MANUSIA SOSIAL KONKRET

MANUSIA SOSIAL KONKRET

Filsafat:

MANUSIA SOSIAL KONKRET
Djoko Sukmono

Apakah saya manusia?
Ya. Saya adalah manusia otentik, makhluk yang hadir ke dunia bukan sebagai salinan siapa pun, tetapi sebagai keberadaan yang memikul tanggung jawab atas dirinya sendiri.

Apakah saya hidup?
Ya. Hidup saya adalah tindakan terus-menerus untuk mempercayai eksistensi saya sendiri—sebuah afirmasi bahwa keberadaan saya bukanlah kebetulan, melainkan proyek yang harus saya jalani.

Apakah saya adalah yang melingkupi saya?
Ya. Yang melingkupi saya adalah seluruh kesadaran saya—dunia sebagaimana ia termaknai, terpahami, dan terjelma dalam horizon pengalaman saya.

Apakah saya adalah milik saya?
Ya. Saya adalah milik saya sendiri. Keputusan, arah, dan bentuk hidup saya tidak ditentukan oleh apa pun di luar diri, kecuali jika saya sendiri menyerahkannya.

Apakah saya harus menjadi?
Ya. Saya harus menjadi sebagaimana saya mempercayai. “Menjadi” adalah kerja harian untuk mewujudkan kemungkinan diri, bukan menunggu nasib membentuk saya.

Apakah saya harus mempercayai?
Ya. Saya mempercayai eksistensi saya, sebab tanpa kepercayaan pada diri, tidak ada gerak, tidak ada arah, tidak ada makna.

Apakah saya harus mengerti?
Ya. Yang saya mengerti adalah esensi saya—bukan sebagai sesuatu yang sudah selesai, tetapi sebagai sesuatu yang terus saya bentangkan dan saya rumuskan sepanjang perjalanan hidup.

Apakah hidup saya belum selesai?
Ya. Hidup saya harus saya selesaikan seumur hidup saya.

Selama saya masih bernapas, saya masih berada dalam proses: merumuskan diri, menegaskan pilihan, menapak jalan yang tidak ditentukan oleh siapa pun selain saya.

Prolog
Hanya sekali dalam sejarah suatu bangsa menjadi besar.
Hanya sekali dalam sejarah seseorang “berkuasa”.
Hanya sekali dalam sejarah suatu negara benar-benar unggul.

Ketiganya tidak berulang. Sejarah tidak memberi edisi revisi.

Apakah rasialisme itu ada? Ya, ada.
Apakah paham rasialisme hari ini masih hidup? Ya, ia masih hidup.
Siapakah dia? Dialah ras unggul.
Di mana dia? Ia ada di mana-mana, beroperasi di balik seluruh sistem yang menopang dunia modern.

Apakah rasialisme bertentangan dengan kemanusiaan? Jawabannya tidak.
Mengapa? Karena “kemanusiaan” hanyalah rangkaian konsep universal tentang esensi manusia—lebih mirip tuntutan moral daripada kekuatan yang bekerja nyata.

Dan kepada siapa tuntutan itu disampaikan?
Kepada negara.
Mengapa tuntutan-tuntutan itu tak pernah tiba?

Karena “kemanusiaan” bersifat abstrak. Ia tak memiliki tangan untuk bekerja, tak memiliki kaki untuk melangkah, dan karena keabstrakannya, ia tidak pernah dapat dipenuhi sepenuhnya.

Jika demikian, apakah gunanya hukum?
Bagi ras unggul, hukum tidak berguna. Karena ras unggul—superman—tidak membutuhkan hukum.

Hukum dibuat untuk mereka yang merindukan perlindungan: kelas-kelas yang termarjinalkan, mereka yang menggantungkan harapannya pada “kemanusiaan”.

Contohnya siapa?
Rakyat!

Rakyatlah yang membutuhkan perlindungan, keadilan, dan kesejahteraan. Para rasis tidak membutuhkan itu, karena mereka telah menguasai dunia—politik, ekonomi, dan teknologi—dengan semboyan: Gold, Gospel, Glory, Victory. Segalanya digerakkan oleh satu mesin utama: War!

Inilah realitas konkret manusia di muka bumi:
kekuasaan tidak dibentuk oleh kebaikan, tetapi oleh kemampuan untuk menang.

Gold adalah kekuatan finansial.
Gospel adalah wibawa moral dan spiritual.
Glory adalah kejayaan sebagai puncak pengakuan atas kekuasaan.
Victory adalah kemenangan sebagai tanda keutamaan eksistensial.
Dan War adalah jalan menuju semuanya.

