DJOKO SUKMONO: EKSISTENSI

DJOKO SUKMONO: EKSISTENSI

Surabaya | sarinahnews.com || – Pemberitahuan. Hanya manusia yang ber-eksistensi. Hanya manusia yang memiliki sejarah. Selain keduanya adalah ilusi.

Agama tidak memiliki eksistensi.
Negara tidak memiliki eksistensi.
Keduanya adalah biang keladi munculnya esensi.

Dari esensi ini lahirlah istilah-istilah yang diklaim sebagai hal-hal yang esensial,
misalnya kebenaran dan kebaikan.

Dua istilah ini, yang dianggap sebagai induk dari hal-hal yang esensial, menelurkan istilah petaka yang bernama keadilan dan kesejahteraan.

Sementara itu, seorang eksistensialis memperingatkan kepada orang-orang yang menjadi penganut esensialisme, agar mulai belajar menyadari sepenuhnya bahwa esensialisme adalah candu sosial.

Pembongkaran

Sudah ribuan tahun anak-anak manusia hidup dalam ilusi.
Sudah ribuan tahun anak-anak manusia hidup dalam ketidakpastian.
Sementara para esensialis terus-menerus mempropagandakan nilai-nilai esensial.

Contoh: Kebenaran dan Kebaikan

Keduanya kemudian dijadikan pancang-pancang sebagai instrumen penyebaran agama. Dan hingga abad ke-21 ini, di tahun 2025, mayoritas penghuni bumi masih gandrung terhadapnya.

Praktik Eksistensi

Hanya manusia konkret yang ber-eksistensi.
Hanya manusia konkret yang menyejarah.

Ber-eksistensi bagi manusia konkret adalah menjadi manusia sejarah yang menyejarah.

Ber-eksistensi adalah berpikir dan bertindak.
Berpikir, bagi seorang eksistensialis, adalah menyadari sepenuhnya bahwa:

Saya adalah eksistensi saya sendiri.
Saya adalah kebebasan saya sendiri.
Saya adalah pengalaman saya sendiri.
Saya adalah sejarah saya sendiri.

Saya adalah tanggung jawab saya sendiri.
Saya memiliki hak yang tidak dapat dicabut oleh apa pun dan siapa pun selama saya menyelesaikan hidup saya di dunia.

Saya memiliki hak yang tidak dapat diganggu gugat oleh apa pun dan siapa pun dalam membangun relasi saya dengan dunia.

Saya memiliki hak kodrati yang tidak bisa ditiadakan oleh apa pun dan siapa pun selama saya hidup di dunia, seumur hidup saya.

Saya tidak mengajarkan kebenaran dan kebaikan kepada siapa pun.

Saya memiliki hak untuk mempraktikkan keyakinan saya sendiri selama saya hidup di dunia, seumur hidup saya.

Dan masih ada lagi kategori-kategori khusus yang saya miliki, dan hal-hal semacam itu tidak berlaku untuk entitas di luar diri dan hidup saya.

Manusia konkret tidak terhubung dengan piagam, konstitusi, pasal, atau ayat.
Manusia konkret terhubung dengan yang transhistoris.
Manusia konkret tidak terhubung dengan yang adi-kodrati.

Manusia konkret adalah dirinya sendiri,
adalah kebebasannya sendiri,
adalah tanggung jawabnya sendiri.

Ketika membangun relasi dengan ada yang lain, manusia konkret tidak memberitahukan kepada ada yang lain tentang keberadaannya. Ada yang lain, bagi manusia konkret, adalah keberadaannya sendiri.

Kemudian daripada itu,
interaksi sosial yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari adalah interaksi politis murni.
Demikianlah manusia konkret itu:
dia adalah kemanusiaannya sendiri.

Potret Eksistensi

Eksistensi adalah dasar kesungguhan dari keberadaan ontologis manusia.
Manusia itu ada, dan adanya adalah suatu realitas konkret yang tak terbantahkan.
Eksistensi adalah yang konkret itu.

