Basis Material Kehidupan Sosial Manusia

Basis Material Kehidupan Sosial Manusia

Filsafat Politik

Basis Material Kehidupan Sosial Manusia
Joko Sukmono

_Setiap usaha yang tidak berorientasi kepada Hukum Rasional Perubahan akan dihantam oleh Hukum Rasional Peralihan Sejarah._

Dechiperisme menyatakan bahwa basis material kehidupan sosial manusia yang otentik hanya dapat dibangun di atas rasionalitas yang ditopang secara langsung oleh kehendak otentik yang logis dan realistis.

Dalam konstruksi Dechiperisme, keadaan ini disebut sebagai dissubtitusi spiritualisasi, yaitu suatu keadaan ketika cara berpikir aksiomatis tidak dapat dipadukan dengan cara berpikir analogis yang bertumpu pada kesadaran kolektif.

Kesadaran kolektif, menurut pembacaan Dechiperisme, sejak awal terbentuk melalui narasi-narasi yang kemudian dikontingensikan sebagai pandangan hidup universal.

Oleh karena itu, kesadaran kolektif dipandang sebagai kesadaran yang terkutuk, bukan karena keberadaannya semata, melainkan karena ia telah dijadikan instrumen politik yang sengaja digelontorkan kepada ruang publik sebagai bagian dari strategi instruksional politik rezim.

Cara berpikir analogis seperti itulah yang, menurut Dechiperisme, menjerumuskan manusia ke dalam kebodohan historis. Manusia lebih mempercayai kesadarannya daripada rasionya, padahal kesadaran tersebut telah dibentuk, diarahkan, dan dikondisikan oleh berbagai konstruksi sosial yang tidak lagi memiliki hubungan dengan realitas konkret.

Kesadaran yang demikian bukanlah pembebas, melainkan kutukan yang secara perlahan merusak masa depan peradaban manusia. Oleh sebab itu, peradaban hanya dapat menjadi basis material kehidupan manusia apabila dibangun di atas fondasi yang logis, realistis, dan rasional.

Dechiperisme kemudian menegaskan penolakan terhadap segala sesuatu yang tidak logis, tidak realistis, dan tidak rasional. Ketiga syarat tersebut merupakan pisau analisis yang dipandang benar-benar mampu digunakan sebagai instrumen pembentukan peradaban manusia.

Di luar ketiga syarat itu, segala bentuk tindakan sosial maupun politik hanya akan bergerak di dalam wilayah absurditas yang tidak memiliki kemampuan membangun keberlangsungan historis umat manusia.

Persyaratan logis, realistis, dan rasional merupakan prasyarat mutlak bagi manifestasi basis material kehidupan sosial manusia yang otentik.

Perubahan, dalam pandangan Dechiperisme, adalah sebuah peristiwa sosial yang hanya dapat berlangsung apabila ditopang oleh ketiga unsur tersebut. Perubahan bukanlah nostalgia terhadap masa lalu.

Nostalgia hanyalah bayang-bayang ilusif yang terus dipelihara sebagai beban sejarah. Peradaban manusia yang konkret justru meniadakan segala sesuatu dari masa lalu yang bertentangan dengan Hukum Rasional Perubahan, yaitu berbagai peristiwa yang sengaja diseret ke masa kini padahal telah menjadi bangkai sejarah yang benar-benar mati. Kematian itu sendiri merupakan bukti bahwa ia telah gagal menjalankan fungsinya pada zamannya.

Dechiperisme selanjutnya menyatakan bahwa moral politik yang terus-menerus mengagungkan kebesaran masa lalu tidak mungkin lagi dijadikan sandaran bagi pembangunan basis material kehidupan sosial manusia masa kini.

Keadaan tersebut disebut sebagai dismoralisasi historis, yaitu situasi ketika segala bentuk keunggulan yang diwariskan dari masa lalu, betapapun besar dan agungnya, justru berubah menjadi simbol kehancuran, kegagalan, dan kekalahan sejarah.