Dalam demokrasi elektoral, war bukan sekadar medan perang; ia adalah strategi konkret untuk mengalahkan pesaing. Kemenangan tidak datang dari langit—ia lahir dari tindakan yang cepat, tepat, dan total.

Kemenangan hanya datang kepada mereka yang berjuang. Yang takut, cemas, atau ragu akan menjadi endapan sejarah.

Jangan Kalah

Filosofi 80 Tahun Indonesia Merdeka
Apakah saya manusia? Ya.
Saya adalah manusia otentik.

Apakah saya hidup? Ya.
Hidup saya adalah tindakan mempercayai eksistensi saya sendiri.

Apakah saya adalah yang melingkupi saya? Ya.
Yang melingkupi saya adalah seluruh kesadaran saya.

Apakah saya milik saya? Ya.
Saya adalah milik saya sendiri.

Apakah saya harus menjadi? Ya.
Saya menjadi sebagaimana saya mempercayai diri saya.

Apakah saya harus mempercayai? Ya.
Saya mempercayai eksistensi saya.

Apakah saya harus mengerti? Ya.
Yang saya mengerti adalah esensi saya.

Apakah hidup saya belum selesai? Ya.
Hidup saya harus saya selesaikan seumur hidup saya.

Karena itu: jadilah manusia konkret.
Jadilah manusia sejarah.
Jadilah manusia politik.
Jadilah manusia unggul.
Jadilah besar, dan jangan runtuh.

Revolusi Indonesia belum selesai. Ajak seluruh anak bangsa untuk melanjutkan Revolusi.

Musuh Revolusi Indonesia

Musuh revolusi hari ini bukan lagi NEKOLIM klasik, melainkan anak-anak dan cucu-cucunya:
oligarki,
homo economicus kapitalistik,
crime-state corporate,
dengan sistem sosial ekonomi yang bernama liberalisasi total dan penetrasi kapital di sektor-sektor strategis.

Revolusi Indonesia berhenti atau dilanjutkan?
Jika berhenti, Indonesia menjadi boneka NEKOLIM (Neo (baru) Kolonialis Imperialis).
Jika dilanjutkan, berarti kita melawan kekuatan besar yang menguasai seluruh struktur sosial.

Tinggal pilih:
Jika menang—hidup.
Jika kalah—binasa.
Jika menyerah—jadi budak.

Lawan! Merdeka!

Ruang Sosial Politik

Realitas sosial adalah akumulasi tindakan manusia konkret yang menggerakkan sejarah. Dari rahim manusia konkret lahir dua bentuk keberadaan:

Manusia Individual Konkret, yang kelak membentuk diri menjadi manusia unggul—manusia politik.

Manusia Sejarah, yaitu mereka yang sadar penuh akan historisitas eksistensinya.

Manusia politik adalah manusia konkret dengan kehendak untuk berkuasa.
Manusia sejarah adalah manusia konkret dengan kehendak untuk hidup.

Dalam bentuk riilnya:
Manusia Politik = Presiden, Perdana Menteri, Ketua Parlemen.
Manusia Sejarah = Filsuf.

Ruang sosial politik adalah ruang sempit, tetapi di sanalah singgasana kekuasaan berada. Dunia sosial bergerak di bawah kendali penuh manusia-manusia politik.
Inilah politik sebagai kekuasaan yang melembaga.

Manusia sejarah—sang filsuf—tersenyum melihat tingkah laku politik, karena ia tahu:
segala tindakan manusia politik akan berakhir tragis.
Mereka akan dihantam oleh baja sejarah.

Revolusi Sosial

Revolusi sosial adalah realitas sosial baru, lahir dari gerak sejarah ketika batas sosial sudah mencapai titik jenuh. Revolusi ini mencakup ideologi, politik, ekonomi, dan budaya.

Revolusi-revolusi besar telah terjadi:
— Revolusi Bolshevik
— Revolusi Prancis
— Revolusi ekonomi materialis
— Revolusi budaya sejak Sokrates

Namun revolusi sosial abad ke-21 mengikuti hukum rasional sejarah: hukum perubahan.

Nietzsche, filsuf eksistensialisme, berfilsafat dengan palu. Ia menghancurkan nilai yang memenjarakan manusia agar manusia dapat hidup otentik sebagai manusia unggul. Bung Karno menyebutnya: manusia yang berdikari.

Manusia unggul adalah manusia konkret yang mampu hidup tanpa ilusi bantuan negara, masyarakat, atau agama.

Hitler pernah mengambil inspirasi dari Nietzsche. Ia membakar Eropa, tetapi itu bukan soal etika atau hukum internasional—itu adalah panggilan sejarah.

Lalu dunia dibakar oleh perang. Amerika menjatuhkan bom atom.
Namun… di Asia Tenggara, Indonesia meledakkan revolusi sosial yang berpuncak pada Proklamasi 1945.

