Opini:
TRAGEDI ESENSIAL REPUBLIK INDONESIA
Oleh Djoko Sukmono
MONOLOG
Pembunuhan terhadap yang esensial di Republik Indonesia telah terjadi. Dengan beraninya mereka, mereka adalah anak-anak bangsa Indonesia yang mabuk kekuasaan.
Anak-anak bangsa yang terpapar virus Frderalisme.
Anak-anak bangsa yang terpapar virus NeoLiberalisme.
Anak-anak bangsa yang telah menjadi antek-antek Nekolim.
Dan, anak-anak bangsa Indonesia yang tidak percaya Pancasila.
Rasio Historis melihat nahwa potret anak-anak bangsa Indonesia adalah sbb: Kami anak-anak bangsa Indonesia beranggapan bahwa Republik Indonesia ini tidak penting bagi kami
Kami Anak-anak bangsa Indonesia menyatakan bahwa Republik Indonesia tidak memberikan apapun kepada kami.
Kami anak-anak bangsa Indonesia telah tertipu oleh kebohongan demi kebohongan yang dilakukan oleh para pemimpin Republik Indonesia.
Kami anak-anak bangsa Indonesia hanyalah sebuah sandera yang diperjualbelikan oleh rezim.
Kami anak-anak bangsa Indonesia tidak lagi percaya kepada seluruh rumpun kekuasaan yang imperialistik, dan feodalistik.
Kami anak-anak bangsa Indonesia menyatakan bahwa rezim dan sub-sub rezimmnya adalah Drakula Politik dan Hantu Sosial.
Kami anak-anak bangsa Indonesia menyatakan M e l a w a n !!!
Rasio Historis memandang bahwasanya tragedi esensial Republik Indonesia telah terjadi.
Kejadian tragedi esensial Republik Indonesia itu adalah berupa: DeSukarnoisasi!, DePancasilaisasi!, DeNasionalisasi!
Yang esensial itu adalah Nilai-nilai fundamental kemanusiaan, nilai-nilai fundamental kebangsaan, nilai-nilai fundamental keadilan.
Rasio Historis menyatakan bahwa setiap anak-anak bangsa Indonesia yang terlibat langsung dengan terjadinya tragedi esensial Republik Indonesia telah menjadi penguasa yang berkuasa penuh di Republik Indonesia ini.
Dan, mereka adalah anak-anak bangsa Indonesia yang keblinger dan dengan segala kekuatan yang dimilikinya tetap mempertahankan hegemoninya dengan berbagai cara dan rekayasa.
Sedangkan anak-anak bangsa Indonesia yang lainnya dibuatkan sangkar raksasa yang sewaktu-waktu bisa dieksploitasi sesuai dengan kepentingannya.
Rasio Historis menjelaskan bahwa sesungguhnya yang sengaja menimbulkan Tragedi esensial Republik Indonesia itu adalah rezim reformasi.
Rezim ini adalah sebuah rezim anti Negara kesatuan yang berbentuk Republik ini dan dengan ekstrim dapat dinyatakan sebagai anti NKRI.
Mereka (Para Reformer) itu adalah para Federalis yang sengaja menjalankan misi untuk menjadikan NKRI sebagai Negara Federal, meskipun dengan topengnya yang berbunyi NKRI Harga Mati!
Rasio Historis memperingatkan kepada seluruh anak-anak bangsa Indonesia bahwa saat ini di tahun 2025 ini, telah bercokol diberbagai lorong-lorong kehidupan sosial berbangsa dan bernegara bahwa agen-agen reformasi berkedok Pancasilais.
Waspada!, dan waspadai orang-orang Indonesia yang telah menjadi antek-antek reformasi. Mereka adalah: Kapitalis yang berwajah Pancasilais. Federalis yang berwajah NKRI. Komunis yang berwajah Sosialis!
Setiap lembaga sosial apakah itu Negara, Ormas, lembaga keagamaan maupun komunitas kecil pasti memiliki konsekuensinya masing-masing.
Konsekuensi sebuah lembaga sosial itu adalah bersandarkan kepada Piagam yang membidaninya.
Contoh :
Republik Indonesia ini didirikan berdasarkan Piagam yang bernama Pancasila. Kemudian diterjemahkan menjadi landasan struktural Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) bernama UUD Tahun 1945.
Konskeusi sebuah bangsa yang memilih bentuk Negara Republik itu apa saja?
Konsekuensi adalah sebuah sikap mental yang logis dan realistis terhadap sebuah keberadaan ontologis yang dipercayai.
Republik sudah menjadi pandangan yang dianggap benar, baik dan cocok untuk bangsa Indonesia.
Kemudian dari pada itu mereka yang mengaku sebagai republiken wajib menerima segala konsekueansi dari sebuah Negara Bangsa yang berbentuk Republik ini.
