Filsafat: (6)
IMPERIALISME
Djoko Sukmono
Bagian Enam
Selama Imperialis–Kapitalis dibiarkan tumbuh menjadi superbodi dunia yang menguasai seluruh sendi kehidupan manusia, maka jalan sejarah yang tersisa tidak lain adalah revolosi sosial.
MONOLOG
Rasio historis membaca bahwa Homo Economicus Kapitalis telah membangun gua-gua misterius—ruang-ruang tempat ia menimbun energi konkret yang diambil dari kerja manusia, sementara limbahnya dibagikan kepada mereka yang melawan.
Energi sisa itu diberi nama keberuntungan, seolah-olah kemustahilan dapat menjadi modal hidup bagi kaum tertindas.
PROLOG
Sabda Sang Monois:
Terimalah keberuntungan kecil ini untuk melanjutkan hidupmu, wahai anak-anak manusia. Kuberikan kepadamu lempengan baja melengkung, dan kulimpahkan pula baja setebal dua puluh sentimeter sepanjang kerjasamamu—seberat solidaritasmu.
Namun mereka gagal.
Selama ratusan tahun, kerja keras, solidaritas, dan kebersamaan hanya menghasilkan kesia-siaan.
Tragika ini menjadi realitas sosial konkret kaum pekerja—sebuah kondisi yang diwariskan turun-temurun sehingga bagi mereka, kerja dipahami sebagai proses menempa keutamaan, meski keutamaannya terus dikaburkan oleh kepentingan kelas yang berkuasa.
Kemenangan kapitalisme telah menempatkannya sebagai kekuatan tunggal. Dengan wajah barunya yang kian memesona, kapitalisme membelah diri menjadi neoliberalisme dan menghasilkan berbagai embrio ideologis:
– Demokrasi liberal
– Kapitalis birokrat
– Sosialis demokrat
– Oligarki
– Libertarian
Semua disokong oleh percepatan sains dan teknologi, serta dipertahankan melalui berbagai rejim yang mengatur hidup manusia:
– Rezim keuangan
– Rezim kesehatan
– Rezim agama
– Rezim kebudayaan
Inilah bentuk konkret Imperialis Kapitalis, yang kemudian mengklaim dirinya sebagai monoisme—sistem tunggal yang mengarahkan sejarah pada kemajuan, hukum rasional peralihan, dan hukum rasional perubahan.
Namun bagi mereka yang masih berpegang pada nilai fundamental kemanusiaan—keadilan, kebebasan, kesetaraan, persaudaraan—tidak ada pilihan lain selain melawan.
Pertanyaannya: kapan dan di mana para revolusioner itu mulai merapatkan barisan?
Selama Imperialis–Kapitalis tumbuh menjadi superbodi dunia, sejarah hanya menyediakan satu jalan keluar: Revolosi Sosial.
REVOLOSI SOSIAL
Revolosi Sosial adalah realitas sosial baru yang lahir dari gerak sejarah kehidupan manusia. Ia mencakup seluruh aspek—ideologi, politik, ekonomi, dan budaya.
Revolosi terjadi ketika seluruh dinamika sosial mencapai batas sosial, titik ketika tatanan lama menemui jalan buntu dan tidak dapat lagi menopang kehidupan bersama.
Revolosi Sosial adalah godam sejarah yang menghancurkan kebuntuan itu.
Segala sesuatu memiliki masa senja, demikian pula setiap sistem kekuasaan. Monoisme—yang menjadi wajah terakhir dari Imperialis Kapitalis—akhirnya dihantam oleh baja sejarah yang ditempa oleh kontradiksi internalnya sendiri.
Kemenangan tidak pernah terulang. Kemenangan besar hanya terjadi sekali bagi setiap tatanan yang runtuh.
Monoisme akhirnya terhapus oleh kekuatan imperialis-revolusioner yang mengubah dunia menuju tatanan baru yang disebut:
Peradaban Sosial Konkret.
Inilah era baru dalam sejarah manusia—Era Manusia Sosial Konkret—yang membawa watak imperialistik-revolusioner, bukan untuk menundukkan dunia, melainkan untuk menegakkan sebuah tatanan sosial yang dibangun atas dasar perubahan historis, rasionalitas, dan rekonstruksi manusia sebagai subjek penuh sejarahnya sendiri. ***)
Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 8 Desember 2025





