Opini:
Proses Kesadaran Memasuki Wilayah Spiritual Berdasarkan Pada Pola Berpikir Sebagai Pelita Hati
Oleh Jacob Ereste
Kesadaran manusia nyaris tidak pernah muncul tiba-tiba, tetapi acap melalui proses biologis, psikologis yang bersandar pada pengalaman yang pernah dilalui pada masa lalu yang dibangun bersama segenap komponen tersebut diatas.
Yaitu interaksi yang kompleks antara kerja otak dan hati yang sinkron melakukan dialog atau semacam musyawarah untuk mufakat memilih keputusan yang tepat yang mendasari sikap dan sifat kesadaran murni untuk menentukan satu pilihan.
Sensasi dari rangsangan indrawi bermula dari otak saat menerima masukan dari seluruh panca indra yang memberi masukan melalui berbagai sumber yang terlihat, terdengar dan dirasakan, sehingga otak menyusun tafsirnya yang paling tepat terkait dengan dorongan kehendak didalam memori dan emosi yang bergolak, hingga muncul kesadaran terhadap sesuatu tentang aroma, getaran suara atau sentuhan perasaan dari keberadaan suatu sosok atau suasana yang sangat mengesankan.
Adapun suasana sadar terhadap suatu tersebut — bermula dari atensi yang meningkat menjadi pemahaman yang membangkitkan suatu kesadaran melalui perantara pembicaraan, cara berpikir atau merasakan sesuatu yang menyentuh hati.
Pada proses berikutnya bisa diperantarai oleh refleksi diri — self awereness — melalui oleh perasaan sendiri yang memberi pertimbangan terhadap pilihan kesadaran bersama motivasi batin yang jernih, tulus dan ikhlas tanpa tekanan dari manapun.
Sebagaimana biasanya, melalui bahasa dan konsep untuk memperluas kesadaran diri dapat mengartikulasikan pikiran, perasaan dan imajinasi — sebagai pembentuk kesadaran — bisa semakin kompleks memasuki wilayah moral dan spiritual yang sangat terbuka dalam memilih ragam kemungkinan yang dapat dilakukan.
Begitulah proses kesadaran manusia yang tidak muncul dengan tiba-tiba, tetapi melalui proses pergulatan batin.yang cukup panjang — setelah direnungkan dan diendapkan — untuk dijadikan keputusan yang diyakini dan dipercaya sebagai pilihan yang tepat.
Pada dasarnya memang pemikiran akan membangun kerangka logis, sebelum hati memantapkan pilihannya.
Karena pikiran selalu menimbang untung dan rugi. Benar dan salah hingga sebab serta akibatnya. Tapi pikiran yang rasional tetap bisa dikalahkan oleh pikiran-hati, atau rasa.
Maka itu, dalam khazanah spiritual, banyak orang yang belum mendalami laku spiritual, berkata tidak rasional. Bahkan acap dikata klenik.
Pikiran pada dasarnya memang memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap suasana hati atau perasaan yang sedang terjadi ketika itu.
Makanya bagi seseorang yang hendak memutuskan sesuatu yang sangat penting memerlukan waktu untuk memikirkan beberapa waktu lamanya untuk merenungkan agar keputusan dapat dilakukan dengan tepat, sambil melihat berbagai macam kemungkinan dari dampaknya bila dilakukan atau tidak sama sekali dilakukan sebagai pilihan yang harus segera diputuskan.
Awal mulanya memang begitu, refleksi yang membangun konstruksi kesadaran di dalam batin setiap orang, mampu untuk mematangkan ketetapan hati, bukan ketetapan pikiran.
Sebab dalam mekanisme berpikir dan merenungkan sesuatu, kekuatan hati akan lebih dominan kuat, disamping mampu untuk meminimalisir intervensi emosi yang sepenuhnya dalam kendali hati.
Begitulah proses kesadaran manusia melalui proses yang panjang tak lelah untuk terus berusaha memelihara interaksi biologis — kerja otak — psikologis (emosi dan pengalaman) serta kecerdasan spiritual dari refleksi batin yang bersemayam di dalam jiwa.
Karena itu, stimulasi untuk indra yang terus terolah dan diasah di otak, diharmoniskan dengan emosi serta hasrat terkoordinasi dalam memori untuk menetapkan putusan pilihan yang matang. Jadi berpikir pakai otak tidak akan selalu linier dengan pikiran hari.
Meski begitu, pikiran rasional bisa kalah dengan pikiran (keyakinan) hati yang memimpin proses untuk mengambil keputusan terakhir. Sebab kecerdasan intelektual selalu berada dibelakang kecerdasan spiritual.
Dari kesadaran pemahaman inilah keputusan pilihan dilakukan dalam interval kontemplasi yang cukup untuk mempertimbangkan dampak baik maupun dampak buruknya.
Pilihan sikap pada laku spiritual pun sesungguhnya begitu, untuk memperoleh pencerahan dari cara berpikir sehingga menjadi penyuluh jiwa.
Seperti petuah para Datuk dahulu yang tetap selalu diingat, bahwa berpikir itu adalah pelita hati. Karena yang menjadi motor penggerak segenap energi spiritual adalah hati.
Maka dari itu, dalam kalangan pelaku spiritual itu pun, lebih populer berpikir dengan hati, bukan berpikir dengan otak. Hingga istilah “management wangsit” pun menjadi bagian dari khazanah bahasa yang dianggap jamak.
Posted: sarinahnews.com
Banten, 19 Juli 2025
Author: Jacob Ereste, Penulis dan Wartawan senior





