EROPA MEMBARA, INDONESIA HARUS WASPADA!
Oleh: Saiful Huda Ems (SHE)
_Ketika rakyat merasa pemerintah tak mampu mengatasi mahalnya hidup, pengangguran, dan ketimpangan, protes ekonomi bisa berubah menjadi perlawanan politik._
Gelombang demonstrasi dan kerusuhan besar terjadi di Prancis, dan ternyata tidak hanya di sana. Secara bersamaan, gejolak serupa melanda Italia, Belgia, Portugal, Albania, hingga Spanyol.
Tuntutannya hampir sama: mahalnya biaya hidup, pendidikan, upah murah, dan krisis perumahan.
Di Prancis, bentrokan dengan polisi, penjarahan toko, hingga pembakaran gedung pemerintahan meluas di berbagai kota, terutama Paris. Pemicunya: biaya hidup yang melambung dan layanan publik yang memburuk.
Di Italia, tepatnya Milan dan Bologna, protes biaya hidup dan isu sosial berujung bentrok, gas air mata, dan penangkapan massal.
Di Belgia, di Brussel dan Liège, protes mahasiswa dan warga soal biaya pendidikan dan kebijakan anggaran berujung benturan dengan aparat.
Di Portugal, di Lisboa, ribuan orang memprotes mahalnya perumahan dan rendahnya upah dengan aksi demonstrasi hingga mendirikan tenda-tenda protes.
Di Albania, pemerintah menghadapi protes soal pendidikan, lapangan kerja, dan desakan pengunduran diri perdana menteri. Sementara di Spanyol, mobilisasi massa dipicu krisis perumahan dan ketimpangan sosial.
Apakah ini tanda Eropa sedang menuju revolusi sosial skala kontinental? Belum. Tapi ada tiga hal yang patut dicermati:
Pertama, krisis ekonomi dan legitimasi politik. Ketika rakyat merasa pemerintah tak mampu mengatasi mahalnya hidup, pengangguran, dan ketimpangan, protes ekonomi bisa berubah menjadi perlawanan politik.
Kedua, meluasnya basis gerakan. Ketika mahasiswa, buruh, serikat pekerja, dan kelompok masyarakat lain bergerak bersama, tekanan terhadap pemerintah akan berlipat.
Ketiga, perubahan tuntutan. Aksi akan menjadi serius ketika tuntutan yang awalnya ekonomi berubah menjadi politik: desakan pengunduran diri pemerintah atau perubahan sistem kekuasaan.
Sejumlah media internasional melaporkan, protes di negara-negara itu memang berlangsung terpisah dan tidak terkoordinasi sebagai satu gerakan tunggal, meski keluhannya serupa. Namun, media-media itu juga menyebut potensi munculnya titik-titik protes baru di negara Eropa lainnya.
Perlu dipahami, gelombang keresahan lintas negara ini memang bermula dari Prancis, tetapi hingga hari ini belum bisa dikatakan bahwa kerusuhan di Prancis telah menyebar dan menyatukan seluruh Eropa dalam satu gerakan revolusioner.
Apakah gelombang ini akan berhenti sebagai protes biaya hidup, atau berkembang menjadi krisis kepercayaan terhadap pemerintahan dan tatanan politik Eropa? Kita lihat saja perkembangan selanjutnya.
Kita tentu berharap Eropa tidak mengalami nasib seperti Arab Spring yang dimulai dari Tunisia pada 17 Desember 2010, lalu merembet ke Timur Tengah hingga Afrika Utara, dan berakhir dengan luluh lantaknya negara-negara di sana.
Dan kita juga berdoa, semoga huru-hara dahsyat di Eropa itu tidak merembet ke Indonesia. Karena jujur saja, situasi sosial kita nyaris sama: mahalnya biaya hidup, pendidikan, kesehatan, transportasi, rendahnya upah buruh, dan buruknya layanan publik.
Karena itu, sudah sepatutnya kita mengingatkan pemerintah agar bekerja lebih serius, lebih peka terhadap penderitaan rakyatnya.
Jika tidak ingin “diPariskan”, terlebih “diNepalkan”! Betul tidak? ***)
Posted: sarinahnews.com
Jakarta, 19 Oktober 2026
Saiful Huda Ems (SHE) – Pengamat Politik





