Sebuah Memori Historis Misterius dan Inagurasi Politik

Sebuah Memori Historis Misterius dan Inagurasi Politik

Filsafat Politik

Sebuah Memori Historis Misterius dan Inagurasi Politik
Joko Sukmono

_Siapa pun yang bertahan hanya dengan nostalgia sejarah pada akhirnya akan dihancurkan oleh sejarah itu sendiri._

Manusia adalah Dimensi yang multi kompleks, konkret dan otentik. Namun demikian dechiperisme membacakan bahwa Manusia Konkret dan Otentik itu tidaklah mungkin dapat sungguh-sungguh menjadi ‘ada’ secara sempurna.

Hal tersebut dikarenakan setiap manusia yang hidup di dalam dunia sosial selalu dibatasi oleh ruang, waktu, keadaan, sejarah dan berbagai determinasi yang tidak dapat sepenuhnya dikuasainya.

Oleh sebab itu, manusia selalu berada pada situasi keberadaan yang belum selesai, selalu bergerak menuju dirinya sendiri namun tidak pernah benar-benar tiba pada puncak eksistensinya.

Indikasi yang menyebabkannya cukup kompleks, rumit dan berbelit-belit, yang dalam bahasa Dechiperisme manusia Konkret dan Otentik itu tetap berada pada posisi esensinya yang retak dikarenakan adanya batasan empirik yang mengikutinya yakni kematian.

Kematian bukan sekadar berhentinya tubuh biologis, melainkan batas ontologis yang memutus kesinambungan keberadaan empiris manusia.

Oleh karena itu setiap pencapaian manusia, sehebat apa pun, selalu menyisakan ruang kosong yang tidak pernah dapat dituntaskan oleh dirinya sendiri. Inilah tragedi terbesar manusia konkret, yaitu mampu melahirkan sejarah tetapi tidak pernah mampu hidup bersama sejarah yang telah ia lahirkan.

Kemudian daripada itu dechiperisme menjelaskan bahwa para Supernova, yaitu bahasa Dechiperisme untuk menyebut figur-figur historis, di dalam juang dan pergulatannya selalu berakhir dengan kematian tubuhnya meskipun meninggalkan goresan sejarah yang melampaui zamannya.

Sokrates mati diracun.
Yesus mati di kayu salib.
Napoleon Bonaparte mati.
Martin Luther mati.
Lenin mati.
Stalin mati.
Adolf Hitler mati.
Mao Zedong mati.
Gandhi mati.
Broz Tito mati.
Sukarno mati.

Namun kematian mereka tidak pernah mengakhiri keberadaan historisnya. Justru setelah tubuh biologis mereka lenyap, lahirlah berbagai penafsiran baru yang saling bertarung memperebutkan legitimasi moral, politik maupun ideologis atas nama mereka.

Mereka tidak lagi menjadi manusia, melainkan berubah menjadi simbol historis yang dapat dipinjam, diperebutkan, bahkan diperdagangkan oleh berbagai rezim yang datang silih berganti.

Inilah sebabnya mengapa sejarah tidak pernah benar-benar menjadi milik tokoh yang melahirkannya, melainkan menjadi arena perebutan makna oleh generasi-generasi berikutnya.

Inilah sebuah Memori Historis misterius yang terjadi pada peristiwa historis kemudian dijadikan adonan politik sesuai dengan kebutuhan kekuasaan, yang dalam konstruksi Dechiperisme disebut sebagai Disstrukturalisasi Thingking, yang artinya sebuah peristiwa historis yang berada pada posisi Memorium Misterium Paradoksal, yaitu suatu keadaan yang saling kontradiktif yang dalam konstruksi Dechiperisme disebut sebagai Diskontradiktif Inaguratif, yakni terdapat berbagai dimensi yang multi kompleks yang masing-masing dimensi memiliki inagurasinya sendiri.

Artinya, satu peristiwa historis yang sama mampu melahirkan puluhan bahkan ratusan inagurasi politik yang berbeda-beda. Setiap rezim, setiap bangsa, bahkan setiap generasi memiliki kecenderungan membangun jembatan legitimasi menuju memori historis tersebut sesuai dengan kebutuhan zamannya.

