilangan fungsi historisnya. Tidak ada lagi yang perlu digoda, sebab manusia telah menggoda dirinya sendiri dengan jauh lebih efektif.
Neraka mengalami surplus penghuni tanpa surplus makna. Aparat metafisika pun terkena PHK massal.
Protes pun meletus. Setan dan Iblis mogok makan, bukan karena lapar, melainkan karena kehilangan peran ontologis.
Tuntutan mereka satu: meninggalkan dunia ini. Bukan karena kalah, tetapi karena dunia telah melampaui kemampuan mereka untuk merusaknya.
Godaan tidak lagi personal. Ia telah terotomatisasi.
Manusia kini memiliki alat yang jauh lebih ampuh daripada bisikan Iblis: rasionalitas tanpa etika, algoritma tanpa kebijaksanaan, dan kecerdasan buatan tanpa kesadaran. AI bukan pembunuh Setan—AI adalah pensiun dini bagi metafisika lama.
Surga masih dalam proses tender.
Masalahnya bukan tidak ada peminat—
melainkan tidak ada lagi yang percaya bahwa kebajikan perlu diperjuangkan tanpa insentif. ***)
Published: sarinahnews.com
Surabaya 26 November 2025





