Filsafat:
PERCIKAN FILSAFAT SOSIAL: YANG OBJEKTIF ITU MUNGKIN
Djoko Sukmono
Tidak ada kata yang lebih berharga daripada ungkapan bahwa yang objektif itu mungkin.
Sebab begitu kita menempatkan kemungkinan sebagai horizon awal, maka yang objektif tidak lagi menjadi beban metafisik, melainkan medan pencarian yang selalu terbuka.
Yang objektif dapat berupa substansi, dapat pula berupa kontingensi. Bahkan, dalam kadar tertentu, ia bertempat pada seluruh kategori-kategori yang bersifat kategoris: yang menjadi kerangka berpikir manusia dalam mengenali dunianya.
Yang objektif itu bisa berupa ide, bisa berupa fenomena, bisa pula berupa realitas yang relatif namun stabil.
Ia bahkan—dalam keadaannya yang paling ekstrem—dianggap sebagai sesuatu yang “realistis”, yakni yang secara sosial-politis berhasil dipercaya sebagai kenyataan.
Namun objektivitas tidak hanya hidup dalam abstraksi. Ia menjelma menjadi manusia konkret: tubuh, nama, alamat, koordinat, dan sejarah yang spesifik.
Objektivitas bernyawa dalam diri manusia konkret yang disusun oleh determinasi-determinasi sosial dan sifat-sifat kemanusiaan yang menempel padanya: ia yang bernama penuh, lahir di tempat tertentu, dan hidup dalam struktur yang tidak ia pilih.
PENGETAHUAN DAN OBJEKTIVITAS
Pengetahuan adalah usaha manusia menggali fakta otentik dari fenomena.
Fenomena adalah apa yang tampak.
Dan yang tampak itu membutuhkan rasionalitas untuk dijelaskan: itulah yang empiris.
Namun di dalam yang empiris sendiri terdapat dua wilayah: fakta riil dan fakta non-riil.
Fakta riil adalah peristiwa yang dapat disimpan sebagai data. Fakta non-riil adalah peristiwa empiris yang masih mentah—masih berbentuk informasi—yang belum mencapai status “fakta”.
Informasi inilah wilayah abu-abu yang menuntut pembuktian, penelusuran sistematis, dan verifikasi agar menjadi objektif.
Ketika informasi tumbuh menjadi opini publik, polemik sering muncul. Tetapi polemik bukan ancaman bagi pengetahuan; ia justru tanda bahwa objektivitas sedang bekerja melalui tarik-menarik klaim, koreksi, dan kritik.
Pengetahuan pun bersifat dinamis: selalu terbuka untuk disanggah dan diperbaiki.
Maka objektivitas tidak jatuh dari langit. Ia dicari, digali, dan dinegosiasi terus-menerus.
Setiap teori berusaha menerangkan “yang objektif itu”, namun setiap teori juga membuka peluang koreksi, sehingga objektivitas senantiasa menjadi pancang sementara—alat untuk membaca realitas dalam batas-batas tertentu.
KETIKA OBJEKTIVITAS MENJADI TIDAK MUNGKIN
Namun, apa yang objektif bisa berubah menjadi tidak mungkin ketika pertentangan argumen tidak lagi menyangkut substansi, tetapi menyangkut klaim kekuasaan:
apakah yang objektif itu peristiwa? situasi? keberadaan empiris? esensi? eksistensi? sesuatu yang tercipta? atau bahkan pra-penciptaan yang lebih purba daripada dunia?
Di titik ini objektivitas terpecah menjadi klaim yang saling memaksakan. Contoh nyata telah terjadi: kegaduhan sosial-politik Indonesia ketika fakta berkembang menjadi data yang saling bertabrakan.
Tuduhan, stigma, dan hantu-hantu politik berteriak menuntut pembuktian; sementara para terdakwa menuntut “data riil”.
Ketika Mahkamah Konstitusi memutuskan fakta tidak cukup kuat untuk menjadi bukti, maka objektivitas pun runtuh menjadi frasa kosong.
Kita pun memasuki era fakta-data alternatif, di mana setiap kubu mengangkat versinya sendiri. Di sini objektivitas menjadi mustahil, sebab ia ditenggelamkan oleh manipulasi subjektif yang sistematis.