Revolusi sosial belum selesai.
Kita hanya menunggu panggilan sejarah berikutnya.

Postulat sosial adalah fondasi paling dasar dalam kehidupan sosial, yaitu ide besar atau paradigma yang membentuk cara manusia berpikir, bertindak, dan menata realitas sosialnya.

Postulat ini tidak hanya mengarahkan pola pikir, tetapi juga menjadi sumber yang melahirkan berbagai ide turunan.

Ia adalah payung konseptual yang menaungi seluruh kerangka berpikir suatu masyarakat, memengaruhi bagaimana manusia memahami diri, sesama, dan struktur sosial yang mereka bangun.

Komunisme dan Pancasila merupakan contoh konkret dari postulat sosial. Komunisme bekerja sebagai postulat yang menolak kepemilikan pribadi atas alat produksi dan membayangkan dunia tanpa kelas.

Dari postulat ini tumbuh berbagai konsep—sosialisme, perjuangan kelas, ekonomi terencana—yang semuanya berakar pada gagasan dasar tentang kesetaraan material.

Sementara itu, Pancasila berfungsi sebagai postulat sosial Indonesia, yang menaungi nilai ketuhanan, persatuan, keadilan, dan kehidupan politik-hukum yang berorientasi pada keseimbangan masyarakat.

Seluruh sistem sosial Indonesia bergerak dalam horizon Pancasila sebagai ide fundamental.

Dalam dinamika sejarah, postulat sosial menjadi titik tolak bagi munculnya proses dialektika.

Setiap postulat memunculkan gerak tesis, antitesis, dan pada akhirnya sintesis.

Konflik antara komunisme dan kapitalisme misalnya, melahirkan berbagai bentuk sintesis seperti negara kesejahteraan Skandinavia—yang memadukan pasar bebas dengan perlindungan sosial yang kuat.

Sejarah sosial selalu bergerak melalui benturan ide, dan postulat adalah sumber awal energi dialektis itu.

Hegel memberikan fondasi logis bagi dialektika: sebuah mekanisme perkembangan ide melalui negasi dan pengatasan.

Namun Marx memindahkan mesin dialektika itu ke dalam dunia material. Bagi Marx, dialektika bukan sekadar perkembangan gagasan, melainkan gerak sejarah manusia melalui struktur ekonomi dan relasi produksi.

Materialisme historis-dialektis lahir dari transposisi pemikiran Hegel ke dalam kenyataan konkret.

Perubahan sosial bukan kebetulan; ia adalah keniscayaan yang dihasilkan oleh benturan antara postulat sosial dan kondisi material yang terus berubah.

Kapitalisme, komunisme, sosialisme—semuanya menjadi titik-titik awal dialektika sejarah modern.

Postulat sosial juga membawa unsur idealisme. Sejak Plato, idealisme berbicara tentang tujuan yang dianggap tertinggi dalam kehidupan manusia: keadilan, kebebasan, kesejahteraan.

Dunia nyata, bagi Plato, hanyalah bayangan dari dunia ide. Namun manusia selalu berusaha mewujudkan nilai-nilai ideal itu ke dalam kenyataan.

Itulah sebabnya setiap postulat sosial memuat unsur transendental—suatu visi tentang kehidupan yang lebih baik.

Pancasila mengandung cita-cita keadilan dan persatuan; komunisme mengandung visi masyarakat tanpa kelas; demokrasi mengandung gagasan kebebasan individu dan kedaulatan rakyat.

Idealisme memberi arah, sedangkan realitas sosial memberi batasnya.

Karena itulah postulat sosial menjadi landasan perubahan. Ia mempunyai sifat universal dalam pengaruh, namun selalu diterjemahkan secara lokal sesuai kondisi historis masyarakat.

Kapitalisme sebagai postulat melahirkan neoliberalisme, globalisasi, dan struktur pasar dunia; demokrasi sebagai postulat melahirkan sistem politik berbasis hak individu dan legitimasi rakyat.

Setiap postulat menciptakan dunia turunannya sendiri, dengan nilai, sistem, dan institusi yang lahir dari rahimnya.

Pada akhirnya, postulat sosial adalah ide fundamental yang membingkai cara manusia melihat kenyataan, membentuk basis bagi tindakan kolektif, dan memulai gerak dialektika dalam sejarah.

Dengan memahami postulat sosial, kita dapat membaca kerangka dasar yang menggerakkan peradaban dan memahami arah perubahan sosial.

Tanpa pemahaman atas postulat, kita hanya melihat permukaan realitas; dengan memahaminya, kita dapat membaca struktur terdalam yang membentuk dunia manusia. ***)

Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 2 Desember 2025