Filsafat:
YANG KONKRET
Oleh Djoko Sukmono
Dunia sosial hari ini adalah dunia yang konkret—sebuah kenyataan yang bekerja secara faktual dalam ruang dan waktu.
Kata “konkret” menjadi sangat penting karena ia menentukan bagaimana manusia memahami realitas sekaligus membentuk dunia.
Setiap esensi, eksistensi, substansi, dan kategori dalam kehidupan sosial selalu diberi sandang konkret: dunia konkret, manusia konkret, peradaban konkret.
Semua itu menjadi penanda bahwa manusia modern menuntut realitas yang dapat dibuktikan, diverifikasi, dan diwujudkan secara nyata.
Nilai-nilai fundamental seperti kebebasan, kesejahteraan, dan keadilan pada dasarnya merupakan inti martabat manusia. Namun nilai-nilai ini sering diabaikan jika tidak hadir dalam bentuk yang konkret.
Selama kebebasan hanya berupa slogan, selama keadilan hanya menjadi semboyan, selama kesejahteraan sekadar retorika, maka sejarah akan meninggalkannya.
Kata-kata indah yang tidak diiringi realisasi pada akhirnya hanya menjadi endapan memori—hanya kutipan, hanya nasihat moral, bukan kekuatan sejarah.
Di dalam dunia sosial-politik kontemporer, kita memasuki fase setelah runtuhnya otoritas ideologi besar.
Orde ideologi berakhir ketika hegemoni Uni Soviet jatuh bersama robohnya Tembok Berlin, sebuah simbol dis-ideologisasi.
Sejak itu, dunia bergerak menuju orientasi baru: realisme sosial-politik. Realisme ini menuntut kemampuan untuk mewujudkan sesuatu yang dapat direalisasi secara logis dan realistis.
Yang Konkret menjadi yang real; yang rasional menjadi yang mungkin; yang empiris menjadi dasar cara dunia bekerja. Realitas dipahami sebagai sesuatu yang dapat diwujudkan dalam tindakan.
Kenyataan tidak bertumpu pada iman yang irasional. Iman yang tak teruji sering melahirkan fanatisme, dan sejarah menunjukkan bahwa fanatisme melahirkan perang, kekerasan, vandalisme, frustrasi ideologis, dan konflik yang bertentangan dengan hak asasi manusia.
Ketika iman kehilangan rasionalitas, ia terlepas dari kemanusiaan.
Dalam pandangan filsafat sosial, dunia sosial adalah dunia yang sedang berproses, bertumbuh, dan berkembang di dalam gerak sejarah.
Filsafat sosial adalah kacamata rasional untuk melihat realitas sosial konkret, yaitu dunia ketika ia sedang bekerja.
Di dalam memahami esensi, seorang filsuf sosial menolak pandangan bahwa esensi selalu berkaitan dengan sifat biologis yang tetap.
Esensi adalah struktur yang memberikan kesatuan dan koherensi pada identitas individu di dalam sistem sosial.
Esensi bersifat konstruktif karena ia memungkinkan individu menjalankan fungsi keberadaannya dalam dunia sosial.
Sementara itu esensialisme adalah sekumpulan kemungkinan yang belum terungkap secara ontologis.
Ketika sebuah kemungkinan terungkap melalui rasio historis, maka ia tidak lagi menjadi esensi, tetapi menjadi bentuk yang telah diwujudkan.
Contoh paling jelas ialah demokrasi: awalnya hanya esensi yang bersifat ideal, kemudian melalui kerja rasio sejarah menjadi ideologi politik yang dianut berbagai bangsa dan negara. Dari esensi lahir institusi, struktur, dan praktik politik.
Terdapat kisah filosofis yang sering dijadikan ilustrasi: seorang filsuf sosial mendatangi raja dan berkata, “Berikanlah sedikit kekuasaanmu kepada rakyat agar mereka dapat menyelenggarakan pesta rakyat setiap beberapa tahun sekali untuk memperebutkan secuil kekuasaan itu.”