SUBJEKTIVITAS YANG MENELAN OBJEKTIVITAS
Ketidakmungkinan terhadap yang objektif muncul ketika subjektivitas justru menentukan apa yang dianggap objektif.
Ketika yang objektif dianulir, yang muncul adalah kemungkinan baru yang sering kali absurd.
Inilah teknik pembingkaian yang bekerja di dalam masyarakat: objektivitas alternatif.
Seperti segitiga: semua orang tahu luas total sudutnya 180 derajat, tetapi manusia hanya berdiri di puncaknya—10 persen saja.
Kesadarannya tinggal 18 derajat. Yang 162 derajat terabaikan, padahal justru di situlah pengertian tentang keberadaannya terbentang.
Manusia yang hanya menggunakan sedikit kesadarannya—2 atau 5 persen—pada akhirnya akan termarjinalkan dari dunianya sendiri.
Ia menjadi makhluk mekanik: hidup tetapi tidak hadir, bergerak tetapi tidak sadar, bekerja tetapi tidak memahami apa yang ia kerjakan.
YANG OBJEKTIF: HINGGA BATAS ESENSIAL
Maka jawaban atas pertanyaan besar—apakah yang objektif itu mungkin?—adalah:
yang objektif hanya mungkin hingga batas esensial.
Objektivitas berhenti pada wilayah substansi.
Tetapi ketika bergerak ke wilayah eksistensial, ia menjadi tidak mungkin, sebab eksistensi selalu berubah, selalu terperangkap dalam subjektivitas manusia konkret.
Mereka yang tidak menyadari historisitasnya akan berubah menjadi manusia mekanik yang kehilangan autentisitas.
Mereka hidup dalam ilusi, dalam makna-makna yang mereka ciptakan sendiri namun yang akhirnya membelit mereka seperti lilitan ular.
ANCAMAN MODERNITAS TERHADAP OBJEKTIVITAS
Budaya modern membuka pintu bagi proses sosial yang bergerak menuju ultimasi: keadaan di mana nilai-nilai sosial direduksi menjadi produktivitas.
Di tengah tekanan ini, muncul makhluk-makhluk sosial yang mematikan jiwa-jiwa manusia: ideologi, komodifikasi, fanatisme, dan ilusi-ilusi politik yang merampas kesadaran.
Kesadaran manusia pun dipreteli sedikit demi sedikit, hingga manusia menjadi binatang yang terjerat oleh makna: makna yang ia ciptakan sendiri, yang kemudian ia sembah seperti patung yang ia ukir.
HISTORISITAS MANUSIA DAN PERGERAKAN OBJEKTIVITAS
Manusia hidup dalam waktu: masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Namun belum ada pengertian esensial tentang waktu.
Waktu dipakai secara sembarangan, dijadikan dalih manipulatif, terutama oleh kelompok-kelompok yang hidup di dalam struktur kekuasaan.
Objektivitas pun tergerus oleh interaksi sosial yang dipenuhi kepentingan: politis, ekonomis, ideologis.
Semua ini mencengkeram rakyat dan membentuk realitas semu bernama “keadaan objektif”, padahal itu hanyalah subjektivitas yang telah dilembagakan.
OBJEKTIVITAS DALAM TEORI DAN POLITIK
Semua kelompok—religi, ideologis, akademis—mengklaim objektivitas mereka masing-masing.
Materialisme historis-dialektis mengklaim objektivitas gerak materi.
Kapitalisme mengklaim sejarah telah berakhir.
Pancasila, sebagai filsafat hukum, justru berdiri di tengah-tengah: komprehensif, tetapi sering disalahpahami.
NASAKOM pernah dianggap objektif, lalu hancur oleh sejarah. Setiap objektivitas manusia selalu terbuka bagi koreksi sejarah.
Maka apakah yang objektif itu mungkin?
Jawabannya: mungkin, tetapi hanya sebagai renungan esensial—bukan kepastian eksistensial.
Yang objektif itu mungkin sejauh ia terus dicari, diselidiki, diuji, dikoreksi, dan disadari sebagai proses yang tidak pernah selesai.
Objektivitas adalah medan perjuangan akal budi manusia yang terus membuka diri terhadap koreksi.
Dan selama manusia mau menggali kesadarannya, selama itu pula objektivitas tetap mungkin. ***)
Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 28 November 2025





