Rayakan Ulang Tahun Megawati ke 79, DPC PDIP Kota Malang Potong Tumpeng Bersama Jama’ah Diba’

Rayakan Ulang Tahun Megawati ke 79, DPC PDIP Kota Malang Potong Tumpeng Bersama Jama’ah Diba’

KOTA MALANG | SARINAH NEWS || – DPC PDIP Kota Malang merayakan HUT ke 79 Megawati Soekarnoputri bersama jama’ah diba’ dan masyarakat. Setelah menanam pohon di Das Kali Amprong, pagi.

Kegiatan itu adalah rangkaian kegiatan kado buat Ibu Megawati Ketua Umum DPP PDIP yang dimulai dari penanaman pohon di Das Kali Amprong dan ditutup dengan pemotongan tumpeng di kantor DPC partai bersama jama’ah Diba’ dan masyarakat. Jumat, (23/1/2026)

Satu Tummpeng, menutup rangkaian kegiatan perayaan HUT Megawati ke-79 ini berlangsung khidmat dan penuh kebersamaan bersama jama’a Diba’ dan masyarakat. Sangat sederhana.

Amithya Ratnanggani Sirraduhita Ketua DPC PDIP Kota Malang didampingi oleh seluruh struktural DPC partai dan Fraksi duduk bareng membaca diba’ dan sholawat nabi.
Penuh hikmat.

Hadir serta tokoh masyarakat, tokoh agama, pemuda dan seluruh anggota jama’a Diba’ dalam peringatan HUT Megawati Soekarnoputri ke-79 ini.

Rangkaian acara diawali dengan bacaan diba’ dan solawat bersama, dan ditutup dengan pemotongan tumpeng bersama para undangan serta puluhan rekan awak media.

Rangakaian kegiatan tersebut adalah wujud rasa syukur atas usia dan perjuangan panjang Megawati Soekarnoputri dalam membesarkan PDI Perjuangan serta pengabdiannya bagi bangsa dan negara.

Amithya Ratnanggani Sirraduhita menyampaikan ucapan terimakasih atas kehadiran para undangan dan semua pihak yang telah mendukung kegiatan penanaman pohon dan ditutup pembacaan Diba’ serta sholawat.

Ditemui awak media, ditanya terkait proyek drainase di Jalan Soekarno-Hatta yang merupakan proyek Pemerintah Provinsi. Ia menekankan bahwa tidak boleh ada toleransi terhadap penghilangan pohon peneduh tanpa adanya upaya substitusi yang jelas.

“Iya, kalau memang provinsi tidak bisa, ya Pemkot harusnya ambil alih. Jadi sebetulnya tidak ada toleransi. Setiap infrastruktur itu kan pasti ada konsekuensi, ya gimana caranya kita tetap membayar konsekuensi itu sesuai dengan apa yang dibutuhkan,” tegas Amithya.

Ia menambahkan bahwa pohon tidak boleh dipandang sebagai ornamen semata, melainkan kebutuhan vital bagi tata kota yang sehat.

Jika penanaman kembali tidak bisa dilakukan secara serentak, Amithya mendesak pemerintah untuk melakukan skema “nyicil” selama ada iktikad baik untuk memulihkan lingkungan.

Menutup pernyataannya, ia memberikan alarm keras mengenai dampak nyata pengabaian lingkungan.

Ia tidak ingin musibah tahun 2024 ketika 400 rumah di daerah Kedungkandang terendam banjir terulang lagi akibat cuaca ekstrem.

“Mestinya pemerintah sudah waktunya untuk mitigasi apa yang akan kita alami nanti ke depannya. Kalau kita terus-terus begini aja meremehkan, ‘Oh ya sudahlah ini sekedar air,’ tidak bisa kayak gitu,” jelasnya.

Amithya menyayangkan berubahnya citra Malang yang dahulu dikenal dingin kini menjadi terasa panas.

Menurutnya, penurunan kepedulian terhadap “paru-paru kota” telah menyebabkan genangan air yang tadinya hanya 10-15 menit kini bisa bertahan hingga satu jam lebih karena hilangnya jalur resapan alami. (toyik/kw)