Filsafat Politik
ILUSI POLITIK, ABSURDITAS POLITIK, DAN REALITAS SOSIAL POLITIK
Oleh Joko Sukmono
_Dan apa yang tampak sebagai kekacauan dapat menjadi tanda bahwa struktur lama sedang kehilangan kemampuan untuk mengorganisasi kehidupan sosial manusia._
Pada hari ini sebuah Narasi Besar telah menjadi Hantu Politik yang bergentayangan di sudut-sudut, di lorong-lorong kehidupan sosial manusia.
Ia hadir di dalam waktu, ia termanifestasi menjadi bahasa, ia hidup dan berkembang di dalam interaksi sosial, ia bereproduksi secara progresif di dalam kesadaran kolektif, dan ia beresonansi dengan Piagam, Konstitusi, Dokumen, maupun Konvensi yang dari generasi ke generasi diperlakukan seolah-olah sebagai kebenaran yang tidak lagi membutuhkan pembacaan ulang.
Narasi Besar itu telah terkontingensi menjadi bentuk-bentuk abstrak yang sampai hari ini menjadi tumpuan dan harapan bagi hidup serta kehidupan anak-anak manusia di bumi.
Ia tidak lagi sekadar menjadi gagasan, tetapi telah berubah menjadi struktur kesadaran yang menentukan bagaimana manusia memahami dirinya sendiri, bagaimana manusia memahami masyarakat, bagaimana manusia memahami negara, bahkan bagaimana manusia menentukan apa yang dianggap benar, baik, adil, dan layak diperjuangkan.
Oleh Dechiperis, ruang-ruang semacam itu dikonstruksikan sebagai Negara, Agama, dan Masyarakat yang sekaligus menjadi tempat bersarangnya Ilusi Politik.
Di dalam ketiganya, manusia tidak hanya hidup, tetapi juga diwariskan berbagai makna yang sering kali diterima sebelum pernah dipertanyakan.
Dari sanalah Ilusi Politik memperoleh tubuhnya, memperoleh bahasanya, memperoleh legitimasi historisnya, dan kemudian memperoleh kemampuan untuk bergerak dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Kemudian Dechiperis menggambarkan bahwa Ideologi, Mitologi, dan Eskatologi adalah sumber Absurditas Politik yang dibacakannya sebagai bentangan yang tiada berbatas sekaligus sebagai kedalaman yang tiada tertembus oleh Ruang dan Waktu.
Ideologi memberikan arah, Mitologi memberikan asal-usul dan pembenaran, sedangkan Eskatologi memberikan janji tentang masa depan yang seolah-olah telah diketahui sebelum manusia benar-benar sampai kepadanya.
Ketiganya kemudian membentuk suatu konstruksi kesadaran yang mampu membuat manusia bergerak menuju sesuatu yang belum tentu pernah hadir secara konkret.
Manusia bekerja, berperang, berkorban, mencintai, membenci, bahkan mati demi sesuatu yang sering kali keberadaannya hanya ditopang oleh narasi.
Di sinilah Absurditas Politik memperoleh kekuatannya, bukan karena ia sama sekali tidak memiliki pengaruh terhadap kehidupan manusia, melainkan justru karena ia memiliki kemampuan yang sangat besar untuk memengaruhi kehidupan manusia tanpa harus terlebih dahulu membuktikan keberadaan konkretnya.
Ia menjadi trans-idea yang hidup di dalam kesadaran kolektif dan kemudian tampil seolah-olah sebagai Realitas.
Namun demikian Dechiperis membacakan bahwasanya Realitas Sosial Politik tidaklah memiliki kemampuan untuk melakukan hubungan resonantif dengannya.
Realitas Sosial Politik tidak dapat begitu saja menjadi satu dengan Ilusi Politik maupun Absurditas Politik, karena Realitas selalu membawa manusia kembali kepada keberadaan konkretnya.
