Opini:
SABDA DEMIT NASIONALIS
Djoko Sukmono
Penjajah itu, pada akhirnya, tidak ada.
Yang ada—dan yang berlangsung berabad-abad—adalah bahwa
Indonesia menjadi tempat berkumpulnya segala bangsa.
Sebuah ruang sejarah yang dihuni oleh berbagai suku, ras, iman, dan kepentingan,
bercampur, bertabrakan, lalu membentuk apa yang hari ini disebut “Indonesia”.
Karena itu, Pancasila sebagai moral segala bangsa yang berkumpul itu justru relevan.
Ia bukan milik satu kelompok, apalagi milik satu rezim.
Ia adalah tatanan etis yang hadir dari keragaman sejarah itu sendiri. Namun jangan ribut-ribut.
Nanti dimusuhi para demit-demit nasionalis— demit yang satu, demit yang beriman, yang bersekutu dengan Pancasila hingga mereka rela menjadi tumbal bagi republik ini.
Doktrin nasional bagi para demit nasionalis itu sederhana tetapi keras:
Marhaen percaya Pancasila.
Marhaenis menegakkan Pancasila.
Marhaenis anti-penindasan.
Anti-kemiskinan.
Anti-kebodohan.
Anti terhadap siapa pun yang memelihara semua itu.
Dan, ironisnya, yang memeliharanya justru Pemerintah Republik Indonesia hari ini.
Maka para demit nasionalis itu menjadi anti-pemerintah Republik Indonesia.
Maka, mereka menyatakan perang terhadap pemerintah Republik Indonesia.
“Ganyang Nekolim” yang kini menjelma dalam wajah negara itu sendiri.
Itulah bisikan yang saya dengar dari para demit nasionalis yang sekarang gentayangan di sudut-sudut kehidupan sosial bangsa Indonesia.
M e r d e k a !!!
Para demit nasionalis ini memegang teguh satu prinsip:
nasionalisme harus konkret,
demokrasi harus riil,
bukan slogan yang digantung di setiap kantor negara.
Musuh utama yang harus disingkirkan dari bumi Indonesia, kata mereka, adalah:
Kapitalis birokrat!,
Setan kota!,
Setan desa!, dan
Neoliberalis!
Siapa pun yang berjubah agama
Industrialis pemangsa
Oligarkis
Dan semua penganjur ilusi yang meracuni anak-anak bangsa
M e r d e k a !!!
Semua itu, kata mereka, adalah baja sejarah.
Proses penghancuran yang harus dilewati
agar bangsa ini kembali menemukan dirinya.
Maka mereka berteriak:
Bangkit, bangkit, bangkit!
Lawan, lawan, lawan!
Sebab jika tidak, kepunahan adalah keniscayaan historis yang tak terhindarkan.
Sebab begitulah nasib kawanan yang terpinggirkan:
mereka hanya bisa berteriak dengan gema yang halusinatif.
Dan pekik “merdeka!” itu, seiring waktu,
akan makin pelan, makin samar, lalu hilang—
punah seperti gema-gema sejarah lainnya.
Contohnya sudah banyak:
Zeus, Tuhan yang berkuasa pada zamannya—kini punah,
karena tidak ada lagi yang menyembahnya.
Romawi punah.
Majapahit punah.
Hindia Belanda punah.
Uni Soviet punah.
Yugoslavia punah.
Bisakah yang punah itu kembali eksis?
Tidak.
Eksistensi hanya men-dunia sekali dalam sejarahnya.
Sekali hilang, ia tak kembali.
Pertanyaannya kini:
siapa lagi yang menyusul untuk punah? ***)





