Filsafat: (4)
IMPERIALISME
Djoko Sukmono
Bagian Empat
MONOLOG
Perintah historis telah bergerak menembus seluruh penjuru dunia. Arus besar sejarah tidak pernah berhenti; ia menyapu, mengikis, dan membentuk kembali setiap wilayah yang disentuhnya.
Penjelajahan dunia yang bermula dari Eropa modern bukan sekadar petualangan geografis, tetapi merupakan bentuk konkret dari ekspansi dan aneksasi kekuasaan—sebuah gerak diktator-imperialis yang memaksa seluruh dunia memasuki situasi batas sosial, politik, ekonomi, dan budaya yang semakin mengeras menuju bentuknya yang ultimasif.
Di dalam pusaran itulah dunia bekerja bukan untuk kebutuhannya sendiri, melainkan “dari, oleh, dan untuk” kebesaran serta kejayaan para imperialis diktator.
Sejarah global pun dipaksa tunduk pada logika tunggal: akumulasi kekuasaan dan perluasan dominasi.
PROLOG
Penumpukan kapital menjadi konsekuensi sekaligus syarat bagi kelanjutan ekspansi tersebut.
Kekayaan material yang terkonsentrasi pada pusat-pusat kekuasaan melahirkan pewaris sejarah baru: seorang putra mahkota yang diberi nama kapitalisme.
Kapitalisme adalah keturunan logis dari sejarah panjang dominasi: cicit dari imperialisme absolut, cucu dari imperialisme parlementer, dan anak kandung dari pertemuan antara imperialisme totaliter dengan imperialisme diktator.
Kelahirannya tidak berdiri di luar sejarah, tetapi merupakan transformasi struktural dari dorongan lama untuk menaklukkan, menguasai, dan mengakumulasi.
Dari sinilah hubungan imperialisme dan kapitalisme menjadi tak terpisahkan. “Gold, Gospel, War”—dan pada akhirnya “Glory and Victory”—menjadi mantra ideologis yang menggerakkan seluruh mesin perluasan.
Ekplorasi sumber daya alam dan eksploitasi tenaga manusia dijadikan pijakan pokok untuk memperbesar akumulasi.
Dalam logika Marxis, imperialisme adalah ekspresi niscaya dari kapitalisme pada tahap lanjutannya; ketika kapital menumpuk hingga tidak lagi dapat diinvestasikan secara menguntungkan di wilayah asalnya, maka ekspansi ke luar negeri, ke koloni, ke periferi, menjadi tak terhindarkan.
Di titik itulah kapitalisme berubah menjadi binatang buas yang tahan banting, dan dalam fase terjauhnya, ia berpretensi menjadi sistem yang mengakhiri sejarah.
Pada tahap ini, bagi imperialis-kapitalis tidak ada lagi batas politik yang sejati. Negara hanyalah penanda administratif; penguasaan atas setiap jengkal demografis dan geografis menjadi keharusan.
Pemetaan dan pengklasifikasian wilayah dilakukan secara sistematis demi memastikan hegemoni. Setiap populasi diberi label, kelas, dan posisi yang telah ditentukan, bukan demi pengetahuan, tetapi demi kendali.
Secara esensial, kapitalisme bertumpu pada eksploitasi kelas pekerja oleh kaum borjuis. Namun dalam perkembangan selanjutnya, eksploitasi semata tidak cukup memuaskan dahaga keuntungan yang tak berbatas.
Borjuis sebagai homo economicus kapitalisme—sebagai agen yang digerakkan oleh rasionalitas keuntungan—dipaksa oleh logika sistem untuk menaklukkan tanah, merampas sumber daya alam, dan memperluas basis material bagi akumulasi global.
Tugas-tugas ini tidak bersifat moral, tetapi sifatnya historis: sistem mendorong mereka untuk melakukannya.
Mencegahnya hanya menghasilkan kesia-siaan, sebab hukum gerak kapitalisme tidak tunduk pada kehendak individual.
Namun demikian, di dalam kerja imperialis-kapitalis yang seolah total itu tetap terdapat celah-celah kecil yang luput dari integrasi penuh.
Celah inilah yang menyisakan ruang kemungkinan. Dalam ruang-ruang kecil inilah Rasio Historis terus bekerja: sebuah rasionalitas yang menimbang kehendak hukum sejarah terhadap realitas konkret yang selalu berubah.
Dan dari celah itu pula muncul embrio baru yang belum diberi bentuk final—sebuah kemungkinan perubahan yang kelak dapat menjadi Hukum Rasional Perubahan, yaitu gerak sejarah yang menandai bahwa tidak ada dominasi, betapapun luasnya, yang abadi. ***)
Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 8 Desember 2025