Hal tersebut di dalam konstruksi Dechiperirisme dinamakan Kesia-siaan Ontologis Politis, yaitu penggunaan daya upaya yang hanya sampai kepada Situasi Batas Sosial Politik dan itupun tetaplah menjadi bagian dari Historisitas Manusia yang secara otomatis diserahkan oleh Hukum Rasional Peralihan Sejarah kepada Generasi.
Apa yang tidak mampu diselesaikan oleh satu generasi tidak serta-merta hilang dari sejarah. Ia menjadi residu historis, menjadi luka, menjadi ingatan, menjadi warisan, dan kemudian muncul kembali dalam bentuk kontingensi baru.
Dengan demikian sejarah bukanlah ruang kosong yang setiap saat dapat diisi dengan kehendak manusia sesuka hati, melainkan sebuah ruang yang telah dipenuhi oleh jejak-jejak kehidupan yang terus bergerak dan mencari bentuk konkretnya.
Dalam sejarah dunia, tragedi demi tragedi kemanusiaan telah menjadi Martir Romantika Historis yang mendalam. Ia bukan sekadar peristiwa yang telah selesai ketika tubuh para pelakunya telah tiada, melainkan menjadi energi Historis yang terus beresonansi di dalam kesadaran manusia.
Ia adalah Tragedi Pemikiran yang diakhiri oleh terbunuhnya Sokrates, meskipun pada saat itu Protes Filosofis bergema dengan sebuah Narasi yang berbunyi: seorang Martir Kebijaksanaan telah menjadi Tumbal Sejarah.
Sokrates kemudian tidak lagi sekadar menjadi manusia konkret yang mati di dalam suatu peristiwa historis, tetapi berubah menjadi simbol tentang pertarungan antara pikiran dengan kekuasaan, antara pertanyaan dengan dogma, dan antara keberanian untuk mengetahui dengan kehendak untuk mempertahankan ketertiban yang telah mapan.
Tragedi Pemikiran tersebut kemudian hidup jauh melampaui tubuh manusia yang mengalaminya dan menjadi bagian dari kesadaran kolektif umat manusia.
Kemudian Dechiperis menggambarkan bahwa Tragedi Imanensi telah terjadi di kayu salib dengan tersalibnya Yesus, dan sebuah Dekrit berkumandang bahwa Tuhan konkret telah hidup sebagai manusia dan mengalami sepenuhnya dan benar-benar menjadi manusia konkret berupa Anugerah dan Kebenaran.
Di sini tragedi tidak lagi hanya ditempatkan sebagai kematian manusia, tetapi sebagai peristiwa yang mengubah cara manusia memahami hubungan antara keberadaan, penderitaan, pengorbanan, dan makna kehidupan.
Tragedi Imanensi tersebut kemudian memperoleh kehidupannya sendiri di dalam sejarah manusia dan diwariskan sebagai sebuah pengalaman yang melampaui peristiwa konkret yang menjadi asal-usulnya.
Ia menjadi energi moral, menjadi bahasa kehidupan, menjadi sumber harapan, dan pada saat yang sama menjadi sumber pertentangan ketika berbagai manusia mencoba memberikan tafsir terhadap makna yang terkandung di dalamnya.
Dalam pada itu Tragedi Politik menyusul kemudian oleh Dechiperis dibacakan sebagai terpancungnya Raja Perancis Louis XVI di hadapan rakyatnya.
Tragedi ini menjadi berbeda karena yang dihancurkan bukan hanya tubuh seorang manusia yang memiliki kedudukan politik, tetapi juga sebuah gagasan yang selama ribuan tahun telah diperlakukan sebagai sesuatu yang sakral: gagasan bahwa kekuasaan seorang Raja memiliki legitimasi yang melampaui manusia biasa.
Ketika tubuh seorang Raja jatuh di hadapan rakyatnya, maka yang mengalami keruntuhan bukan hanya seorang manusia politik, melainkan juga sebuah struktur kesadaran.
