Filsafat: (5)
IMPERIALISME
Djoko Sukmono
Bagian Lima
BABAK PERANG YANG MENGUBAH DUNIA
Dentuman artileri, derap pasukan infanteri, dan raungan pesawat tempur membuka babakan sejarah yang mengubah wajah dunia.
Perang Dunia II bukan sekadar konflik antarnegara; ia adalah benturan ideologi—fasisme, komunisme, kapitalisme demokratis—yang hasilnya masih menentukan struktur politik global hingga hari ini.
Di Eropa, ambisi supremasi Ras Arya yang dibawa Adolf Hitler menghancurkan poros-poros kekuatan lama. Prancis runtuh, Britania Raya terdesak, dan Stalin di Timur menunggu momentum menentukan.
Di sisi lain dunia, Kekaisaran Jepang menancapkan kembali panji imperialisme dengan visi Asia Timur Raya: dari Manchuria sampai Jawa, otoritas Kaisar dipaksakan sebagai pusat tatanan baru.
Namun serangan ke Pearl Harbor membangunkan raksasa yang tidur—Amerika Serikat—yang kemudian mengubah seluruh jalannya perang.
Afrika Utara menjadi panggung duel strategi antara Sekutu dan Rommel. Normandia dibanjiri pasukan Sekutu yang membuka jalan menuju Berlin.
Lalu tibalah momen-momen yang meruntuhkan tirani: Hiroshima dan Nagasaki luluh lantak oleh bom atom, Mussolini dihakimi rakyatnya, Jepang menyerah tanpa syarat, Hitler lenyap dari panggung sejarah, dan Tentara Merah memasuki Berlin dengan bendera kemenangan.
Perang berakhir. Namun dunia tidak pernah benar-benar damai, sebab fondasi ketegangan yang diciptakannya tidak pernah dibongkar sepenuhnya.
ERA BARU: IMPERIALISME YANG BERUBAH WAJAH
Dari reruntuhan perang lahir Perserikatan Bangsa-Bangsa dengan idealisme Hak Asasi Manusia.
Tetapi sejarah memperlihatkan bahwa lembaga internasional tidak kebal dari kepentingan geopolitik.
Pertanyaannya menggantung: apakah PBB benar-benar lambang kebebasan universal, atau hanya instrumen baru dari pola dominasi global?
Imperialisme yang dulu hadir dalam bentuk pendudukan wilayah kini menjelma menjadi dominasi ekonomi, teknologi, finansial, dan budaya.
Kapitalisme yang bangkit dari reruntuhan perang tumbuh menjadi sistem yang nyaris tak terbendung, melahirkan ketimpangan global yang semakin menganga.
Neo-liberalisme memperluas logika ini: privatisasi, deregulasi, dan penguasaan sumber daya strategis oleh modal transnasional.
Dalam tatanan seperti ini:
Kebenaran didefinisikan oleh apa yang dapat diperjualbelikan.
Kebaikan ditimbang dari seberapa menguntungkannya suatu komoditas.
Identitas budaya direduksi menjadi gaya hidup yang dipasarkan.
Imperialisme tidak lagi memakai seragam tentara, tetapi mengenakan wajah korporasi global, algoritma digital, dan standar ekonomi yang memaksa seluruh negara mengikuti logika pasar.
REFLEKSI: KE MANA KITA MENUJU?
Dunia kini berada pada fase baru: perang tidak lagi semata-mata menggunakan senjata, melainkan juga gagasan, data, dan teknologi.
Struktur kekuasaan baru dibangun melalui sirkuit finansial, jaringan informasi, dan rekayasa opini publik.
Setiap era membentuk cara berpikir, berbicara, dan bertindak manusia—dan era digital melahirkan bentuk baru imperialisme yang jauh lebih halus, tetapi juga lebih dalam penetrasinya.
Pertanyaan yang layak direnungkan bukan lagi siapa yang menang dalam perang konvensional, melainkan siapa yang berhasil menguasai struktur dunia: kapitalisme global? Negara-negara adidaya?
Atau nilai-nilai kemanusiaan yang masih berusaha bertahan di tengah badai perubahan?
Sejarah tidak pernah berhenti. Ia adalah arena pertarungan tanpa akhir, dan kita semua, mau atau tidak, adalah bagian dari arus besar yang terus membawanya ke fase-fase berikutnya. ***)
Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 8 Desember 2025





