Opini:

SELAMAT DATANG GENERASI BARU
Djoko Sukmono

Telah tumbuh tunas-tunas bangsa Indonesia yang unggul, generasi baru yang memiliki kompetensi, imajinasi, dan keberanian yang dapat dijadikan rujukan bagi seluruh cita-cita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Mereka bukan pewaris pasif dari sejarah, tetapi pencipta masa depan.

Mereka adalah Free Generation—Generasi Bebas—yang hadir sebagai antitesis terhadap model-model generasi gaek yang selama ini menguasai panggung sosial-politik dengan kegagalan, kepicikan, dan kekolotan yang menghambat lompatan bangsa.

Hai, generasi gaek yang sontoloyo!
Berhentilah menggurui. Berhentilah memaksakan pola hidup lama yang telah gagal membacakan masa depan. Dunia telah berubah, dan kalian tertinggal jauh.

Biarkan generasi milenial dan generasi Z merancang masa depannya, menentukan jalannya, dan membangun dunianya tanpa perlu dibebani oleh rasa takut, dogma, dan warisan keusangan yang kalian jadikan standar hidup.

Masa depan bangsa Indonesia tidak lagi bertumpu pada generasi gaek yang sontoloyo itu, melainkan pada tunas-tunas bangsa yang memandang ke depan dengan keberanian dan optimisme, serta siap mengantisipasi setiap bentuk perubahan yang menerjang dunia global.

Indonesia tidak sedang mencari nostalgia; Indonesia sedang mencari arah baru.

Tidak usah meminta tolong kepada bangsa lain.

Tidak usah meminta saran kepada generasi gaek yang sontoloyo.

Teruslah bertindak.
Teruslah merangkai tindakan-tindakan produktif.

Teruslah berinisiatif—tanpa perlu menunggu izin dari sejarah.

Indonesia akan melesat ke depan bersama generasi baru yang andal, akurat, dan matang dalam berpikir maupun bertindak.

Selamat datang, masa depan bangsa yang cerah—masa depan yang diciptakan oleh keberanian generasi baru, bukan oleh ketakutan generasi lama.

Manusia konkret adalah manusia merdeka.
Merdeka berarti bebas dari penindasan yang kasat maupun yang tersembunyi.

Bebas dari kemiskinan yang diwariskan antargenerasi.

Bebas dari rasa takut yang diproduksi oleh kekuasaan.

Bebas dari pembodohan yang dilembagakan.
Bebas menyampaikan pendapat tanpa rasa teror.

Bebas dari seluruh belenggu yang selama ribuan tahun mengikat anak manusia di muka bumi.

Apa belenggu itu?
Belenggu itu adalah perintah-perintah yang secara rutin dilakukan anak manusia dalam men-dunia: kewajiban sosial yang tak dipertanyakan, aturan yang tidak memberi ruang pada pemikiran, dan janji-janji kosong yang diwariskan seolah sebagai hukum alam.

Siapa penguasa atas pembelengguan itu?
Dialah esensi—suatu struktur imajiner yang diperlakukan seakan pasti, padahal tidak pernah hadir sebagai kenyataan.

Apa itu esensi?
Esensi adalah kumpulan kemungkinan yang tidak bisa diverifikasi, tidak bisa dibuktikan, tidak dapat disentuh atau dirasakan secara konkret, tetapi justru mengendalikan cara manusia hidup.

Esensi menjanjikan keadilan, tapi tidak menghadirkannya. Menjanjikan kesejahteraan, tetapi hanya memproduksi ketimpangan. Menjanjikan kedamaian, tetapi melahirkan konflik.

Dalam kehidupan sosial, belenggu itu menjelma dalam bentuk kata-kata indah yang terlihat suci: keadilan, kesejahteraan, kesetaraan, kebebasan, kedamaian.

Kata-kata itu tertulis dalam konstitusi, dalam pidato pejabat, dalam dokumen keluarga, RT, kelurahan, kecamatan, hingga negara. Namun, dalam pengalaman konkret anak manusia, kata-kata itu tak pernah benar-benar hadir.

Hari ini, Minggu keempat 2025, adalah hari yang ditandai oleh lahirnya Free Generation—generasi yang mulai memutus ilusi dan membangun dunianya sendiri dengan rasionalitas, keberanian, dan kesadaran historis.

Indonesia telah go publik.
Indonesia tidak hanya untuk Indonesia.
Indonesia untuk dunia.

Generasi bebas adalah generasi antisipatif: generasi yang tidak kekanak-kanakan, tidak ringkih, dan tidak sibuk membenci.

Generasi ini memahami bahwa tidak ada alasan sedikit pun untuk membenci kelompok lain, golongan lain, suku bangsa lain, dan bangsa lain. Dunia terlalu besar untuk disempitkan oleh identitas sempit.

Generasi bebas adalah individu konkret yang memikul kebebasan sebagai beban sekaligus hak.

Cara pandangnya transhistoris, tidak dibelenggu oleh mitologi masa lalu, tidak terjebak primordialisme, dan tidak tunduk pada klaim bahwa kebenaran dan kebaikan hanya milik satu kelompok. Mereka berpikir secara sekuler, dinamis, dan kosmopolitan.

Pancang-pancang kebenaran dan kebaikan telah ditinggalkan demi memenuhi panggilan sejarah: sejarah masa depan.

Negara—dengan segala birokrasi usangnya yang gagap menghadapi perubahan sosial—juga akan ditinggalkan jika tidak mampu bergerak mengikuti zaman.

Free Generation bukanlah pembangkang; mereka adalah konsekuensi logis dari sejarah.

Generasi bebas adalah generasi masa depan dunia.
Yang berorientasi pada kemajuan, bukan nostalgia.
Yang berorientasi pada keberdikarian, bukan ketergantungan.
Yang berorientasi pada kebebasan, bukan pembelengguan esensial.

Generasi bebas telah mengklaim dirinya terbebas dari masa lalu yang abu-abu.

Penghilangan memori itu bukan tindakan kekanak-kanakan, melainkan tindakan kesadaran transhistoris: sebab mereka tidak terlibat dalam masa lalu, mereka bukan pelakunya, dan tidak mempunyai utang moral terhadap sejarah yang tidak mereka pilih.

Inilah filosofi Free Generation: masa lalu tidak mengikat mereka. Tidak ada kewajiban meneruskan perjuangan yang tak selesai.

Tidak ada keharusan berterima kasih kepada sejarah yang tidak mereka saksikan. Masa lalu boleh dilupakan, dianggap tidak ada, dan diperlakukan sebagai bayang-bayang ilusi.

Generasi bebas bahkan telah merancang eliminasi terhadap seluruh generasi yang masih berorientasi pada kebenaran dan kebaikan usang ciptaan masa lalu.

Ini bukan kekerasan fisik, tetapi revolusi kesadaran: penghentian total terhadap dominasi pola pikir lama yang tidak lagi relevan dengan dunia baru.

Selamat datang kemerdekaan.
Selamat datang perubahan.
Selamat datang generasi bebas konkret yang akan menuliskan sejarah baru umat manusia. ***)