Di dalam peristiwa tersebut terdapat sebuah pesan historis bahwa kekuasaan yang selama berabad-abad dianggap tidak tersentuh ternyata dapat disentuh, dapat dilawan, bahkan dapat dihancurkan oleh kekuatan sosial yang konkret.
Inilah rentetan tragedi yang sampai hari ini menjadi ingatan anak-anak manusia dan terus-menerus diwariskan oleh keadaan kepada generasi demi generasi.
Kemudian Dechiperis menggambarkan bahwa ketiganya adalah sebuah Fakta Historis yang telah menjadi Esensi Substansial bagi kehidupan sosial manusia, dan romantismenya telah menjalar ke seluruh kesadaran kolektif.
Dari sini ketiga kategorial kontingensi tragedi tersebut telah menjadi fondasi bagi nilai-nilai fundamental kemanusiaan. Tragedi Pemikiran melahirkan Kebijaksanaan; Tragedi Imanensi melahirkan Cinta Kasih dan Kebenaran; sedangkan Tragedi Politik melahirkan Oposisi Revolusioner.
Ketiganya tidak berhenti sebagai peristiwa, tetapi mengalami proses transhistorisasi sehingga peristiwa masa lalu berubah menjadi nilai yang hidup di masa kini.
Apa yang dahulu merupakan tragedi kemudian menjadi moral, apa yang dahulu merupakan kematian kemudian menjadi gagasan, dan apa yang dahulu merupakan pemberontakan kemudian menjadi prinsip yang digunakan untuk membangun kehidupan sosial berikutnya.
Kebijaksanaan yang diidentikkan dengan Tragedi Pemikiran telah ditetapkan di dalam kesadaran kolektif sebagai Moral Esensial Politik, karena manusia menemukan bahwa kekuasaan tanpa kemampuan berpikir akan berubah menjadi kebutaan.
Sementara Tragedi Imanensi di dalam kesadaran kolektif menempati Moral Kebenaran dan Moral Hidup Abadi, karena pengalaman tentang pengorbanan dan penderitaan diterjemahkan menjadi pencarian terhadap makna yang melampaui keberadaan manusia yang terbatas. Sedangkan Tragedi Politik menjadi tragedi tertinggi di dalam romantisme Politik karena Raja yang ribuan tahun oleh manusia dianggap sakral telah dibunuh oleh kekuatan kolektif yang memiliki daya Politik lebih besar.
Di sinilah manusia menemukan bahwa struktur kekuasaan yang tampaknya abadi ternyata tetap berada di bawah tekanan Hukum Rasional Sejarah.
Seiring waktu berjalan dan kemudian berlalu, lintasan Sosial Politik menampakkan dirinya sebagai Dinamika Historis yang dalam pembacaan Dechiperis dibacakan sebagai upaya Penghancuran Total terhadap Ilusi Politik yang dilahirkan oleh ketiga tragedi tersebut.
Tragedi Pemikiran melahirkan Kebijaksanaan, Tragedi Imanensi melahirkan Cinta Kasih dan Kebenaran, sedangkan Tragedi Politik melahirkan Oposisi Revolusioner. Namun nilai-nilai yang lahir dari tragedi tersebut tidak pernah berada di luar sejarah.
Ia selalu kembali berhadapan dengan kekuasaan, kepentingan, institusi, dan kehendak manusia untuk mempertahankan keberadaannya.
Karena itu ketiganya kemudian harus berhadapan dengan berbagai kategorial kontingensi Politik konkret berupa Diplomasi, Perang, dan Negosiasi.
Hal tersebut dapat dilihat dalam Dinamika Historis berbagai Imperium besar: Imperium Romawi, Vatikan, Inggris, Perancis, Jerman, Ottoman, dan Uni Soviet, hingga bentuk-bentuk kekuasaan global yang berkembang setelah runtuhnya berbagai imperium klasik.