Di sinilah sejarah kehilangan kepolosannya dan berubah menjadi ruang kontestasi eksistensial yang tidak pernah selesai. Sejarah tidak lagi sekadar dikenang, tetapi diaktifkan kembali sebagai instrumen politik yang mampu menggerakkan kesadaran kolektif manusia.

Dan pertanyaan pun timbul.
Siapakah yang berhak secara legitimatif terhadapnya?

Dechiperisme menyatakan bahwa hanya Moral Kehendak Esensial Historis yang memenuhi prasyarat otentik terhadapnya.

Bukan mereka yang sekadar menghafal sejarah, bukan pula mereka yang mengklaim dirinya sebagai pewaris sejarah, melainkan mereka yang mampu menghadirkan kembali tenaga eksistensial sejarah tersebut ke dalam kehidupan konkret.

Sebab sejarah menurut Dechiperisme bukanlah museum masa lalu, melainkan energi ontologis yang terus bergerak mencari bentuk materialnya yang baru. Dari peristiwa historis di masa lalu terekam dalam Memori Historis yang misterius.

Namun itu adalah Jiwa Dunia yang sedang bergerak mencari Saluran Historis yang menggumpal bernama Rasio Historis yang oleh Dechiperisme dinyatakan sebagai Saluran Otentik Inaguratif, yakni sebuah keberadaan Ontologis Eksistensial Historis yang membutuhkan kontingensi inaguratif berupa bentuk-bentuk baru Basis Material Peradaban Manusia Otentik.

Dengan demikian Memori Historis bukanlah kumpulan nostalgia yang membelenggu masa depan, melainkan reservoir tenaga historis yang sewaktu-waktu dapat meledak menjadi perubahan besar ketika menemukan saluran ontologisnya.

Ia tidak tunduk kepada kalender politik, tidak pula menunggu persetujuan institusi. Ia bekerja mengikuti _Hukum Rasional Perubahan_ yang bergerak secara diam-diam namun pasti, sampai akhirnya menemukan momentum historis yang tepat untuk melahirkan inagurasi politik yang sungguh-sungguh konkret.

Lebih lanjut lagi dechiperisme menunjukkan bahwa lintasan Peristiwa Historis yang terekam di dalam Memori Historis itu disebut sebagai sesuatu yang Misterius.

Namun kemisteriusannya bukanlah ketiadaan, melainkan keberadaan yang bekerja secara laten. Ia tidak pernah lenyap oleh berjalannya waktu, tidak pula musnah oleh pergantian rezim, pergantian generasi maupun runtuhnya suatu peradaban.

Yang oleh Dechiperisme disebut sebagai Struktur Ontologis Memori Historis Misterius Inaguratif, yakni keberadaannya yang abadi di dalam tubuh ‘Hukum Rasional Sejarah‘ dan terus bergerak bersama ‘Hukum Rasional Perubahan‘ dalam rangka mempercepat proses persalinan ‘Hukum Rasional Peralihan Sejarah‘ berupa ‘Inagurasi Historis Politis Konkret’ yang di dalam sejarah sebagai sebuah kontingensi konkret.

Dengan demikian Memori Historis tidak pernah menjadi benda mati yang sekadar disimpan di dalam arsip peradaban. Ia hidup sebagai energi ontologis yang terus mengalir dari satu zaman menuju zaman berikutnya.

Setiap kali suatu bangsa memasuki situasi batas sejarahnya, Memori Historis tersebut bangkit kembali sebagai tenaga eksistensial yang mendorong lahirnya bentuk-bentuk politik baru.

Inilah sebabnya mengapa sejarah tidak pernah benar-benar berulang, namun selalu membawa gema dari dirinya sendiri dalam bentuk yang berbeda.

Yang bergerak bukanlah peristiwa yang sama, melainkan Resonansi Historis yang mencari tubuh sosial baru sebagai saluran keberadaannya.