Eksistensi manusia konkret adalah kehadiran otentiknya di dalam sejarah.
Dan dari hal itulah, eksistensi manusia konkret memandang bahwa dunia konkret adalah keniscayaan sejarah yang tak terelakkan.

Adanya adalah mutlak.
Menjadinya adalah proses.

Menyadari tentang yang objektif adalah sebuah tindakan eksistensial dari eksistensi manusia konkret dalam membangun relasi dan interaksi-nya dengan yang esensial.

Eksistensi dan Esensi
Tindakan Eksistensial Manusia Konkret

Tuhan saat ini bisa berarti loyalitas. Oleh karena itu, semua yang dapat menimbulkan loyalitas bisa dianggap sebagai Tuhan.
Loyalis-loyalis inilah yang disebut Pengikut Tuhan.

Sementara itu, ada seorang Narator yang dibawa oleh para loyalis ke sebuah tempat bernama Pusaran Misterius, yang merupakan singgasana Tuhan.

Para loyalis merasa berkewajiban membawa Narator ini ke hadapan singgasana sakral agar ia diadili.

Hal ini karena Narator tersebut mengklaim telah menciptakan makhluk bernama Star Maker (Pembuat Bintang). Ketika ciptaannya itu mulai menciptakan bintang-bintang, Narator membiarkannya berbuat dengan bebas.

Saat Star Maker mencipta, Narator mendengar bunyi-bunyian indah, yang dianggapnya sebagai Permulaan.

Kemudian, Narator tertidur. Ketika ia bangun, ia terpesona oleh karya besar Star Maker.
Ternyata, Star Maker menciptakan terlalu banyak bintang, hingga Narator bertanya dalam hati: Untuk apa sebanyak ini diciptakan?

Ini benar-benar boros. Jumlah materi ini seolah tak terhingga.

Narator melanjutkan perjalanan menuju bintang yang dianggapnya paling sempurna. Di sana, ia terpesona oleh embrio kehidupan yang memancarkan kesempurnaan. Bahkan, Narator sempat jatuh cinta kepadanya.

Namun, Narator kemudian tertegun. Ia mulai merasa gundah. Tiba-tiba, kebosanan menguasainya, hingga ia menghentikan pekerjaan Star Maker.

Narator menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana terlalu banyak bintang mati, hancur berkeping-keping, dan berserak menjadi serpihan-serpihan.

Serpihan itu, dikemudian hari, menjadi tata surya—salah satunya adalah Bumi, yang kini dihuni oleh manusia.

Esensi memiliki bentuk-bentuk yang memesona, seperti agama (meskipun menjanjikan sesuatu yang indah dan sempurna, janji-janji itu belum pernah tiba.

Hingga kini, di abad ke-21 tahun 2025, agama tetap menjadi sandaran moral dan harapan bagi sebagian besar anak-anak manusia).

Esensi juga memiliki bentuk-bentuk yang heroik, seperti negara. Negara, dengan karyanya, memberikan janji-janji berupa keadilan, kebebasan, dan kesejahteraan.

Namun demikian, meskipun negara memiliki instrumen yang memadai untuk memanifestasikan nilai-nilai fundamental kemanusiaan, tetap saja ia hanyalah sebuah ilusi sosial yang manipulatif.

Itulah esensi—sehingga esensi adalah kemungkinan-kemungkinan saja bagi kehidupan sosial manusia.
Dan eksistensi, dengan tugasnya, menyatakan bahwa esensi, esensialisme, dan yang eksistensial itu adalah virus mental yang berbahaya dan sanggup mematikan eksistensi.

Eksistensi manusia konkret tidak berhenti dan menyerahkan keberadaannya kepada yang esensial itu, melainkan terus-menerus melakukan lompatan-lompatan eksistensial dalam rangka eksistensinya yang otentik. ***)

Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 19 September 2025