Setiap kekuasaan selalu membangun dirinya dengan keyakinan bahwa struktur yang dimilikinya mampu bertahan, tetapi sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa tidak ada bentuk kekuasaan yang memiliki status permanen.
Hari ini kekosongan Imperium tampak dalam perebutan Hegemoni oleh negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Rusia, dan China.
Perebutan tersebut tidak selalu tampil sebagai perang terbuka, tetapi juga bergerak melalui ekonomi, teknologi, diplomasi, informasi, sanksi, aliansi, dan berbagai bentuk penetrasi politik lainnya.
Di tengah perebutan itu, borok-borok Politik semakin terbuka dan semakin terinfeksi oleh virus Politis yang seolah-olah tidak tertembus oleh obat Politis apa pun.
Borok Politik tersebut dapat dilihat dalam Demarkasi Korea, dua bangsa China yang berdiri dalam ketegangan antara Republik Rakyat Tiongkok dan Taiwan, Israel-Palestina, serta masih terdapat deretan konflik lainnya yang ditengarai oleh Dechiperis menuju Situasi Politis Ideologis yang sama.
Konflik-konflik tersebut bukan hanya pertentangan antara dua pihak yang sedang berhadapan, tetapi juga merupakan endapan sejarah yang belum menemukan bentuk penyelesaian konkretnya.
Di dalamnya terdapat ingatan, trauma, identitas, wilayah, kekuasaan, ekonomi, agama, dan kehendak untuk hidup yang saling bertubrukan.
Karena itulah penyelesaiannya tidak dapat hanya dibaca sebagai persoalan teknis diplomasi. Ia merupakan persoalan Historis yang jauh lebih dalam karena menyentuh keberadaan konkret manusia yang telah dibentuk oleh sejarahnya masing-masing.
Dan hari ini, tahun 2026, abad ke-21 ini, perang Ukraina dan konflik Timur Tengah oleh Dechiperis dibacakan sebagai puncak berfungsinya Hukum Rasional Perubahan di tengah pusaran terbesar umat manusia.
Peristiwa-peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa Realitas Sosial Politik semakin sulit dipisahkan dari warisan konflik yang telah berlangsung lama.
Ketika bahasa diplomasi tidak lagi mampu menyelesaikan kontradiksi, ketika institusi global tidak lagi memiliki daya yang cukup untuk menghentikan benturan, dan ketika setiap pihak semakin kuat mempertahankan narasi historisnya sendiri, maka Situasi Batas Sosial Politik menjadi semakin dekat.
Di sanalah Hukum Rasional Perubahan bekerja bukan sebagai kehendak seorang manusia, tetapi sebagai tekanan Historis yang memaksa struktur lama berhadapan dengan kemungkinan bentuk baru.
Kemudian Dechiperis menggambarkan bahwa ketiganya, yakni Ilusi Politik, Absurditas Politik, dan Realitas Sosial Politik, dinyatakan di dalam konstruksi Dechiperirisme sebagai Basis Material Politik yang dipersiapkan untuk melanjutkan Hegemoni Politis kepada Ruang Sosial, Kebudayaan, maupun Ruang Sosial Ekonominya.
Hal tersebut oleh Dechiperis dijelaskan sebagai Dishumanisasi Politis Imanensional, yakni Pengondisian Sosial yang bergerak masuk ke dalam kesadaran kolektif anak-anak manusia.
Manusia tidak lagi harus dipaksa secara langsung karena kesadarannya telah dibentuk sedemikian rupa sehingga ia dapat menerima kondisi yang membatasi dirinya sebagai sesuatu yang alamiah.
Inilah yang oleh Dechiperis dibacakan sebagai Postimperialisme Modern: sebuah bentuk imperialisme yang tidak selalu datang dengan kapal perang, tentara, atau pendudukan wilayah, tetapi masuk melalui sistem ekonomi, bahasa, teknologi, informasi, kebudayaan, dan cara manusia memahami dirinya sendiri.