Kemudian daripada itu dechiperisme membacakan bahwa pada hari ini, tahun 2026, dunia sosial politik telah melokalisasi kehidupan sosial manusia menjadi bentuk-bentuk mikro sosial politik yang bernama kandang-kandang sosial.

Setiap kelompok manusia dipisahkan ke dalam ruang-ruang identitas yang semakin sempit sehingga hubungan antarmanusia tidak lagi dibangun atas dasar kemanusiaan universal, melainkan berdasarkan kepentingan politik, ekonomi, agama, etnis maupun ideologi yang saling mengunci satu sama lain.

Dalam pembacaan Dechiperisme keadaan seperti ini bukanlah perkembangan alamiah masyarakat, melainkan hasil dari rekayasa politik jangka panjang yang dirancang secara sistematis.

Secara politis setiap kandang sosial tersebut sengaja dijadikan tempat pelacuran sosial politik agar Strategi Instruksional Politik Rezim Global dapat dimonitor secara efektif dan efisien.

Masing-masing kandang diberikan ruang untuk merasa merdeka, padahal kebebasan tersebut telah dipagari oleh batas-batas yang tidak mereka sadari.

Mereka diperbolehkan bertengkar, berkompetisi bahkan saling menghancurkan, selama keseluruhan mekanisme tersebut tetap bergerak di dalam rancangan besar kekuasaan.

Yang oleh Dechiperisme disebut sebagai Kontingensi Kandang Paradoksal, yakni sebuah situasi ketika manusia merasa memilih jalannya sendiri padahal seluruh pilihan tersebut telah dipersiapkan sebelumnya oleh mekanisme kekuasaan.

Namun bagi sebagian kandang sosial yang mulai menyadari keberadaannya, dechiperisme menerangkan bahwa tuntutan sejarah berikutnya justru datang dari dalam dirinya sendiri.

Bukan melalui revolusi yang diumumkan secara terbuka, melainkan melalui perubahan kesadaran eksistensial yang perlahan-lahan menghancurkan batas-batas kandang tersebut.

Sebuah situasi historis terus-menerus bergerak tanpa henti mencari saluran historisnya sendiri tanpa adanya pemberitahuan formal, tanpa manifesto besar dan tanpa legitimasi institusional.

Hukum Rasional Perubahan bekerja secara diam-diam namun menghancurkan seluruh fondasi lama yang telah kehilangan rasionalitas keberadaannya.

Dan pada hari ini Dechiperisme memberitahukan bahwa Inagurasi Politik sedang berlangsung di muka bumi.

Peristiwa tersebut tidak lagi dipahami sebagai sekadar pergantian pemerintahan ataupun konflik antarnegara, melainkan sebagai pergulatan ontologis berbagai bangsa dalam menentukan bentuk keberadaan politiknya masing-masing.

Rusia, Ukraina, Israel, Iran dan Amerika Serikat hanyalah manifestasi konkret dari pertarungan historis tersebut. Di balik konflik-konflik itu bekerja sebuah tenaga sejarah yang jauh lebih besar daripada sekadar kepentingan geopolitik sehari-hari.

Amerika Serikat sendiri dalam konteks ini diposisikan sebagai Inagurator Raksasa yang mencoba menancapkan kukunya kepada seluruh kandang sosial yang terbentuk.

Yang oleh Dechiperisme dipandang sebagai Binatang Buas Politik yang hingga hari ini masih menjadi pusat gravitasi kekuasaan global.

Kekuatan tersebut bukan semata-mata berasal dari kemampuan militernya, melainkan dari kemampuannya membentuk persepsi, mengendalikan informasi, mengarahkan ekonomi serta mengonstruksi moralitas global sehingga berbagai bangsa secara perlahan menerima dominasinya sebagai sesuatu yang tampak wajar dan alamiah.

Dan hari ini Dechiperisme mengumumkan bahwa perlawanan Inaguratif Politis oleh setiap bangsa di muka bumi dipastikan akan dihancurkan oleh Inagurator Raksasa tersebut apabila masih bergerak di dalam logika politik lama.

