KACAMATA DECIPHERISME

KACAMATA DECIPHERISME

Filsafat:

KACAMATA DECIPHERISME
Joko Sukmono

Titik adalah tempat yang tidak memiliki dimensi, namun darinya seluruh arah dapat dibayangkan. Ia seolah menjadi pusat dengan kuasa 360 derajat, sementara keberadaannya sendiri menggantung tanpa penopang apa pun.

Ruang yang memuatnya pun tidak bertumpu pada dasar tertentu; ia seperti kertas kosong yang menerima segala kemungkinan bentuk tanpa pernah menjadi bentuk itu sendiri. Dalam perspektif ini, bumi tempat manusia berpijak juga menggantung di ruang tanpa penopang mutlak.

Ia berputar, bergerak, dan bertahan bukan karena sandaran metafisik yang terlihat, melainkan karena hukum-hukum alam yang impersonal.

Dunia kemudian lahir sebagai ruang sosial yang dihasilkan oleh gerak waktu, oleh aktivitas manusia yang menafsirkan, membangun, dan merombak makna secara terus-menerus.

Siapa yang menggerakkan dunia sosial itu? Dechiperisme menjawab: manusia otentik, yakni manusia yang bertindak, bukan sekadar mengulang.

Geometri sehari-hari memberi analogi yang menarik. Meja segi delapan, segi empat, atau gabungan dua segitiga tampak berbeda bentuk, tetapi total sudut internalnya tetap mengikuti hukum tertentu.

Segitiga memiliki jumlah sudut 180 derajat; dua segitiga dapat membentuk bangun bersudut total 360 derajat. Segi empat, trapesium, maupun bentuk-bentuk poligon lain pada akhirnya dapat diuraikan menjadi kombinasi segitiga.

Bahkan simbol seperti bintang Daud pun tersusun dari dua segitiga yang saling bertaut. Bentuk berubah, struktur dasar tetap. Dengan kata lain, transformasi tidak selalu mengubah totalitas relasi internalnya. Pertanyaan “mengapa demikian?” membawa kita pada pembedaan antara bentuk, luas, dan keliling: bentuk dapat berubah, batas luar dapat bertambah atau berkurang, tetapi struktur internal tertentu tetap dipertahankan oleh hukum geometri.

Contoh lain adalah balok kayu berukuran satu meter kubik yang dipahat menjadi bentuk segi delapan. Volumenya berkurang karena sebagian materi dibuang, tetapi hubungan ruang yang tersisa masih berasal dari bentuk awal.

Ini menunjukkan bahwa perubahan konkret sering kali merupakan reduksi atau rekonstruksi dari sesuatu yang sudah ada, bukan penciptaan dari ketiadaan mutlak.

Dalam bahasa dechiperisme, realitas sosial juga demikian: institusi, nilai, dan sistem politik adalah “pahatan” dari bahan historis yang sama, meskipun tampil dengan wajah baru. Yang berubah adalah konfigurasi, bukan bahan dasar pengalaman manusia.

Dari sini dechiperisme melihat secara telanjang bahwa manusia yang hidup di bumi adalah makhluk yang tidak ditopang oleh pancang makna yang absolut. Ia hidup di tengah ruang kosmik yang tidak memberi alasan siap pakai.

Karena itu manusia terus mencari penjelasan: melalui agama, filsafat, ideologi, sains, atau mitos. Namun bumi, bulan, dan matahari bukanlah penopang makna; mereka hanyalah bagian dari sistem medan yang bekerja menurut hukum alam.

Ketika sistem itu berubah atau kehilangan keseimbangan, tidak ada makna yang otomatis runtuh atau bertahan—yang terjadi hanyalah perubahan kondisi. Inilah relativitas dalam arti eksistensial: tidak ada pusat makna yang permanen, hanya relasi yang bergerak.

Dalam pencarian alasan tersebut, manusia pada akhirnya selalu mencapai situasi batas: titik di mana penjelasan tidak lagi memadai, sementara kehidupan tetap harus dijalani.

Situasi ini mungkin ilusif, tetapi justru dari sanalah lahir tindakan-tindakan eksistensial yang penuh inisiatif.

Manusia bertindak bukan karena ia memahami segalanya, melainkan karena ia tidak punya pilihan selain bertindak. Peristiwa-peristiwa yang kemudian dianggap otentik sering kali hanyalah kompensasi terhadap absurditas keberadaan itu sendiri.

Dari yang ilusif dan absurd inilah terbentuk dunia sosial-politik yang kita alami hari ini: dunia yang terjebak dalam situasi batas yang meruncing, rumit, dan berlapis kontradiksi.

Setiap solusi melahirkan masalah baru, setiap tatanan menghasilkan ketegangan baru. Apa pun yang dilakukan manusia dengan seluruh kapasitasnya tetap berada dalam lingkaran paradoks — antara kebutuhan akan makna dan ketiadaan landasan mutlak bagi makna itu.

Dengan kacamata dechiperisme, paradoks ini bukan kegagalan, melainkan kondisi dasar eksistensi manusia.

Dunia tidak pernah benar-benar stabil, dan manusia tidak pernah sepenuhnya aman dari ketidakpastian. Namun justru di dalam ketegangan itulah tindakan, sejarah, dan kemungkinan masa depan terus muncul. ***)

Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 28 February 2026