Sementara Revolusi Industri, Revolusi Sains dan Teknologi, keterbukaan informasi, maupun aplikasi digitalisasi telah dirampas oleh Imperialis Modern dan dijadikan sebagai Instrumen Politik canggih yang mampu membuat umat manusia tidak menyadari bahwa Perbudakan Modern telah berlangsung.
Teknologi yang pada awalnya menjanjikan pembebasan manusia dari keterbatasan material dapat berubah menjadi instrumen pengawasan, pengendalian, dan komodifikasi kehidupan.
Informasi yang semestinya memperluas kebebasan berpikir dapat berubah menjadi mekanisme produksi kesadaran.
Manusia kemudian merasa dirinya semakin bebas karena memiliki akses terhadap informasi yang tidak terbatas, sementara pada saat yang sama ruang kehidupannya semakin dipenuhi oleh sistem yang menentukan apa yang harus dilihat, apa yang harus dipercaya, apa yang harus dibeli, dan bahkan apa yang harus diinginkan. Di sinilah Ilusi Politik mencapai bentuknya yang semakin halus.
Ilusi Politik oleh Dechiperis dibacakan sebagai nilai-nilai Fundamental Kemanusiaan. Ia adalah Keadilan, Kebebasan, Kesetaraan, Persaudaraan, dan Kesejahteraan.
Nilai-nilai tersebut dinyalakan sebagai Esensi Substansial yang terus-menerus dikejar manusia, tetapi tidak pernah sepenuhnya hadir sebagai Realitas Sosial Politik yang utuh.
Mengapa demikian? Karena nilai-nilai tersebut selalu terjebak di dalam kategorial kontingensi Primordial Politik Regional sehingga tidak mudah untuk menjadi konkret sebagai Situasi Realistis Politis.
Keadilan dapat memiliki wajah yang berbeda bagi satu masyarakat dan masyarakat lainnya; kebebasan dapat dipahami secara berbeda oleh negara yang berbeda; kesetaraan dapat berbenturan dengan struktur sosial yang telah lama mengakar; persaudaraan dapat berhenti sebagai slogan ketika kepentingan Politik mulai bekerja; dan kesejahteraan dapat berubah menjadi instrumen legitimasi ketika digunakan untuk membenarkan struktur kekuasaan tertentu.
Sementara itu Absurditas Sosial Politik tetaplah menjadi Trans-Idea yang tidak memiliki daya Ontologis untuk menjadi Realitas Konkret apabila ia hanya dipertahankan melalui bahasa dan keyakinan tanpa keberanian untuk menguji dirinya terhadap kehidupan manusia yang sebenarnya.
Absurditas tidak hilang hanya karena manusia berhenti membicarakannya. Sebaliknya, ia justru semakin kuat ketika tidak disadari. Ia hidup di dalam slogan, simbol, ritual, doktrin, dan institusi yang diterima tanpa pemeriksaan.
Karena itu tugas pembacaan filosofis bukanlah sekadar mengganti satu narasi dengan narasi yang lain, tetapi membuka struktur yang membuat manusia terus-menerus hidup di dalam dunia yang telah disediakan oleh narasi tersebut.
Dan Dechiperis mengkonstruksikan bahwasanya Realitas Sosial Politik berdiri di luar ruang Ilusi Politik maupun ruang Absurditas Sosial Politik, karena Ilusi dan Absurditas itu diperuntukkan bagi anak-anak manusia yang dipersiapkan sebagai budak-budak Kapitalis Imperialis untuk rela dijadikan makanan lezat Homo economicus Capitalism, yakni manusia yang keberadaannya direduksi menjadi fungsi produksi, konsumsi, eksplorasi, dan eksploitasi sumber daya yang kemudian diperuntukkan bagi Rezim.