Sebab yang dihadapi bukan lagi sekadar kekuatan militer ataupun diplomasi internasional, melainkan suatu mekanisme global yang telah menguasai seluruh instrumen kehidupan manusia.

Hari ini Inagurator Raksasa tersebut bernama Amerika Serikat dan Israel, yang dalam pembacaan Dechiperisme merupakan manifestasi konkret dari kekuatan politik yang mampu menghubungkan dominasi ekonomi, teknologi, informasi, militer, dan budaya menjadi satu tubuh kekuasaan yang utuh.

Kandang sosial politik besar seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) maupun berbagai institusi internasional lainnya, tidak lain dan tidak bukan hanyalah boneka-boneka sosial politik yang tidak lagi memiliki substansi eksistensialnya sendiri.

Keputusan-keputusan besar yang lahir darinya lebih sering merupakan pantulan dari keseimbangan kekuatan para pemilik hegemoni daripada cerminan kehendak otentik umat manusia.

Oleh sebab itu, menurut Dechiperisme, legitimasi formal tidak selalu identik dengan legitimasi historis. Suatu institusi dapat tampak agung di permukaan, tetapi secara ontologis telah kehilangan tenaga sejarah yang menopang keberadaannya.

Dan keotentikan politis tetap berada pada genggaman Sang Raksasa Inagurator sehingga dunia diarahkan kepada apa yang oleh Dechiperisme disebut sebagai _Will to Believe Politis_, yaitu tindakan eksistensial politik yang dipaksakan secara halus namun memiliki efektivitas yang sangat tinggi karena penyebarannya berlangsung secara sistematis, terstruktur dan masif.

Masyarakat tidak lagi dipaksa untuk percaya melalui ancaman fisik semata, melainkan melalui pembentukan persepsi yang terus-menerus sehingga apa yang sebenarnya merupakan kepentingan politik tampil sebagai kebenaran moral yang tidak boleh dipersoalkan.

Inilah bentuk kekuasaan yang paling matang, yaitu ketika manusia mempertahankan belenggunya sendiri dengan penuh kesadaran seolah-olah itu adalah pilihan bebasnya.

Kedua Raksasa Inagurator tersebut telah menjelajahi seluruh dunia dan menguasai sektor-sektor finansial secara aktif dan likuid.

Mereka tidak lagi bergantung kepada modal dalam pengertian klasik karena modal itu sendiri telah berubah menjadi jaringan kepercayaan global yang mampu menciptakan nilai dari informasi, teknologi, bahkan dari ketakutan manusia.

Mereka juga tidak lagi bergantung kepada sumber daya manusia maupun sumber daya alam, sebab keduanya telah diintegrasikan menjadi instrumen politik yang dapat dipindahkan, dipertukarkan dan dikendalikan sesuai kebutuhan geopolitik global.

Akibatnya penderitaan sosial politik di dalam kandang-kandang sosial tersebut dapat dirasakan oleh hampir seluruh bangsa di muka bumi.

Yang muncul bukan hanya kemiskinan ataupun ketimpangan ekonomi, tetapi depresi sosial yang merasuk ke dalam kesadaran kolektif manusia.

Oleh Dechiperisme keadaan tersebut dinamakan Situasi Psycho-Sosial Politik Paradoksal, yaitu suatu keadaan ketika manusia dipaksa memilih di antara berbagai kontradiksi moral yang semuanya sama-sama mengandung risiko kehancuran.

Jika memilih, ia kehilangan sebagian dirinya. Jika menolak memilih, kandang sosialnya sendiri akan menghukumnya. Di sinilah politik tidak lagi mengendalikan tubuh manusia, tetapi mulai menguasai struktur batinnya.

Kemudian lebih dalam lagi Dechiperisme menunjukkan bahwa bagi Inagurator seperti Rusia, Ukraina maupun Iran, nasib politiknya ditentukan oleh keteguhan nasionalismenya masing-masing.

Apakah mereka akan hancur sebagai bangsa dan negara, menyerah tanpa syarat kepada Raksasa Inagurator Global, atau terus mempertahankan keberadaannya hingga titik darah penghabisan.

