Rezim Peradaban Menyeret Seluruh Rezim di Dunia kepada Situasi Kronis

Rezim Peradaban Menyeret Seluruh Rezim di Dunia kepada Situasi Kronis

Filsafat Sosial Politik

Rezim Peradaban Menyeret Seluruh Rezim di Dunia kepada Situasi Kronis
Joko Sukmono

Situasi kekinian menunjukkan bahwa dunia sedang memasuki sebuah fase sejarah yang bersifat kronis. Dalam pandangan Dechiperisme, yang sedang bekerja pada saat ini bukan sekadar dinamika politik biasa, melainkan sebuah gerakan yang lebih dalam, yaitu gerakan dari apa yang dapat disebut sebagai rezim peradaban.

Rezim peradaban ini sedang menyeret seluruh rezim yang ada di dunia ke dalam sebuah situasi ujian sejarah yang keras. Tidak ada lagi ruang bagi stabilitas lama yang selama ini tampak mapan. Semua struktur yang tampak kokoh mulai mengalami retakan, dan retakan itu semakin hari semakin memperlihatkan wajahnya yang sesungguhnya.

Dalam kerangka pemikiran ini, perang antara Iran dan Israel tidak dapat dipahami hanya sebagai konflik militer antara dua negara yang bermusuhan.

Bagi Dechiperisme, perang tersebut merupakan sebuah peristiwa sejarah yang memiliki makna lebih dalam, yaitu perang dalam rangka peniadaan terhadap berbagai tempelan yang selama ini melekat pada kawasan tersebut.

Tempelan yang dimaksud terutama adalah tempelan ideologis yang telah berkembang secara akut dan menjerat kehidupan masyarakat dalam konflik yang berkepanjangan.

Tempelan semacam ini telah membentuk lapisan-lapisan identitas yang kaku dan memproduksi permusuhan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dalam situasi seperti ini, Amerika Serikat sebagai kekuatan super power menunjukkan kejenuhannya terhadap konstruksi ideologis yang terus memproduksi konflik tanpa akhir. Kejenuhan tersebut diterjemahkan ke dalam sebuah gebrakan politis yang keras, yaitu tindakan militer yang berskala besar.

Tindakan tersebut bukan sekadar operasi militer, tetapi merupakan ekspresi dari sebuah intervensi sejarah yang mencoba memutus rantai tempelan-tempelan ideologis yang telah lama mengendap.

Dechiperisme memandang bahwa banyak krisis yang sering dianggap sebagai masalah fundamental sebenarnya hanyalah tempelan-tempelan yang dibangun oleh konstruksi peradaban tertentu.

Krisis energi, misalnya, pada dasarnya merupakan sebuah tempelan yang berada di luar keberadaan manusia yang otentik. Manusia yang hidup secara otentik tidak menggantungkan eksistensinya pada konstruksi energi industrial yang rumit.

Yang benar-benar terpukul oleh krisis semacam ini bukanlah manusia dalam arti eksistensialnya, melainkan struktur industri modern beserta jaringan kepentingan yang menopangnya. Para industrialis dan para pekerja dalam sistem industri itulah yang paling merasakan guncangan dari krisis semacam itu.

Segala sesuatu yang bersifat tempelan, baik yang berbentuk material rekayasa maupun yang berbentuk tempelan metafisis hasil rekayasa pemikiran manusia, pada akhirnya tidak memiliki daya tahan di hadapan gerak sejarah yang sesungguhnya.

Ketika sejarah bergerak dengan kekuatan yang besar, tempelan-tempelan tersebut akan menguap dengan sendirinya. Ia tersapu oleh gebrakan politis yang muncul sebagai ekspresi dari hukum rasional sejarah yang bekerja secara diam-diam tetapi pasti.

Dalam konteks inilah perang Iran dan Israel dapat dibaca sebagai salah satu mekanisme sejarah untuk menghapus tempelan-tempelan tersebut.