Dari kisah sederhana ini lahirlah gagasan demokrasi perwakilan. Esensi terungkap menjadi struktur politik.
Ada pula esensi-etis yang mengarah pada kebenaran dan kebaikan: keadilan, kebebasan, kesetaraan, kedamaian, dan kesejahteraan.
Semua nilai ini menjadi dambaan manusia demi kebahagiaan sosial. Tetapi seiring waktu, klaim terhadap nilai-nilai tersebut menciptakan konflik.
Kebahagiaan sosial bersifat universal; ia tidak dapat dimiliki, diklaim, atau dimonopoli oleh siapa pun, bahkan oleh tokoh yang menganggap dirinya terpilih.
Yang eksistensial adalah yang sungguh-sungguh ada. Namun ketika eksistensi dipahami sebagai sesuatu yang “sungguh menjadi”, ia akan terikat pada hukum rasional perubahan: relativitas.
Hal ini bukan absurditas, melainkan kenyataan bahwa eksistensi manusia selalu berada dalam proses menjadi.
Eksistensi manusia konkret tampak mustahil jika dipahami sebagai sesuatu yang sudah tiba. Manusia konkret hanyalah model atau design yang masih dalam kemungkinan. Yang belum tiba itulah manusia konkret.
Mereka yang merasa telah menjadi manusia sejati sesungguhnya belum menjadi apa-apa, karena menjadi manusia membutuhkan proses panjang. Manusia adalah eksistensi yang beresensi.
Eksistensi adalah dasar kesungguhan keberadaan manusia, sedangkan esensi adalah dasar kemungkinan keberadaannya.
Di dalam men-dunia, manusia dapat didefinisikan sebagai dimensi yang multikompleks, konkret, dan individual, hidup dalam ruang dan waktu, berada pada posisi esensialnya, serta bergerak pada situasi batas sosialnya sebagai eksistensi yang otentik.
Pertanyaannya: apakah manusia konkret sudah ada? Jawabannya: belum menjadi. Manusia konkret adalah cita-cita yang belum tiba dalam sejarah.
Ketika manusia konkret terwujud, gerak sejarah akan terlihat lebih jelas sebagai kerja dunia yang berjalan di antara realisasi kolektif dan porsi kecil kepemilikan individu, kelompok, dan korporasi.
Pada titik itulah dunia konkret berada di depan mata, demikian pula peradaban konkret.
Dunia konkret itu diisi oleh manusia sejarah, manusia konkret, perserikatan bangsa-bangsa konkret, negara konkret, bangsa konkret, dan pemimpin konkret.
Adapun yang tertinggal menjadi fosil adalah hal-hal ilusi: mereka yang berpijak pada kebenaran masa lalu yang sudah usang; kebudayaan yang nilai-nilainya tidak terbukti dalam sejarah; dan orang-orang yang masih menatap masa lalu dengan kebanggaan kosong.
Hukum rasional perubahan sosial selalu berpihak pada dunia yang pro perubahan, pro kemajuan, dan pro kemandirian.
Tatanan dunia sosial baru sedang bergerak menuju situasi batas sosial yang konkret, kemudian menyerahkannya kepada masa depan yang tidak dapat diprediksi.
Filosofi dunia konkret adalah pemahaman bahwa yang terhampar dalam kehidupan sosial adalah realitas sosial, dan yang bekerja di dalam dunia konkret adalah manusia-manusia konkret.
Hidup adalah konkret, dunia adalah konkret, dan karena itu manusia dituntut menjadi manusia konkret yang membangun peradaban konkret. Segala yang tidak konkret dapat diabaikan.
Manusia baru adalah manusia konkret yang berorientasi pada masa kini dan masa depan. Masa depan adalah milik manusia konkret yang membangun peradaban konkret. ***)
Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 5 Desember 2025