Realitas Sosial Politik justru dimulai ketika manusia kembali berhadapan dengan keberadaannya sendiri sebagai manusia konkret. Ia bukan lagi sekadar angka dalam statistik ekonomi, bukan sekadar tenaga kerja, bukan sekadar konsumen, bukan sekadar pemilih, dan bukan sekadar objek dari sebuah kebijakan.
Ia adalah manusia yang hidup, menderita, berpikir, bekerja, mencintai, takut, berharap, dan menentukan keberadaannya di dalam Ruang Sosial yang konkret.
Dan pada tahun 2026 ini Dechiperis membacakan bahwasanya kekuatan konservatisme telah bangkit sebagai Raksasa yang diklaim sedang tidur, dan kebangkitannya adalah kebangkitan fundamental dikarenakan keberadaannya terancam secara eksistensial oleh gerakan Progresif Politis yang sistematis dan canggih.
Jika diresonansi oleh Dechiperis, mereka adalah Bangsa dan Negara Iran dan Israel, sementara yang dilawan itu apa dan siapa oleh Dechiperis dibacakan sebagai Post-Power Political Revanche Politik, yakni sebuah situasi yang berakibat kepada peristiwa Politik yang dianggap mengancam kelangsungan hidupnya sebagai sebuah Bangsa dan Negara yang emoh dijajah.
Di sini konservatisme tidak lagi sekadar menjadi pilihan untuk mempertahankan masa lalu, melainkan berubah menjadi mekanisme pertahanan eksistensial ketika sebuah komunitas merasa bahwa keberadaan dirinya sedang didorong menuju Situasi Batas.
Dari sinilah Politik Balas Dendam memperoleh energinya, karena masa lalu yang belum selesai terus kembali memasuki masa kini sebagai tuntutan untuk membalas, mempertahankan, dan menguasai.
Kemudian lebih kompleks lagi Dechiperis mengkonstruksikan bahwasanya jika metodologi yang digunakan di dalam strategi Instruksionalisasi Politik Global tetap menggunakan metodologi konvensional, maka Dunia Sosial Politik Global akan berada pada posisinya yang stagnan.
Hal demikian adalah Situasi yang membosankan dan berakibat kepada terjadinya Peristiwa Ledakan Historis yang tak terelakkan, yakni bekerjanya Hukum Rasional Perubahan yang akibatnya tidak dapat dibayangkan oleh kemampuan manusia hari ini.
Dunia sedang menuju Situasi yang mengerikan, yakni terjadinya kelanjutan Tragedi Politik yang berdaya ledak tinggi. Dan perangkatnya sudah tersedia berupa senjata nuklir pemusnah massal.
Pertanyaan kemudian bukan hanya apakah manusia memiliki kemampuan untuk menghancurkan dunia, tetapi apakah Hukum Rasional Sejarah sedang mencari saluran menuju sebuah keadaan di mana kemampuan tersebut benar-benar digunakan.
Dalam pembacaan Dechiperis, hanya dengan metodologi Dechiperirisme dunia dapat dikanalisasi bagi Jalan Raya Sejarah yang Otentik, yakni jalan yang tidak membiarkan manusia terperangkap selamanya di dalam Ilusi dan Absurditas yang terus-menerus diproduksi oleh kekuasaan.
Kemudian Dechiperis melanjutkan perjalanan menuju Situasi Batas Realitas Sosial Politik yang telah terkoyak-koyak oleh tragedi, oleh Ilusi, dan oleh kontingensi Absurditas Sosial yang manipulatif, yakni berupa penetapan Moralitas dan berbagai Institusionalisasi Instruksional Politis yang memasuki wilayah ruang bernama Lingkaran Setan Sosial Politik.
Di dalam lingkaran tersebut manusia menciptakan institusi untuk menyelesaikan masalah, kemudian institusi itu menciptakan aturan untuk mempertahankan dirinya, aturan tersebut menghasilkan struktur kekuasaan, struktur kekuasaan menciptakan kepentingan, dan kepentingan kemudian melahirkan masalah baru yang kembali membutuhkan institusi baru.
