Filsafat:
PESAN HISTORIS
Djoko Sukmono
Ini pesan dari Bapak Manusia: bahwa ketika saya sadar sebagai manusia, bapakmu ini tidak pernah sekalipun bertemu dengan Tuhan.
Pesan dari Ibu Manusia: Anak-anakku, hai seluruh manusia yang tinggal di muka bumi, jangan kamu percaya pesan dari Bapak Manusia itu, karena dia membohongimu dengan mengatasnamakan bahwa ia tidak pernah bertemu dengan Tuhan.
Padahal setiap detik ibumu ini bersama dengan bapakmu bertemu dengan Tuhan Yang Maha Kuasa di dalam setiap napas yang masuk dan keluar.
Demikian pesan dari Bapak Manusia dan Ibu Manusia sebagai orang tua dari seluruh anak-anak manusia yang tinggal di muka bumi.
Dengan pesan historis itu, masihkah pesan tersebut relevan dengan kondisi objektif-psikologis masyarakat bangsa manusia yang tinggal di muka bumi ini?
Inilah situasi saat ini yang tampak dalam perubahan sosial yang telah meninggalkan pesan-pesan historis yang dianggap tidak relevan karena sudah usang.
Perubahan sosial adalah suatu situasi yang dirasakan oleh segenap anak-anak manusia sebagai kondisi yang berbeda dari biasanya dan secara objektif-psikologis yang mengakibatkan terjadinya situasi batas sosial yang asing.
Pada situasi batas sosial itu terjadi suatu penelanjangan sosial yang riil. Ia adalah fakta yang terungkap dari faktor-faktor yang menelanjangi suatu fenomena sosial yang selama kurun waktu tertentu berada pada posisi misterius.
Faktor-faktor tersebut adalah gerak sejarah yang tak terelakkan, misalnya terungkapnya skandal inkonstitusional, skandal pemerintahan yang korup, terungkapnya konspirasi jahat sekelompok orang yang berkuasa, serta dekonstruksi sosial, politik, ideologi, dan kebudayaan.
Perubahan sosial juga bisa terjadi akibat kesenjangan sosial yang semakin hari semakin menganga antara yang kaya dan yang miskin.
Perubahan sosial adalah akumulasi dari sebuah proses yang sistematis, namun sistematikanya manipulatif.
Perubahan sosial juga merupakan akumulasi dari proses strukturisasi yang rapuh sehingga mudah ambruk; perubahan sosial adalah akumulasi dari proses ultimasif yang tidak dilandasi oleh filosofi yang benar dan definitif sehingga menjadi ambyar.
Dibangun dengan apakah konstruksi sosial itu?
Konstruksi sosial dibangun melalui kontrak sosial dan diperkuat dengan efek-efek konflik sosial yang terus-menerus berlangsung dalam perjalanan sejarah kehidupan sosial.
Konstruksi sosial yang tidak tahan banting terhadap konflik sosial sudah dapat dipastikan rentan terhadap perubahan sosial.
Contoh: bubarnya Uni Soviet, bubarnya Yugoslavia, dan masih banyak lagi contoh runtuhnya konstruksi sosial yang sudah tidak bisa direkonstruksi lagi, menjadi sampah sejarah dan endapan struktur yang tidak berguna.
Perubahan sosial berhubungan erat dengan masa depan sosial. Meskipun masa depan sosial tidak mudah diprediksi, tetapi keberadaannya bisa dijelaskan secara filosofis.
Masa depan sosial adalah suatu kondisi yang berada pada posisi misterius, yakni situasi yang tidak terjangkau oleh konsep apa pun.
Namun ia juga merupakan situasi sosial yang memenuhi syarat esensial-substansial kontingensi, dalam arti berada pada posisi ultimasif yang transparan dan terjelaskan oleh hukum rasional sejarah.
Ada dua ilustrasi. Pada waktu itu terjadi peristiwa fenomenal, yaitu hadirnya seorang manusia yang tangguh dan kuat: ia bernama Napoleon, bisa bernama Hitler, bisa bernama Stalin.
Di sisi lain hadir pula seorang pemikir: ia bisa bernama Descartes, bisa bernama Hegel, bisa bernama Marx.
Seiring berjalannya waktu, orang-orang ini menjadi inspirator bagi zamannya dan sekaligus penyebab berbagai pergolakan di zamannya.
Mereka menjadi hantu-hantu yang bergentayangan dan sanggup menyerang kesadaran dunia serta kesadaran anak-anak manusia di masa mendatang.
Apa yang telah rezim lakukan terhadap hidupmu? Rezim telah memperlakukan hidupmu dengan buruk; rezim telah memperlakukan hidupmu dengan konyol; rezim telah memperlakukanmu dengan janji kehidupan sejahtera dan bahagia (yang ternyata bohong).
Rezim telah menjanjikan masa depan cerah (juga bohong), menjanjikan pendidikan (bohong), menjanjikan kebebasan berekspresi (sekali lagi, bohong).
Rezim telah berjanji bahwa di negara bangsa Indonesia, kalian semua akan memperoleh kesejahteraan dan keadilan—namun mana buktinya?
