Dengan gejolak yang terjadi di Indonesia, apakah revolusi bisa terjadi?

Dengan gejolak yang terjadi di Indonesia, apakah revolusi bisa terjadi?

Opini:

Dengan gejolak yang terjadi di Indonesia, apakah revolusi bisa terjadi?
Oleh Liem Candra

Revolusi? Di negeri ini? Tolong, jangan ajak saya membahas komedi. Itu pertanyaan yang lahir dari ruang baca mahasiswa naif atau warung kopi yang kehabisan topik.

Revolusi butuh api. Yang kita punya hanya bara dalam sekam, yang setiap hari disiram air comberan bernama ‘stabilitas’.

Saya di sini bukan untuk meramal. Saya di sini untuk melakukan autopsi pada bangkai yang mereka sebut ‘demokrasi’.

Tugas saya adalah mencatat setiap gigitan para elite di dagingnya, menunjuk di mana jantungnya berhenti berdetak, dan menertawakan bagaimana ulat-ulat kekuasaan berpesta pora di atasnya, sambil meyakinkan semua orang bahwa bangkai ini masih sehat dan bugar.

Mari kita lihat organ-organ dalam yang sudah membusuk itu.

1. Sirkus Para Badut, Bukan ‘Fragmentasi Elite’

Lupakan ‘perpecahan elite’. Itu dongeng pengantar tidur. Yang ada adalah sirkus para badut yang saling melempar kue ke wajah di depan kamera, lalu berpelukan di belakang tenda untuk menghitung pemasukan.

Mereka tidak terpecah, mereka hanya memainkan peran yang berbeda dalam drama yang sama.

Oposisi? Itu hanya nama lain untuk tim cadangan yang sabar menunggu giliran menjilat piring kotor kekuasaan.

Mereka bertengkar soal merek sampanye di pesta, bukan soal siapa yang harus membayar tagihannya.

2. Sindrom Stockholm Politik, Bukan ‘Kepercayaan Publik’

Data survei yang menunjukkan publik percaya pada Presiden dan TNI adalah diagnosis, bukan prestasi. Itu bukan kepercayaan, itu Sindrom Stockholm politik. Rakyat disandera oleh sistem yang busuk, lalu jatuh cinta pada penyanderanya yang paling gagah.

Mereka begitu jijik dengan tikus-tikus korup di parlemen, sehingga mereka memuja kucing garong yang ditugaskan menjaga lumbung padi, tanpa sadar bahwa kucing itu juga perlu makan. Ini adalah bukti keberhasilan pembodohan, bukan legitimasi.

3. Satpam Kekuasaan, Bukan ‘Aparat yang Kohesif’

TNI/Polri solid? Tentu saja. Soliditas mereka adalah garansi polis asuransi bagi rezim. Mereka bukan lagi wasit yang netral.

Mereka adalah satpam yang dibayar mahal untuk memastikan tidak ada penghuni rumah yang mengeluh terlalu keras, apalagi sampai mencoba mendobrak pintu kamar tuannya. Loyalitas mereka tidak lagi pada konstitusi, tapi pada stabilitas—stabilitas singgasana.

Kalau rakyat lapar, berikan mereka program makan siang gratis sebagai obat bius. Tapi jangan pernah berikan mereka pendidikan kritis yang membuat mereka bertanya mengapa mereka lapar sejak awal.

Maka, skenario masa depan bukanlah soal revolusi. Itu pilihan menu palsu. Pilihan yang nyata hanya satu: menerima dosis anestesi berikutnya atau tidak.

Pemerintah akan terus menyuntikkan program populis dan narasi kebanggaan semu untuk menjaga pasien tetap tenang di meja operasi, sementara organ-organ vitalnya terus diambil satu per satu.

Di republik ini, kita tidak memilih pemimpin. Kita hanya diizinkan memilih warna rantai yang akan mengikat kita untuk lima tahun ke depan.

Jadi, lupakan revolusi. Pertanyaan yang lebih jujur adalah: Seberapa nyaman kursi penonton Anda? Seberapa nikmat popcorn yang Anda kunyah sambil menyaksikan babak akhir dari komedi tragis ini?

Jika ini adalah teriakan Anda yang selama ini tercekat di tenggorokan, gunakan. Suarakan. Karena revolusi tidak akan pernah datang dari mereka yang masih berharap pertunjukan ini akan berakhir bahagia.

Masalahnya bukan presidennya. Masalahnya adalah kita, penonton yang setia membeli tiket untuk pertunjukan yang sama, lagi, dan lagi.

Salam santun persahabatan Liem Chandra (OPUS)

Posted: sarinahnews.com
Malang, 6 September 2025