Filsafat: (2)
IMPERIALISME
Djoko Sukmono
Bagian Dua
MONOLOG
Di sebuah Istana MEGAH yang dibatasi oleh dinding-dinding misterius, tembok-tembok putih yang terlalu bersih hingga terkesan tidak manusiawi, hamparan rumput hijau yang seolah ditata oleh tangan-tangan tak terlihat, serta gerbang-gerbang kokoh yang berdiri bagai gigi raksasa penjaga kekuasaan, di situlah—di singgasana itu—BERCOKOL para Imperialis sedang memandang dunia.
Mereka duduk dengan ketenangan yang ganjil, sebuah ketenangan yang hanya dimiliki oleh mereka yang yakin bahwa sejarah telah menyetujui keberadaannya.
Pertanyaan besar pun menggantung di udara istana itu: Apakah sejarah harus diakhiri di sini saja, dengan kemenangan berhenti kepada Imperialisme?
Apakah perjalanan panjang manusia harus ditutup dengan kesimpulan bahwa kekuasaan tidak pernah benar-benar terdistribusi, melainkan hanya berpindah bentuk dari satu topeng ke topeng lainnya?
Ataukah sejarah itu harus diserahkan kepada mekanisme pergerakan alamiah, sehingga “Kerja Dunia” memasuki suatu orde baru—orde LIBERAL, yang sering dipuja sebagai kemajuan, tetapi pada hakikatnya tidak pernah bebas dari aroma pertarungan para pemilik modal dan kekuatan?
Dari perenungan itulah para Imperialis Parlementer menyodorkan sebuah Proposal Sejarah, yang bunyinya menggema di seluruh ruang kekuasaan:
“Hai, Imperialis Absolut… harimu telah berakhir. Kesenjaan hidupmu telah datang. Singgasanamu telah dikepung oleh Kehendak Sejarah—oleh Hukum Rasional Sejarah. Kini sejarah menyerahkan estafetnya kepada kami, para Imperialis Parlementer.”
Kalimat itu bukan hanya deklarasi, tetapi juga pengakuan bahwa kekuasaan tidak pernah padam—ia hanya bermigrasi ke bentuk baru yang lebih halus, lebih legal, lebih dapat dinegosiasikan.
PROLOG
Kematian Imperialis Absolut diumumkan ke seluruh penjuru dunia, dan upacara penghormatan dilakukan dengan ritual yang SAKRAL dan KERAMAT.
Tubuh kekuasaan yang dulu berdiri tegak kini dibaringkan, tetapi bayangannya masih panjang, menghantui generasi yang datang setelahnya.
Persembahan demi persembahan dilaksanakan oleh para Imperialis Parlementer.
Hari itu diperingati sebagai Hari Berkabung Dunia, bukan karena hilangnya seorang tokoh, tetapi hilangnya sebuah pola lama yang memberi rasa aman bagi sebagian orang dan rasa takut bagi sebagian yang lain.
Di setiap lorong, di setiap gang, di setiap wilayah sosial budaya, masyarakat menjalankan ritual sesuai tradisi masing-masing.
Upacara itu bukan hanya formalitas; ia adalah tanda bahwa perubahan telah dimulai. Tunas-tunas baru tumbuh—generasi yang berbeda dari generasi sebelumnya.
Mereka lebih adaptif, namun juga lebih gelisah, karena hidup di antara kehancuran tatanan lama dan ketidakpastian tatanan baru.
Dari sinilah lahir Hukum Rasional Peralihan, yaitu hukum sejarah yang menyatakan bahwa setiap pergantian kekuasaan menimbulkan perubahan struktural pada mentalitas masyarakat.
Dan dari peralihan itu pula muncul Hukum Rasional Perubahan, yang menjadi motor lahirnya pemimpin-pemimpin baru.
IMPERIALISME PARLEMENTER
Imperialisme Parlementer adalah kumpulan berbagai pandangan tentang kekuasaan, di mana setiap keputusan diambil dengan cara yang lebih cermat, lebih metodis, namun tetap mengandung aroma dominasi. Imperialis-imperialis ini tidak lebih istimewa satu sama lain; mereka memiliki kesetaraan formal, tetapi bukan kesetaraan faktual.
Mereka dapat menjadi penguasa atau oposisi—suatu rotasi yang tampak demokratis namun tetap berada dalam orbit kekuasaan.
RASIO HISTORIS melalui metode Reflektif Thinking melihat potret anak-anak manusia yang kini menjadi Imperialis Parlementer. Mereka adalah generasi baru yang tiba-tiba mendapatkan kedudukan yang dahulu tidak pernah dibayangkan.
Tiba-tiba, di antara mereka ada seorang yang dijadikan RAJA, hanya karena dianggap paling cakap atau paling disetujui oleh para imperialis lain. Kekuasaan kembali menemukan porosnya.
Pembagian kekuasaan pun dilaksanakan dengan model baru, meskipun tetap mengambil unsur-unsur lama.
Pemerintahan baru dibangun dengan desain yang dimodifikasi, tetapi pola dasar imperialistiknya tetap ada: kepemimpinan, hierarki, dominasi, dan legitimasi.
RAJA baru ini bukan sosok asing; ia adalah keturunan serpihan-serpihan garis keluarga Bapak Manusia (Sang Imperialis Absolut).
Namun, mereka yang merasa sebagai keturunan langsung Bapak Manusia memandang kekuasaan baru ini sebagai tidak sah. Ketegangan ideologis dan genealogis pun muncul.
Sementara itu, koloni-koloni yang diperintah oleh antek-antek Imperialis Parlementer mulai lalai. Pemerintahan yang rapuh di pusat menular ke pinggiran, menciptakan ketidakpuasan sosial.
Di sisi lain, para pengeklaim keturunan Imperialis Absolut membangun tempat-tempat persembahan untuk leluhur mereka.
Gerakan ini tampak spiritual, tetapi sejatinya adalah konsolidasi politik. Selama tujuh generasi, kekuatan ini tumbuh tanpa pengawasan, hingga menjadi kekuatan raksasa yang siap meledakkan pemberontakan.
Dan benar: perang pun terjadi. Kekuatan pasukan Sang Imperialis Absolut yang tersisa cukup besar dan militan. Pemerintahan Parlementer yang rapuh tak mampu bertahan.
Mereka tumbang di tengah ketidakstabilan yang mereka biarkan sendiri berkembang.
Setelah jatuhnya Imperialis Parlementer, sebuah kekuatan baru muncul: REZIM THEOKRASI, yang memadukan kekuasaan politik dengan kekuasaan moral-spiritual.
Inilah tahap baru imperialisme—IMPERIALISME TOTALITER, di mana kekuasaan tidak lagi diselimuti legalitas parlementer, melainkan dibungkus kesucian dan dogma.
Sebuah siklus pun kembali berputar: kekuasaan lahir, runtuh, berubah bentuk, dan lahir kembali—tanpa pernah benar-benar hilang. ***)
Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 8 Desember 2025