Ketiga kemungkinan tersebut bukan sekadar pilihan strategis, melainkan pilihan eksistensial yang menentukan apakah suatu bangsa masih memiliki tenaga historis untuk mempertahankan identitas ontologisnya.

Disinilah Hukum Rasional Perubahan bekerja dengan momentum yang oleh Dechiperisme dinamakan Memorium Misterium Referendum Paradoksal, yaitu suatu keadaan ketika Jiwa Dunia Sosial Politik bergerak tanpa belas kasihan menghantam segala bentuk keberadaan yang telah kehilangan relevansi historisnya.

Hukum ini tidak memihak bangsa besar ataupun bangsa kecil. Ia hanya bergerak mengikuti rasionalitas perubahan yang menghendaki lahirnya bentuk-bentuk baru kehidupan sosial politik.

Oleh sebab itu, siapa pun yang bertahan hanya dengan nostalgia sejarah pada akhirnya akan dihancurkan oleh sejarah itu sendiri.

Inilah yang dinamakan Saluran Historis yang bergerak di dalam Memorium Misterium Referendum Paradoksal tersebut.

Saluran ini tidak dapat dihentikan oleh propaganda, tidak dapat dibendung oleh kekuatan militer, bahkan tidak dapat dibeli oleh kekuatan ekonomi sebesar apa pun.

Ia bekerja seperti arus bawah tanah yang perlahan menggerus fondasi-fondasi lama sampai akhirnya seluruh bangunan politik yang kehilangan dasar ontologisnya runtuh oleh beratnya sendiri.

Ketika saat itu tiba, manusia sering menyebutnya sebagai revolusi, padahal bagi Dechiperisme itu hanyalah konsekuensi logis dari bekerjanya Hukum Rasional Perubahan.

Kemudian daripada itu Dechiperisme menyatakan secara eksistensial ontologis politis otentik bahwa moral politik kandang sosial yang telah menyatakan keberanian eksistensialnya untuk melawan hegemoni Rezim Inagurator Raksasa sekurang-kurangnya harus memiliki nasionalisme fundamental, yaitu mencintai dan mempercayai bangsa serta negaranya melampaui segala kepentingan yang lain.

Nasionalisme seperti ini bukan fanatisme sempit, melainkan kesadaran ontologis bahwa suatu bangsa hanya dapat mempertahankan _Basis Material Peradabannya_ apabila memiliki keberanian eksistensial untuk berdiri di atas kaki sejarahnya sendiri.

Inilah alasan Dechiperisme membacakan sebuah Memori Historis Inagurasi bagi kelangsungan transhistorisitas manusia konkret di dunia sosial politik.

Sebab sejarah pada akhirnya tidak diwariskan melalui monumen, arsip ataupun slogan-slogan kebangsaan, melainkan melalui keberanian suatu generasi untuk melahirkan inagurasi politik yang benar-benar otentik.

Hanya bangsa yang mampu melakukan lompatan eksistensial seperti itulah yang akan meninggalkan Memori Historis bagi generasi sesudahnya.

Memori Historis yang misterius bagi Bangsa Indonesia adalah belum adanya keberanian inaguratif otentik untuk menyatakan dirinya sebagai Negara Bangsa yang memiliki landasan ideologis politis yang benar-benar mandiri.

Hanya sekali di dalam sejarah modern Indonesia tampil sebagai bangsa yang hadir di tengah pusaran dunia sosial politik dengan kontingensi politik yang otentik, yaitu ketika berada di bawah kepemimpinan ‘Sukarno’.

Setelah itu, menurut pembacaan Dechiperisme, Indonesia lebih banyak menjalani sejarah sebagai bangsa yang tertidur panjang, menikmati romantisme masa lalu sambil perlahan memasuki keretakan nasional yang semakin dalam.

Pancasila diabaikan.
UUD 1945 diamandemen secara tergesa-gesa tanpa perenungan nasional yang memadai.
Akibatnya, yang mengalami perubahan bukan sekadar tata hukum, tetapi juga struktur kesadaran politik bangsa itu sendiri.
Bangsa Indonesia semakin jauh dari fondasi ontologis yang dahulu menjadi tenaga perjuangan kemerdekaannya.