Konsekuensi Sebuah Republik
Secara umum konsekuensi sebuah republik adalah:
Tidak berdasarkan kepada garis keturunan.
Tidak berdasarkan kepada kekuasaan yang berpusat kepada figur tertentu.
Tidak diperintah oleh gerombolan tertentu.
Tidak berdasarkan kepada pemerintahan hasil kudeta.
Tidak berdasarkan kepada sistem demokrasi yang dipaksakan (direkayasa).
Numun, berdasarkan kepada kemauan publik (Rakyat).
Berdasarkan kepada hukum dasar berupa piagam pendirian dan hukum yang ditetapkan oleh oublik melalui bentuk-bentuk perwakilan yang tersepakati.
Berdasarkan kepada hukum rasiobal perubahan yang dapat diterjemahkan sbb:
Ketika waktu telah mengharu biru kehidupan berbangsa dan bernegara, maka Publik memiliki hak konstitusional untuk menyatakan pendapatnya dan pemerintah sesegera mungkin melaksanakan keinginan Publik.
Misalnya, publik menyatakan penyelenggara negara dianggap tidak pecus dan usang.
Penyelenggaraan pemerintahan dinyatakan korup.
Maka untuk menghindari konfrontasi langsung antara publik dengan pemerintah, jalan keluarnya adalah referendum.
Saat ini pemerintah Republik Indonesia sedang menghadapi tuntutan publik yang diantaranya adalah persoalan legitimasi.
Dan, persoalan ini jikalau tidak ada jalan keluarnya maka dapat dipastikan situasi politik semakin panas dan tidak menutup kemungkinan bisa membakar Indonesia.
Sebuah renungan filosofis tentang Negara Kesatua Republik Indonesia (NKRI).
Rasio Historis memandang rezim reformasi bertanggung jawab penuh terhadap seluruh peristiwa yang membawa bangsa Indonesia kedalam kehancuran.
Rasio Historis melihat bahwa rezim reformasi memaksakan sebuah sistem kenegaraan, pemerintahan dan demokrasi yang ngawur, sehingga mengakibatkan terjadinya berbagai situasi sosial politik, sosial ekonomi dan sosial budaya yang berantakan.
Rasuo Historis memberitahukan kepada seluruh anak-anak bangsa Indonesia bahwa Indonesi telah berada pada posisi paradoks.
Rasio Historis dengan Instrumennya yang bernama hukum rasional sejarah menyatakan bahwa kesalahan terbesar terletak kepada rezim reformasi dikarenakan dengan kancingnya merobek-robek Piagam Pendirian bangsa dan mengganti dasar hukum republik, yakni Pancasila dan UUD tahun 1945.
Tanpa melibatkan publik sebagai pemilik sah Republik Indonesia ini. Maka, petir akan menyambar di siang hari dan baja sejarah telah menyiapkan palu godam sejarahnya untuk menghancurkan para pelaku reformasi tanpa tedeng aling-alung! M e r d e k a !!!
Tragedi esensial Republik Indonesia tidak akan pernah berhenti dikarenakan tidak ada kemauan politik dari pemerintah.
Sementara politik Negara Kesatuan Negara Republik Indonesia (NKRI) hanya dijadikan pajangan yang tidak pernah tertengok oleh penyelenggara negara.
Manifestasi politik NKRI adalah: Persatuan, kesatua, dan keutuhan bangsa dan negara Pancasila dan UUD tahun 1945 adalah sebuah manifestasi mutlak melanjutkan Revolusi Indoneseia dibawah panji-panji Pancasila.
Dan, melibatkan secara langsung seluruh rakyat Indonesia di dalam membangun kejayaan bangsa, baik secara fisik maupun mental.
Menghimpun tenaga-tenaga revolusioner rakyat Indonesia untuk menjalankan politik negara.
Kemudian dari pada itu, politik negara mengingatkan kepada seluruh komponen bangsa, elemen masyarakat dan pemerintah serta seluruh rakyat Indonesia bahwa politik negara ini adalah suatu jalan revolusi yang tak terelakkan.
Bagi apa pun dan siapa pun yang menghalangi jalannya revolusi Indonesia ini adalah dinyatakan sebagai anti Politik Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Akhirnya pesan dari Paduka Yang Mulia Pemimpin Besar Revolusi penyambung lidah rakyat Indonesia, Bung Karno: “Jadilah Besar dan Jangan Runtuh Lanjutkan Revolusi Indonesia!” ***)
Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 12 Juni 2025
Author: Djoko Sukmono, Badan Pendidikan dan Pelatian Gerakan Pemuda Nasionalis Marhaenis (NASMAR)