Rezim dengan semena-mena menentukan sistem politik yang dianggap paling cocok dengan kondisi objektif-psikologis masyarakat bangsa Indonesia. Apakah itu benar? Ternyata tidak!
Perubahan sosial ini bukan untuk saat ini, melainkan untuk kemajuan anak-anak manusia di masa depan.
Pesan historis saat ini kepada seluruh anak bangsa dan seluruh anak manusia di muka bumi berbunyi sebagai berikut: Teruslah merangkai tindakan-tindakan produktif, teruslah menggembleng jiwa dan ragamu agar hidup dan kehidupan sosial ini berlanjut dengan segala konsekuensinya.
Konsekuensinya adalah kemajuan sosial yang dapat dilihat dari tingkat kesejahteraan sosial, di mana setiap individu manusia hidup layak sebagai manusia.
Secara konkret, tidak ada lagi sistem yang sengaja dijalankan untuk membodohi, memiskinkan, dan membohongi rakyat; tidak ada lagi eksploitasi manusia oleh manusia; distribusi keadilan sosial berjalan secara proporsional; hubungan antar bangsa dan negara dilandasi nilai-nilai kesetaraan;
Dan anak-anak manusia diberi ruang seluas-luasnya untuk aktualisasi diri, meng-ada, men-dunia, dan menjadi dirinya sendiri tanpa intervensi dari rezim politik, sosial, kebudayaan, maupun rezim keagamaan.
Inilah Pesan Historis dari Eyang Djoko Sukmono
Ancaman terhadap eksistensi sudah berlangsung ribuan tahun. Awalnya, eksistensi itu terancam oleh munculnya seorang eksistensialis pertama bernama Bapak Manusia.
Ia menjalani kehidupan bersama Ibu Manusia selama ratusan tahun (umur mereka tidak dapat dibandingkan dengan umur anak-anak manusia saat ini).
Kemudian mereka beranak-pinak setiap tahun, dan dilanjutkan terus oleh anak-cucunya selama ratusan tahun. Namun, setelah anak-anak manusia ini berkembang semakin banyak, terjadilah peristiwa fenomenal: ditetapkannya Bapak Manusia sebagai Raja.
Inilah kontrak sosial-politik pertama dalam kehidupan manusia.
Seiring waktu, kontrak sosial ini berfungsi secara sederhana sebagai distribusi keadilan yang proporsional berdasarkan hierarki keturunan: anak pertama menduduki peringkat kedua dalam kekuasaan, dan seterusnya secara bertingkat.
Pada masa itu kehidupan sosial berjalan lancar dan normal, seperti dambaan anak-anak manusia saat ini: kesejahteraan terjamin, keadilan terselenggara, dan kedamaian menjadi milik mereka secara esensial.
Bumi menjadi ajang persengketaan sejak terjadinya perebutan kawasan-kawasan subur, yang kemudian dikuasai oleh kelompok-kelompok yang terus berkembang secara alamiah.
Pada mulanya, Bapak Manusia dan Ibu Manusia adalah orang tua seluruh manusia yang adil dan bijaksana: tidak ada anak-anak manusia yang kelaparan, pemarah, pembenci, pendendam, penakut, mati, cemas, gelisah, ragu-ragu, dihukum, atau sakit.
Penyakit belum ada, pencuri belum ada, pelacur belum ada, narkoba belum ada, virus belum ada—baik virus fisik maupun mental. Mereka benar-benar selaras dengan alam.
Itulah hidup anak-anak manusia di muka bumi yang oleh para pemikir naturalis disebut naturalisme.
Seiring berjalannya waktu, muncul peristiwa baru: beberapa orang menemukan lahan subur dan tanpa memberitahu kelompok induk mereka, lahan itu dikerjakan.
Ketika panen tiba, kelompok induk ingin ikut memanen, tetapi para penggarap menolak dengan alasan logis: “Bagaimana mungkin kalian tidak ikut menanam dan menjaga tanaman ini, tetapi tiba-tiba mau ikut memanen?”
Inilah awal mula konflik. Namun, karena mereka satu keluarga besar, konflik itu diselesaikan dengan pemberian upah. Inilah kontrak sosial pertama antar-manusia.
Dalam suatu hari tertentu terjadi peristiwa fundamental dan fenomenal, yakni keputusan pertama yang sakral oleh rejim politik saat itu: pembolehan poligami bagi orang-orang yang menduduki jabatan penting dalam kekuasaan.
Yang pertama mendapat kebebasan adalah Bapak Manusia, lalu anak tertua, dan seterusnya.
Inilah awal rejim patriarki pertama dan benturan kepentingan yang memicu konflik psikologis serta lahirnya kelompok-kelompok kecil anti-dekrit yang kemudian membesar dan menandingi rejim berkuasa.
Tiba-tiba petir menyambar di siang hari, matahari berapi, dan terjadi aksi saling membunuh antara rejim politik dan kelompok anti-dekrit patriarki.
