HARI ITU DAN HARI INI

HARI ITU DAN HARI INI

Filsafat:

HARI ITU DAN HARI INI
Djoko Sukomono

 

Dari rumah kecil itu.
Rumah itu berada di pojok bumi.
Rumah yang tidak tercatat di peta besar sejarah, namun di situlah denyut pertama kehidupan bergetar.

Rumah itu telah memberikan kontribusi berupa asupan makanan, tempat berteduh, tempat berbaring—tempat segala sesuatu yang membuat situasi kadang sunyi, kadang gemuruh, jiwa yang penuh kontradiksi.

Rumah itu telah menggoreskan luka yang dalam di dada.

Luka yang membuat dada sesak, tetapi justru dari sanalah muncul keberanian untuk terus hidup.

Rumah kecil itu adalah ruang sunyi tempat merenungkan kehidupan yang tiada berbatas, tiada bertepi, tiada berujung, tiada berpangkal, tempat mengalir deras ide-ide besar dunia, meski tubuh ini terkurung dalam tembok sederhana.

Di belakang rumah itu ada sebatang sungai yang mengalir tanpa peduli musim hujan maupun kemarau.

Sungai itu tenang dan keras kepala; ia mengalir karena ia harus mengalir.
Di sebelah sungai kecil itu terhampar pohon-pohon cemara yang kokoh tanpa peduli tiupan angin; seolah mereka sedang menjaga rumah kecil itu dari ambruknya dunia.

Di samping rumah itu, di kanan dan kirinya, terbentang luas rumput-rumput hijau yang indah dan kaya dengan inspirasi.
Rumput yang setiap pagi bergoyang, memberi kesan bahwa kehidupan selalu punya ritme meski dunia berhenti mendengarkan.

Di depan rumah itu matahari selalu bersinar memberikan semangat hidup—sebuah janji diam, bahwa esok masih akan datang.

Kadang kaki ini keluar dari pintu rumah itu menuju ke tempat-tempat yang tiada bermakna.

Semakin kaki ini melangkah jauh meninggalkan rumah itu, semakin banyak ketidakindahan, semakin banyak ketidakteraturan, dan semakin banyak ketidakharmonisan.

Semakin jauh, semakin terasa bahwa dunia di luar sana tidak sebersih air sungai rumah kecil itu, tidak seteguh cemaranya, tidak setulus cahaya mataharinya.

Kaki ini semakin jauh meninggalkan rumah kecil itu.
Dan lebih jauh lagi.
Dan semakin jauh lagi.

Di tempat yang sangat jauh dari rumah kecil itu terdapat sebuah rumah besar—rumah yang menjadi rumahku yang baru.
Rumah besar yang dulu hanya menjadi bayangan di benak: tempat segala impian diletakkan, tempat cita-cita besar hendak dibangun.

Dari rumah besar itu terlaksana sebuah impian besar yang dulu hanya menjadi angan di rumah kecil itu.

Namun rumah besar itu adalah imitasi yang membosankan.

Rumah besar itu tidak punya jiwa.
Di rumah besar itu tempat segala pecundang menjilat pantat tuannya.

Di rumah besar itu tempat merumuskan kejahatan.

Rumah besar itu adalah singgasana kekuasaan yang dikelilingi bandit-bandit politik yang tersenyum sambil menyembunyikan pisau di balik punggung mereka.

Di rumah besar itu tidak indah.
Di rumah besar itu bukan tempat tinggal yang damai.

Di rumah besar itu adalah sebuah tempat yang paling memuakkan—tempat di mana suara manusia dibungkam, namun ambisi manusia dipelihara.

Akan tetapi, rumah kecil itu telah menjadi rumah kenangan yang kini jauh dan lama.
Dan… ketika terkenang akan rumah kecil yang indah, yang damai itu, ada semacam kerinduan yang membara.

Kerinduan yang menusuk seperti duri, karena ia memanggil, tetapi tidak memberi jawaban.

Kemana kaki ini melangkah?
Kepada rumah yang baru?
Atau kembali jalankan juang dan tualang?
Atau berteriak sekeras-kerasnya:

KAPAN dan DIMANA
… rumah itu dapat kutemukan kembali? ***)

Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 26 November 2025