Esai: Sosial Politik
Bung Karno Nggak Mati di Juni, Dia Nunggu Kita di Juli
Oleh Kadir Wahyudi
○ Penutupan Bulan Bung Karno nggak boleh “selamat jalan Juni”. No way, friend. Harus jadi “booting program baru”, bukan “shutdown acara”.
Penutupan Bulan Bung Karno ditutup langsung oleh Megawati, Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, di Bali Beach Convention Center, Sanur, Bali, Minggu 28 Juni. Sementara DPC partai Kota Malang masih jalanin agenda terakhirnya: kompetisi Orado, cabor baru di KONI.
Bulan Bung Karno bukan festival spanduk, lomba pidato, atau foto selfie di depan patung Bung Karno. Itu cuma kulitnya. Kalau cuma segitu, namanya “Bulan Hiasan Bung Karno”.
Yang pertama, pegang ini: Jas Merah. Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah. Kita harus ingat, bangsa ini merdeka karena apa? Karena gotong royong semua golongan, suku, ras, agama, dan partai politik melawan imperialisme.
Tema “Setialah Kepada Sumbermu” itu tepat. Sumber kita adalah gotong royong. Gotong royong beda agama, suku, partai mampu ngusir penjajah. Masak sekarang kita pecah cuma karena buzzer? Berarti ada bug. Nah, Bulan Bung Karno itu momen buat nge-run debugger.
Yang kedua, ayas (saya) lihat sendiri. DPC PDI Perjuangan Kota Malang gelar Sarasehan pemantapan ideologi. Belajar apa itu Design Thinking lewat FGD.
Yang harus kita lanjutkan bukan seremoni, tapi metodenya: _design thinking gotong royong_. Cara Bung Karno bedah 5 persoalan bangsa lewat 5 kelompok yang mau duduk satu meja, meski beda latar.
Di parlemen juga sama. Perintah Ketua Umum jelas: kerja bareng dengan pemerintah, baik di daerah maupun di pusat. Kerja bareng nggak harus satu koalisi. Mengkritisi dan kasih solusi itu juga kerja bareng, meski beda partai.
Di sarasehan itu, Amithya sudah ingatkan: “Filter paling penting ada pada diri kita sendiri. Pancasila.” Di zaman algoritma yang bikin kita saling benci lewat jempol, filter itu adalah satu-satunya antivirus.
Maka mulai 1 Juli, tugas kita sederhana: Matikan HP satu jam. Keluar rumah. Tanya tetangga beda agama, beda pilihan, beda suku: “Ada yang bisa saya gotong?”
Karena keragaman itu bukan bug dalam sistem Indonesia. Keragaman itu fiturnya. Dan gotong royong adalah saripati Pancasila yang nge-run fitur itu.
Design Thinking itu begini: Bung Karno nggak ngajarin ceramah 1 arah. Beliau ngajarin: “Kumpul, bedah masalah bareng demi masa depan Indonesia yang lebih baik.”
Jadi Bulan Bung Karno itu 30 hari latihan duduk satu meja sama orang yang beda sama kita. Latihan toleransi, bukan teori.
Yang ketiga, Filter Diri Sendiri = Antivirus Pancasila. TikTok, X, FB maunya kita marah-marah. Makin marah, makin lama scroll. Senenglah para buzzer dan bug itu.
Bulan Bung Karno ngingetin: “Bro, Umak (kamu) punya filter manual yang lebih kuat dari algoritma. Namanya Pancasila.” Sila 3: Persatuan. Sila 2: Kemanusiaan. Itu antivirusnya.
Jangan ngabaikan persatuan asal duit ngalir terus. Jangan merasa punya kuasa, pangkat, dan derajat. Kalau sudah modar, yang ditinggal cuma kerusakan. Itu namanya doblol, bro!
Singkatnya: 30 hari ini kita dikasih password buat buka `Gotong Royong`. Kalau 1 Juli passwordnya dibuang, ya sama aja bohong. Tapi kalau dipake tiap hari buat nolong tetangga, nahan emosi di medsos, ngopi sama yang beda pilihan… Percoyo friend, itu baru namanya Bulan Bung Karno beneran terjadi. Bukan omon-omon.
Penutupan Bulan Bung Karno nggak boleh “selamat jalan Juni”. No way, friend. Harus jadi “booting program baru”, bukan “shutdown acara”.
Kalau cuma jadi foto-foto, spanduk, selfie, berarti kita ngubur Bung Karno 2 kali. Yang pertama 1965, yang kedua 2026 ini.
Yang kita peringati bukan tanggalnya, tapi ‘design thinking gotong royong’-nya. Mulai 1 Juli: 1 rumah, 1 aksi. Nggak usah besar. Bersihin selokan bareng tetangga beda pilihan politik aja udah Sila 3.
Antivirus Algoritma itu gini: “HP boleh nyala 24 jam. Tapi kalau hati mati, Indonesia juga mati”. Filter paling penting ada di diri kita: “Pancasila”.
Kata Amithya: “Gotong Royong itu Saripatinya Pancasila”. Keragaman itu fitur, bukan bug. Bung Karno udah debug dari 1945. Tinggal kita run programnya.
Jas Merah versi 2026: Jangan Sekali-kali Melupakan Gotong Royong.
Bulan Bung Karno selesai hari ini, 30 Juni. Tapi kerja Marhaen baru mulai besok. Nggak perlu pidato lagi. Cukup tanya diri sendiri malam ini: ‘Hari ini Ayas udah gotong siapa?’
Kalau jawabannya ‘nggak ada’, berarti spanduk kemarin cuma jadi wallpaper. Kalau ‘ada’, selamat. Pancasila berhasil Umak install di diri sendiri. Oyi friend?
Kita nggak nyembah Bung Karno, kita nggak memujanya. Tapi kita perlu contoh kerja dan alam pikirnya. Ia curahkan semua untuk rakyat Indonesia, walau beda partai dan golongan. Bung Karno milik semua golongan! Bung Karno milik rakyat Indonesia, bukan milik PDI Perjuangan saja! ***)
Posted: sarinahnews.com
Malang, 30 Juni 2026