Hari ini, pada tahun 2026, Indonesia menurut Dechiperisme terbelah ke dalam dua kandang sosial politik besar, yaitu kandang ‘Banteng dan kandang Gajah’. Keduanya lahir dari akar sosio-kultural yang sama, tetapi berkembang menuju orientasi politik yang berbeda.

Namun sejauh mana pun pertentangan tersebut berlangsung, keduanya tetap berada di dalam satu kandang besar yang sama, yaitu sistem politik global yang didominasi oleh Raksasa Inagurator.

Dengan demikian pertarungan politik nasional sesungguhnya hanya bergerak di dalam ruang yang batas-batasnya telah ditentukan sebelumnya.

Kemudian daripada itu Dechiperisme membacakan bahwa penghuni kandang sosial Indonesia didominasi oleh apa yang disebut sebagai Landak-Landak Politik.

Dari luar tampak toleran, kompromistis dan penuh senyum, tetapi sesungguhnya saling melukai dengan duri-duri politiknya sendiri. Mereka hidup berdampingan tanpa pernah benar-benar membangun kepercayaan ontologis satu sama lain.

Akibatnya, energi bangsa habis untuk pertarungan internal yang tidak pernah selesai, sementara tenaga historis untuk membangun Basis Material Peradaban justru semakin melemah.

Inilah gambaran situasi sosial politik Indonesia yang berada pada posisi esensinya yang retak dan tercabik-cabik oleh dirinya sendiri. Keretakan tersebut bukan semata-mata akibat tekanan dari luar, tetapi juga akibat ketidakmampuan bangsa ini membangun keberanian eksistensial untuk mendefinisikan masa depannya sendiri.

Kemudian daripada itu Dechiperisme menyatakan bahwa moral Inagurasi Politik di Indonesia belum sepenuhnya dimengerti, baik oleh elit politik maupun oleh sebagian besar masyarakatnya.

Hal tersebut merupakan akibat dari pembunuhan karakter bangsa sejak runtuhnya kekuasaan Sukarno, yaitu hilangnya keberanian politik ideologis yang otentik bagi generasi-generasi berikutnya.

Oleh Dechiperisme keadaan ini disebut sebagai Disorientatif Katagorial Inaguratif, yaitu suatu pembentangan politik intimidatif yang dibangun melalui operasi strategis kekuasaan dengan instrumen ketakutan yang akut, yang pada masa tertentu dimanifestasikan melalui jargon ‘Bahaya Laten’.

Sementara itu positivisme dijadikan landasan utama pembangunan nasional sehingga segala sesuatu yang berbau Sukarno disingkirkan dari ruang kesadaran politik bangsa.

Namun dalam pembacaan Dechiperisme keadaan tersebut bukanlah semata-mata hasil gagasan pribadi Suharto, melainkan bagian dari dominasi kelompok teknokrat yang oleh Dechiperisme disebut sebagai _Mafia Berkeley_, yang dipandang sebagai agen neoliberalisme untuk mengintegrasikan Indonesia ke dalam sistem ekonomi global.

Ketika seluruh madu pembangunan telah dipanen oleh kaum borjuis neoliberal, maka pada tahun 1998 cawan kosongnya diserahkan kepada rezim Reformasi. Sejak saat itu Indonesia terus berada dalam keadaan dahaga yang tidak pernah terpuaskan.

Eksploitasi sumber daya manusia semakin ditingkatkan tanpa mempertimbangkan martabat kemanusiaan, sementara eksploitasi sumber daya alam dilakukan sebesar-besarnya tanpa mempedulikan akibat ekologis bagi generasi mendatang.

Menurut Dechiperisme, inilah bentuk paling nyata dari bangsa yang kehilangan ‘Basis Material Peradabannya’ sendiri.

Inilah yang oleh Dechiperisme dinyatakan sebagai sebuah bangsa yang besar, namun menjadi kuli di negerinya sendiri. ***)

Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 21 Agustus 2026