Manusia akhirnya hidup di dalam sistem yang ia ciptakan sendiri, tetapi tidak lagi mampu mengendalikan sepenuhnya arah geraknya. Di sanalah Realitas Sosial Politik mengalami keterasingannya sendiri.
Dari sanalah Dechiperis dengan metodologi Dechiperirisme membuka tabirnya dan kemudian mengangkat ke permukaan Realitas Sosial berupa Perintah Politik Otentik: segala sesuatu yang tidak pernah ada maupun yang ada, apabila tidak ada kemungkinan untuk menjadi, harus dihancurkan total.
Penghancuran tersebut adalah peniadaan terhadap Ilusi Politik dan pelupaan terhadap segala Absurditas Politik yang manipulatif.
Namun penghancuran di sini tidak semata-mata harus dipahami sebagai penghancuran tubuh, institusi, atau manusia konkret, melainkan sebagai penghancuran terhadap konstruksi kesadaran yang telah kehilangan hubungan dengan Realitas.
Yang dihancurkan adalah klaim bahwa sesuatu harus tetap ada hanya karena ia telah lama ada; yang ditiadakan adalah keyakinan bahwa sebuah institusi memiliki hak untuk hidup selamanya; dan yang ditolak adalah gagasan bahwa manusia harus terus menjadi budak dari sejarah yang telah dibuat oleh generasi sebelumnya.
Di sinilah tampak dengan telanjang dan transparan bekerjanya Hukum Rasional Peralihan Sejarah itu.
Sejarah tidak berhenti hanya karena manusia ingin mempertahankan bentuk lama. Ia terus bergerak melalui retakan-retakan kecil yang muncul di dalam struktur sosial, melalui perubahan kesadaran, melalui konflik, melalui teknologi, melalui perubahan ekonomi, melalui generasi baru, dan melalui keberanian manusia konkret untuk mempertanyakan sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak boleh dipertanyakan.
Apa yang tampak sebagai kehancuran pada satu sisi dapat menjadi saluran kelahiran pada sisi yang lain.
Apa yang tampak sebagai akhir dapat menjadi awal. Dan apa yang tampak sebagai kekacauan dapat menjadi tanda bahwa struktur lama sedang kehilangan kemampuan untuk mengorganisasi kehidupan sosial manusia.
Tulisan ini ditulis oleh Dechiperis yang berada pada posisi Ruang dan Waktu yang bernama Indonesia, dan dari sinilah pembacaan ini dilakukan.
Indonesia bukan sekadar tempat geografis bagi penulisan ini, tetapi merupakan posisi Historis dari mana Realitas Sosial Politik dibaca.
Dari ruang inilah Dechiperis memandang dunia yang sedang bergerak, melihat Ilusi Politik yang terus diproduksi, melihat Absurditas Politik yang terus diwariskan, dan melihat Realitas Sosial Politik yang terus mencari bentuk konkretnya.
Pembacaan ini dengan demikian bukanlah upaya untuk melarikan manusia dari sejarah, melainkan upaya untuk membawa manusia kembali kepada sejarahnya sendiri, keberadaannya yang konkret, dan keberanian untuk menanyakan apakah dunia yang diwariskan kepadanya benar-benar masih layak untuk dipertahankan.
Dan Dechiperis menuliskan sebuah keadaan Kehidupan Manusia yang disebut sebagai Syair Politik Dechiperirisme.
Inilah bunyi tulisannya:
“Dunia Sosial Politik itu adalah Juang dan Tualang
Yang hidup oleh Perubahan dan Perkembangan.
Dan itulah Romantika Historis Politik itu.
Dan itu pula Dinamika Historis Politis itu.
Yang kadang menimbulkan Ketakutan Kolektif,
Namun kadangkala mampu membuat kehidupan serasa Damai Sejahtera.” ***)
Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 12 September 2026