Yang paling cepat terhapus adalah tempelan ideologis yang selama ini menutupi kenyataan eksistensial masyarakat yang hidup di kawasan itu. Ideologi yang kaku dan tidak lagi memiliki pijakan historis lambat laun akan runtuh ketika berhadapan dengan dinamika sejarah yang bergerak lebih cepat.

Dalam pandangan Dechiperisme, gagasan tentang “perjanjian yang adil dan abadi” pada dasarnya adalah ilusi politik yang terus diproduksi oleh bahasa diplomasi. Dalam sejarah yang nyata, perjanjian semacam itu tidak pernah benar-benar ada dan tidak pernah benar-benar menjadi kenyataan.

Sejarah tidak bergerak melalui janji-janji abadi, melainkan melalui konflik, negosiasi kekuatan, dan penataan ulang struktur kekuasaan. Oleh karena itu yang lebih mendesak bukanlah menciptakan ilusi tentang perdamaian yang kekal, melainkan memastikan kelanjutan perjalanan eksistensial politik yang menopang keberlangsungan hidup manusia di dalam dunia yang terus berubah.

Pada saat ini rejim peradaban di muka bumi sedang menjalankan fungsi historisnya sebagai alat pemukul terhadap berbagai rejim yang telah kehilangan dasar historisnya.

Rezim peradaban bergerak tanpa meminta izin kepada institusi-institusi yang telah mapan. Ia tidak tunduk kepada formalitas politik yang selama ini dianggap sakral. Bagi rezim peradaban, banyak institusi yang ada saat ini telah menjadi rapuh. Ia kehilangan legitimasi historisnya, kehilangan daya hidupnya, dan hanya bertahan sebagai struktur kosong yang dipertahankan oleh kebiasaan lama.

Dengan kekuatan yang dimilikinya, rejim peradaban memanggil seluruh rejim yang tidak mampu beradaptasi terhadap perubahan sejarah untuk menghadapi konsekuensi keberadaannya. Dalam proses ini, berbagai sampah sejarah yang selama ini dipaksakan untuk tetap hidup akan disingkirkan.

Sesuatu yang sebenarnya telah menjadi bangkai sejarah yang membusuk tidak lagi dapat dipertahankan. Ia akan runtuh oleh tekanan waktu dan oleh dorongan rasionalitas sejarah yang terus bergerak.

Dunia sosial politik pada masa sekarang bukan lagi dunia sosial politik gaya lama yang tumpul, lamban, dan usang. Dunia sosial politik hari ini bergerak dengan karakter yang jauh lebih progresif dan revolusioner. Ia tidak ragu untuk menjebol berbagai struktur lama yang menghalangi jalannya sejarah. Ia juga tidak segan untuk meniadakan aktor-aktor politik yang secara terang-terangan mempertahankan bentuk-bentuk kekuasaan yang telah kehilangan relevansinya.

Sejarah digerakkan oleh apa yang dalam Dechiperisme disebut sebagai hukum rasional sejarah. Hukum ini bekerja melampaui kehendak individu maupun institusi. Ia tidak tunduk kepada propaganda ideologis ataupun tempelan-tempelan metafisis yang diproduksi oleh kepentingan tertentu. Ketika hukum rasional sejarah mulai bekerja secara penuh, maka seluruh tempelan yang semerawut itu akan terlepas dengan sendirinya.

Pada akhirnya sejarah akan bergerak kembali kepada jalurnya yang paling mendasar, yaitu jalur eksistensial manusia yang terus berjuang untuk mempertahankan keberadaannya di dalam dunia yang selalu berubah.

Dan dalam gerak inilah rezim peradaban menjalankan perannya sebagai kekuatan yang memukul, menyingkirkan, dan membersihkan sejarah dari segala bentuk kepalsuan yang mencoba bertahan di atas panggung waktu. ***)

Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 10 Maret 2026