Sejarah tidak bergerak mundur untuk menghidupkan kembali bangkai-bangkai peradaban, melainkan terus melampaui dirinya menuju bentuk-bentuk kehidupan yang baru.

Tahun 2026, menurut pembacaan Dechiperisme, merupakan momentum historis yang dipenuhi oleh inisiatif bagi tindakan-tindakan produktif yang logis dan realistis.

Tidak ada lagi ruang bagi kehidupan sosial yang terobsesi oleh dunia bayang-bayang, terlebih oleh romantisme masa lalu yang telah dinyatakan tidak lagi memiliki keberadaan historis.

Setiap usaha yang tidak berorientasi kepada Hukum Rasional Perubahan akan dihantam oleh Hukum Rasional Peralihan Sejarah.

Pada saat yang sama, basis material peradaban sosial manusia mulai dikonstruksikan sebagai satu-satunya saluran historis yang mampu membawa manusia memasuki zaman baru.

Kemudian daripada itu, Dechiperisme menyatakan bahwa moral sosial masa lalu yang hingga kini masih dipelihara dengan penuh kesakralan justru memperoleh tempat yang sangat kuat di Indonesia.

Ironinya, Dechiperisme sendiri lahir dan dikembangkan oleh seorang anak bangsa Indonesia, Joko Sukmono.

Di sinilah muncul ironi kultural yang paling mendasar, yaitu ketika gagasan mengenai basis material kehidupan sosial manusia yang otentik justru lahir di tengah bangsa yang masih sangat terobsesi oleh kesakralan masa lalu.

Apa yang selama ini disebut sebagai kearifan lokal sering kali diterima sebagai sesuatu yang final, padahal tanpa disadari telah mengalami infiltrasi budaya asing selama berabad-abad dan kini bahkan menjelma menjadi gaya hidup generasi mudanya.

Namun demikian, Dechiperisme tetap menyuarakan gerakan yang logis, realistis, dan rasional di tengah bangsa Indonesia yang sedang berada di persimpangan jalan sejarah. Bangsa ini, menurut pembacaannya, sedang memasuki situasi batas yang memaksanya memilih.

Pilihannya hanya dua: tetap menjadi pengikut nostalgia masa lalu dan menerima marginalisasi sosial yang semakin dalam, atau menjadi pelopor perubahan dengan mengambil keputusan eksistensial yang otentik, melompat menuju kehidupan yang logis, realistis, dan rasional sesuai dengan Hukum Rasional Peralihan Sejarah.

Konsekuensinya adalah menjadi warga dari basis material peradaban sosial yang benar-benar baru dan otentik.

Inilah yang oleh Dechiperisme disebut sebagai tinggal landas, yaitu keberanian membakar seluruh pelabuhan sosial lama agar tidak lagi ada jalan untuk kembali kepada dunia yang ilusif.

Tuntutan sejarah bagi bangsa Indonesia bukan sekadar pergantian pemerintahan ataupun perubahan kebijakan administratif, melainkan perubahan kelakuan administratif-kultural, yaitu peralihan dari pola pikir mistis menuju pola pikir yang logis, realistis, dan rasional sebagai syarat utama lahirnya peradaban baru.

Lebih dalam lagi, Dechiperisme menerangkan bahwa tuntutan sejarah terhadap basis material kehidupan sosial manusia adalah membangun basis material peradaban sosial baru yang benar-benar otentik.

Jalan menuju keadaan itu hanya dapat ditempuh dengan membakar habis pelabuhan sosial lama, membentangkan layar, lalu memulai perjalanan eksistensial tanpa lagi melakukan kompromi terhadap segala bentuk ilusi historis.

Hanya dengan keberanian semacam itulah saluran historis dapat terus bergerak sejajar dengan Hukum Rasional Peralihan Sejarah, sehingga manusia tidak lagi hidup sebagai pewaris bangkai-bangkai masa lalu, melainkan sebagai pencipta peradaban baru yang sungguh-sungguh konkret, rasional, dan otentik. ***)

Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 12 Agustus 2026