Filsafat: (3)
IMPERIALISME
Djoko Sukmono
Bagian Tiga
MONOLOG
Kesewenangan ini bukan sekadar tindakan; ia adalah Perintah Historis yang telah menjelma menjadi eksploitasi tanpa batas. Sejak perintah itu hadir dalam sejarah, ia berubah menjadi kekuasaan yang mengatur hidup dan mati, seolah seluruh ritme dunia harus tunduk kepada satu kehendak.
IMPERIALISME TOTALITER hadir bukan sebagai kebetulan. Ia muncul sebagai eksekutor kehidupan, sebagai tangan besi sejarah yang menyatakan bahwa kebebasan manusia dapat dinegasikan atas nama ketertiban, keamanan, dan stabilitas.
PROLOG
Kampus Biru—yang dahulu berdiri sebagai mercusuar pengetahuan— kini berubah menjadi kelabu.
Dalam perjalanan panjangnya, sosok kampus itu perlahan mati bersama pengetahuannya, bersama apa yang pernah ia ketahui, bersama percikan kebijaksanaan yang dulu memancar dari ruang-ruang diskusinya.
Tempat itu yang dahulu hidup dari perdebatan, kini lumpuh oleh sunyi.
Mendadak petir menyambar di siang hari, menerangi langit yang seharusnya cerah. Matahari bersinar dengan bara yang tak wajar, seolah hendak mengingatkan bahwa di balik kejernihan ada badai yang tidak terlihat.
Sesaat tampak potret Sokrates sedang berjabat tangan dengan Plato—sebuah simbol perjumpaan antara kejujuran seorang filsuf jalanan dengan kehati-hatian seorang bangsawan filsuf.
Tak peduli Sokrates itu “anjing”, tak peduli Plato itu “bangsawan”; keduanya berdiri sebagai penjaga nalar yang tak tunduk pada kekuasaan.
Semangat Merah—semangat protes, kegelisahan, dan idealisme—berubah menjadi semangat baru.
Kampus itu diam tanpa kata. Ia seperti tubuh yang bernapas, tetapi jiwanya sudah pergi.
Kampus Biru…
Apa yang telah terjadi padamu?
Terbunuhnya Sokrates bukan sekadar tragedi; ia adalah martir kebijaksanaan, protes historis, dan kekuatan dari Hukum Rasional Sejarah.
Pembunuhan itu menandai bahwa ketika nalar ditindas, kekuasaan sedang berada dalam ketakutan terdalamnya.
IMPERIALISME TOTALITER
Imperialisme Totaliter adalah kewenangan mutlak atas seluruh sistem sosial. Ia berkuasa penuh atas politik, sosial budaya, dan kehidupan religius.
Tidak ada celah bagi ekspresi bebas; tidak ada ruang bagi keragaman interpretasi. Semua dibungkus ke dalam satu kesatuan kehendak yang wajib diikuti.
Kemutlakan itu tumbuh karena figur pemimpin dianggap sebagai perwujudan kebenaran dan kebaikan.
Dalam ruang dan waktu, figur tersebut menjadi simbol negara—tak terpisahkan dari konsep kekuasaan itu sendiri.
Tak ada pembagian antara Raja dan negara, antara kekuasaan dan agama, antara politik dan sosial budaya. Semua menyatu, membentuk satu dogma tunggal: “Saya adalah Negara”.
Dalam sejarah dunia, pola kekuasaan seperti ini berulang.
Dari kalimat Veni, Vidi, Vici—“Saya Datang, Saya Lihat, Saya Menang”—yang menjadi semboyan Benito Mussolini, hingga seruan religius “Akulah Jalan dan Kebenaran dan Hidup”, hingga semboyan Jawa “Sabdo Pandito Ratu”, semuanya menunjukkan struktur totalitas di mana satu figur menjadi poros tunggal kehidupan sosial.
Pernyataan totaliter seperti itu bukan bertujuan pragmatis; ia adalah manifestasi dogma.
Dogma kemudian diubah menjadi doktrin melalui piagam, konvensi, konstitusi, dasar negara, hingga kontrak sosial.
Dengan demikian, Imperialisme Totaliter menjadi determinisme hegemonik—sistem yang berdiri di atas kewenangan absolut.
RASIO HISTORIS melihat Imperialisme Totaliter bukan sebagai kecelakaan sejarah. Ia bukan deviasi, bukan kejahatan yang muncul tiba-tiba.
Ia adalah tahap yang harus terjadi dalam perjalanan panjang kekuasaan manusia. Setiap totalitarianisme lahir dari kekosongan, ketidakstabilan, ketakutan kolektif, dan kebutuhan akan kepastian.
Gemuruh perubahan kemudian datang dengan semboyan Kebebasan, Kesetaraan, Persaudaraan.
Semboyan itu memporak-porandakan Imperialisme Totaliter. Runtuhnya sistem mutlak ini melahirkan tiran baru: Diktator Imperialis.
Diktator itu hadir untuk menghapus sekat-sekat primordial—identitas lokal, batas wilayah, tradisi yang dianggap menghambat—dan menggantinya dengan realitas sosial konkret baru yang mencerminkan keberadaan kekuasaannya.
Dunia memasuki orde baru yang meniadakan seluruh realitas lama, digantikan oleh satu sistem tunggal yang berada di tangan sang diktator.
Imperialisme Totaliter tumbang setelah pemenggalan Raja Louis dari Prancis, sebuah momen yang menandai berakhirnya legitimasi ilahi dan lahirnya legitimasi kekuatan militer.
Dari kehancuran itu muncul Kaisar Napoleon Bonaparte, simbol kediktatoran modern yang menghapus batas negara-negara Eropa dan membentuk tatanan baru melalui Code Civil—hukum sipil modern yang mematri kekuatan kekaisaran ke dalam struktur masyarakat.
Di sinilah Imperialisme Totaliter tidak lenyap begitu saja—ia hanya berganti bentuk menjadi Imperialisme Diktatorial, lebih terstruktur, lebih sistematis, dan lebih mampu menembus kehidupan sehari-hari manusia melalui hukum, lembaga, dan aparat negara. ***)
Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 8 Desember 2025