Inilah konflik fisik pertama dengan korban terbanyak di pihak anti-dekrit, yang akhirnya kalah dan dibuang, sebagian besar terbunuh. Dari sinilah muncul janda-janda dan awal mula prostitusi.
Dalam situasi itu, mulai muncul kebebasan yang dijalankan secara sembunyi-sembunyi, yaitu hubungan seksual tanpa ikatan suami-istri yang baku (karena saat itu tulisan belum ada; bahasa yang digunakan masih lisan, berupa sabda).
Sementara itu, para pelarian—kelompok kecil dengan sedikit perempuan dan lebih banyak laki-laki—mencari tempat tinggal baru, jauh dari jangkauan rejim politik.
Mereka melanjutkan hidup dengan model kehidupan sebelumnya, meski tanpa dekrit.
Sementara kelompok besar rejim patriarki melanjutkan kehidupan sosial yang lebih kompleks, dengan kebebasan terselubung yang menimbulkan kenikmatan tak terbayangkan sebelumnya dan akhirnya menimbulkan ketagihan berulang hingga penggumpalan.
Inilah yang disebut candu kehidupan pertama yang dialami anak-anak manusia.
Masa lalu tidak bisa diulang, dibatalkan, atau diubah. Ia telah kelabu ditelan waktu. Karena itu, tidak perlu membebani diri dengan penyesalan atas kesalahan masa lalu. Masa depan bukan bayangan ilusif, bukan pula bayangan menyeramkan.
Masa depan tidak perlu ditakuti karena ia dapat diciptakan melalui tindakan konkret hari ini. Jalani hidup dengan sikap mental positif yang logis dan realistis, serta kesadaran penuh atas apa yang bisa dilakukan hari ini tanpa terperangkap masa lalu dan bayangan masa depan yang belum tiba.
Sementara itu, peristiwa-peristiwa historis juga melibatkan Ibu Manusia yang memiliki peran sentral dalam pembentukan gerak sejarah, karena darinyalah anak-anak manusia lahir dan tumbuh menjadi pelaku sejarah, baik secara individu maupun sosial.
Inilah pesan historis untuk Ibu Manusia sebagai berikut:
Ada ungkapan yang berbunyi, “Surga ada di telapak kaki ibu”. Ungkapan tersebut diwujudkan dalam bentuk pengabdian dan pengorbanan kepada anak-anak manusia berupa kasih sayang dan pengasuhan seumur hidup dengan tulus dan ikhlas, terus-menerus memberi tanpa berharap upah atau balas budi dari anak-anak manusia yang dikasihinya.
Itulah kesejatian Ibu yang tinggal di muka bumi ini; inilah nilai-nilai fundamental kemanusiaan yang benar-benar dijalankan oleh Ibu.
Nilai-nilai fundamental kemanusiaan itu tidak bisa diwujudkan tanpa peran serta aktif dari Ibu. Apakah nilai-nilai itu?
Perlindungan, kasih sayang, dan pengasuhan kepada anak-anak manusia seumur hidupnya—tanpa pamrih, tanpa sistem, tanpa komando.
Namun kenyataannya, kiprah Ibu dalam membesarkan dan menghantarkan anak-anak manusia agar memiliki kompetensi dan integritas terbukti nyata.
Hal itu terlihat dari jumlah populasi manusia di bumi yang kini mencapai 8 miliar orang.
Waktu telah mengharu-birukan kehidupan anak-anak manusia. Hampir setiap manusia berpacu dengan waktu, sehingga tanpa terasa kehidupan sosial membawa perubahan cepat.
Hampir tak ada lagi ruang dan kesempatan bagi individu lemah untuk hidup layak sebagai manusia. Hanya individu unggul yang memiliki peluang untuk memperoleh keberuntungan.
IBU…!!! Lihatlah anak-anakmu yang telah Ibu besarkan, yang telah Ibu lindungi, yang telah Ibu bekali dengan ajaran keutamaan: dengan bahasa cintamu, kasihmu yang tiada berkesudahan.
Engkau telah membuktikan itu dengan sikap dan perkataanmu kepada anak-anakmu.
Engkau selalu mencemaskan keadaan mereka, dan setiap saat berdoa kepada Yang Maha Kuasa untuk keselamatan serta keberhasilan anak-anakmu dalam menjalani hidup di kehidupan sosial yang penuh liku.
Ada pertanyaan yang mengusik kalbu dengan kondisi objektif-psikologis masyarakat manusia ini, yakni: Mengapa terjadi eksploitasi manusia terhadap manusia?
Mengapa terjadi eksplorasi besar-besaran terhadap sumber daya alam? Mengapa krisis kemanusiaan tiada pernah berakhir? Mengapa rejim patriarki tidak becus mengurus dunia?
IBU… ajarilah anak-anakmu tentang nilai-nilai fundamental kemanusiaan. IBU… ajarilah anak-anakmu tentang kebahagiaan, cinta, dan kasih sayang.
IBU… teruslah ajari kami, anak-anakmu, dalam menjalani hidup agar dunia ini tidak jatuh ke dalam kehancuran. ***)
Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 15 Oktober 2025





