Filsafat:
PEMIKIRAN KONKRET
Djoko Sukmono
Ketika saya terbangun dari tidur, saya baru menyadari bahwa pagi ini saya kembali memikul kewajiban sebagai individu konkret untuk beraktivitas.
Kesadaran itu hadir bersamaan dengan tubuh yang perlahan bangun dari ketidaksadaran malam, seolah mengingatkan bahwa menjadi manusia berarti terus berhadapan dengan dunia setiap hari.
Saya segera menuju kamar mandi untuk buang air kecil dan menghela napas lega setelahnya. Lalu saya meneguk segelas air putih hangat, merasakan kesegarannya meresap ke dalam tubuh.
Udara pagi yang sejuk saya hirup dalam-dalam; kombinasi sederhana antara air hangat dan udara pagi itu membuat saya merasa sehat, stabil, dan dalam batas tertentu—bahagia.
Di ufuk timur, matahari telah terbit dan menyebarkan kehangatannya kepada semua makhluk tanpa kecuali.
Cahaya itu tidak mengenal diskriminasi; ia hadir untuk semua—untuk batu, untuk tumbuhan, untuk hewan, dan untuk manusia. Kehadiran matahari selalu menjadi metafora paling dasar tentang keberadaan yang tak pilih kasih.
Dengan secangkir kopi panas dan sebungkus rokok Dji Sam Soe, saya mulai merangkai tindakan-tindakan produktif yang memungkinkan saya “ada” dan sekaligus “menjadi ada”.
Di benak saya muncul kesadaran bahwa semua ini—kopi, rokok, udara, air—adalah bentuk kelimpahan materi yang saya miliki, dan dari kelimpahan inilah saya memperoleh kebebasan untuk menggunakannya sebagai bagian dari ritual keseharian.
Namun pertanyaan pun datang: apa yang terjadi jika, ketika saya bangun pagi, saya tidak mendapati semua materi pendukung itu? Air tidak tersedia, kopi tidak ada, rokok tidak ada, bahkan udara bersih pun tidak ada? Tentu saya akan menderita.
Di dalam Marxisme, kondisi ketika kebutuhan-kebutuhan dasar tidak terpenuhi ini disebut sebagai situasi “kelangkaan”.
Kelimpahan dan kelangkaan adalah kondisi material yang selalu menyertai hidup manusia. Namun keduanya bukan definisi dari materialisme historis dialektis.
Materialisme historis berbicara tentang bagaimana struktur ekonomi dan hubungan produksi membentuk kehidupan sosial, politik, hukum, dan ideologi.
Kelimpahan dan kelangkaan hanyalah medan tempat proses itu berlangsung—faktor material yang mempengaruhi, tetapi tidak menentukan segalanya.
Dari sinilah para marxian menyimpulkan bahwa manusia, dalam aktivitas konkret sehari-hari, hidup di dalam kondisi material yang dapat dipahami melalui kerangka Marxisme.
Bukan berarti setiap manusia adalah Marxist, tetapi setiap manusia hidup dalam kondisi material yang dapat dianalisis melalui Marxisme.
Dengan kata lain, manusia adalah makhluk material, makhluk ekonomi, dan makhluk yang bergerak dalam jaringan hubungan produksi.
Pertanyaan lalu muncul: apakah Marxisme sekadar teori kelangkaan? Tentu tidak. Apakah Marxisme sekadar merayakan kelimpahan? Juga tidak.
Marxisme menjelaskan bahwa kelimpahan dan kelangkaan adalah bagian dari dinamika sejarah yang terus bergerak melalui kontradiksi.
Karena itu, bagi para pengikutnya, Marxisme dianggap sebagai keniscayaan sejarah—yaitu kerangka yang mampu menjelaskan gerak sosial manusia sepanjang historisitasnya.
Dari Marx, kita belajar bahwa semua bentuk kehidupan sosial manusia tidak pernah terlepas dari gerak materi yang memasuki sendi-sendi masyarakat.
Gerak materi ini mengalami benturan-benturan kontradiktif dengan kondisi sosial konkret, lalu menghasilkan perubahan sosial.
Das Kapital dimulai dengan analisis tentang komoditas sebagai bentuk dasar hubungan ekonomi kapitalis. Manifesto Komunis dibuka dengan kalimat ikonik, “Sebuah hantu berkeliaran di Eropa—hantu komunisme”.
Dan materialisme historis dialektis memberikan kerangka tentang bagaimana kontradiksi-kontradiksi material itu bergerak dalam sejarah.
Sayangnya, pemahaman tentang Marxisme di Indonesia masih terjebak dalam kabut sejarah politik. Peristiwa 1965 menjadi salah satu bab paling gelap dalam sejarah bangsa.
Negara telah mengakui adanya pelanggaran HAM berat pada periode tersebut, namun belum pernah ada permintaan maaf resmi. Di tingkat masyarakat, narasi yang diwariskan rezim Orde Baru selama tiga dekade masih begitu kuat.
Komunisme dipandang sebagai ancaman mutlak tanpa ada proses penilaian kritis. Mendengar nama Marx saja banyak orang sudah takut, seolah Marxisme adalah hantu ideologis paling menakutkan di muka bumi. Foto Marx sering dianggap sebagai semacam Drakula ideologis yang haus darah.
Pandangan keliru itu terbentuk oleh doktrin Orde Baru tentang “bahaya laten komunis” yang disebarkan selama puluhan tahun hingga meresap ke kesadaran hampir setiap anak bangsa.
Namun ketika dunia memasuki era digital, pintu pengetahuan terbuka lebih lebar. Orang-orang mulai dapat mempelajari Marxisme tanpa rasa takut, dan memandangnya sebagai salah satu dari banyak teori besar dunia.
Tulisan ini hanya mengingatkan bahwa apa yang kita pelajari tidak harus kita percayai. Sebagai seseorang yang meyakini Pancasila, saya tetap menilai penting untuk mempelajari ideologi-ideologi besar dunia, termasuk Marxisme dan Liberalisme. Memahami bukan berarti mengimani.
Marxisme tidak pernah diwakili oleh negara tertentu. Tidak ada negara yang benar-benar berdasarkan Marxisme sebagaimana dipahami Marx.
Negara-negara seperti Uni Soviet, Cina Maois, dan negara-negara sosialis lainnya membangun diri berdasarkan interpretasi Marxis-Leninis—varian politis dari Marxisme, bukan Marxisme murni.
Karena itu, negara-negara tersebut lebih tepat disebut sebagai negara sosialis dengan orientasi Marxis-Leninis.
Uni Soviet mengklaim dirinya sebagai raksasa sosialisme internasional hingga keruntuhannya pada 1991. Jerman Timur adalah salah satu negara satelitnya.
Semua negara “komunis” dunia modern sesungguhnya adalah tafsir politis atas Marxisme, bukan representasi langsung ajaran Marx.
Marxis-Marxis hidup bebas di setiap lorong kehidupan–dalam buku-buku, dalam perdebatan intelektual, dalam analisis sosial, dan dalam kritik atas ketidakadilan ekonomi.
Mereka tidak harus berada dalam negara yang menganut komunisme; mereka hanyalah individu-individu yang mempelajari, menafsirkan, dan menggunakan Marxisme untuk memahami gerak sejarah materi di dalam kehidupan manusia. ***)
Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 7 Desember 2025





