Sebuah Pergulatan Eksistensial di Hadapan Tirani

Sebuah Pergulatan Eksistensial di Hadapan Tirani

Filsafat Politik

Sebuah Pergulatan Eksistensial di Hadapan Tirani
Joko Sukmono

_Manusia harus menyesuaikan dirinya dengan konsep, bukan konsep yang menyesuaikan diri dengan keberadaan manusia._

Dunia sosial global sedang bergerak menuju krisis besar, yakni krisis multidimensional yang dapat dirasakan oleh setiap anak manusia hari ini melalui berbagai bentuk depresiasi kehidupan, terutama depresi ekonomi dan depresi sosial.

Kedua bentuk depresi tersebut kemudian berkelindan dan menghasilkan tekanan yang jauh lebih dalam, yaitu depresi psikologis akut yang menjadikan ketakutan kolektif sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Ketakutan tidak lagi hadir sebagai pengalaman individual semata, melainkan telah berubah menjadi struktur sosial yang mengelilingi manusia dari segala penjuru.

Dalam konstruksi Dechiperisme, keadaan tersebut melahirkan resistensi traumatik syndrome, yakni sebuah keadaan ketika pengalaman sosial yang terus-menerus menekan akhirnya membentuk tubuh psikologis manusia yang hidup dalam kewaspadaan, kecemasan, dan ketidakpastian historis.

Akhirnya pilihan yang ditempuh oleh anak-anak manusia menjadi semakin beragam, namun sebagian besar pilihan tersebut tetap bergerak di dalam ruang yang telah dibentuk oleh situasi sosial yang sama.

Ada yang mengalami frustasi eksistensial, yakni berhadapan dengan kesia-siaan hidup sampai pada titik ketika keberadaan dirinya sendiri dipertanyakan dan kehidupan kehilangan alasan fundamental untuk terus dijalani.

Ada pula yang melakukan pelarian kepada candu sosial berupa moral ilusi dan pengalaman halusinasif, yaitu membangun dunia pengganti yang memberikan rasa aman sementara ketika dunia konkret tidak lagi menyediakan kemungkinan bagi kehidupan yang otentik.

Namun demikian, masih terdapat manusia yang memilih untuk melawan absurditas tersebut dengan terus-menerus mencari jawaban dan alasan yang logis serta realistis. Ia tidak berhenti pada ketakutan, tidak menyerahkan dirinya kepada ilusi, dan tidak membiarkan kesadaran kolektif menentukan seluruh arah keberadaannya.

Ia terus mengajukan pertanyaan yang paling mendasar: mengapa saya hidup dan terlempar ke dunia sosial ini?
Apa alasan fundamental sehingga saya terlempar ke dunia sosial tanpa pernah memberikan persetujuan kepada dunia yang harus saya jalani?
Bukankah sayalah yang menjalani kehidupan ini? Bukankah tubuh konkret sayalah yang menanggung seluruh konsekuensi historisnya?
Dan apabila sayalah yang menjalani hidup ini, mengapa kehidupan tersebut harus sepenuhnya ditentukan oleh perintah entitas lain di luar diri saya?

Inilah titik awal pergulatan eksistensial. Manusia mulai membongkar kembali seluruh fondasi yang selama ini diterimanya sebagai sesuatu yang sudah selesai.

Ia tidak lagi menerima begitu saja informasi yang telah diwariskan kepadanya sebagai kebenaran yang tidak boleh disentuh.

Ia mulai melihat bahwa sebagian besar kesadaran yang dianggap sebagai miliknya sesungguhnya merupakan akumulasi informasi historis yang telah ditanamkan sedemikian rupa hingga menjadi memori, keyakinan, kebiasaan, moral, dan pandangan hidup.

Karena itu, dalam konstruksi Dechiperisme, pergulatan eksistensial dimulai dengan pembubaran terhadap seluruh informasi yang telah menjadi memori historis dalam kesadaran, sebab informasi tersebut telah menjadi adonan kesadaran yang membentuk keyakinan imajinatif.

Dari sinilah perubahan kelakuan dimulai: dari percaya kepada yang diwariskan menuju percaya kepada yang logis dan realistis.

Dalam konstruksi Dechiperisme, moral sosial-politik yang terus-menerus merasuki tubuh kesadaran kolektif anak-anak manusia pada akhirnya membawa manusia menuju situasi batas sosial.

Situasi tersebut adalah situasi paradoksal, yakni keadaan yang mengandung pilihan-pilihan yang sesungguhnya tidak layak untuk dipilih.

Manusia dipaksa memilih di antara berbagai kemungkinan yang semuanya telah lebih dahulu dibentuk oleh struktur sosial yang sama. Ia memilih, tetapi ruang pilihannya telah disediakan oleh otoritas. Ia bergerak, tetapi arah geraknya telah ditentukan oleh hukum-hukum sosial yang tidak pernah ia rumuskan sendiri.

Maka makhluk malang yang bernama manusia itu akhirnya harus menjalani pergulatan eksistensial menghadapi situasi absurd yang tajam, runcing, tak bertepi, dan tak terurai.

Sementara di hadapannya berdiri dengan tegar sesuatu yang bernama politik. Politik hadir bukan hanya sebagai institusi, melainkan sebagai kekuasaan yang telah melembaga dan memiliki kemampuan untuk menentukan batas-batas kemungkinan kehidupan sosial manusia.

Dechiperis kemudian menegaskan bahwa moralitas kehendak berkuasa yang melekat pada makna ontologis eksistensial politik otentik belum sepenuhnya memberikan jawaban maupun jalan sejarah yang terang bagi kehidupan sosial manusia, terutama mengenai kebijaksanaan untuk membangun sebuah rumah masa depan bagi kehidupan anak-anak manusia.

Politik masih terus bergerak di antara kehendak untuk berkuasa dan tuntutan perubahan historis, sementara manusia konkret berada di tengah-tengah pertarungan tersebut sebagai subjek sekaligus korban sejarah.

Dalam pembacaan Dechiperisme, otoritas religius, otoritas global, otoritas politik, otoritas kebudayaan, dan otoritas sosial merupakan dimensi yang berpotensi mengganggu keberadaan ontologis eksistensial manusia konkret.

Hal tersebut dijelaskan oleh Dechiperisme melalui watak otoritas yang cenderung imperialis, yakni selalu berusaha memperluas wilayah pengaruhnya terhadap kehidupan manusia.

Otoritas tidak berhenti pada pengaturan perilaku, tetapi berusaha memasuki wilayah kesadaran, menentukan apa yang harus dipercaya, apa yang harus ditakuti, apa yang harus dicintai, apa yang harus diperjuangkan, dan bahkan apa yang harus dianggap sebagai makna kehidupan.

Dalam konstruksi Dechiperisme, mereka tampil sebagai algojo-algojo politik yang harus dijinakkan karena sampai pada abad ke-21, berdasarkan rasio historis yang dibacanya, belum terlihat perubahan fundamental yang cukup signifikan bagi kelanjutan eksistensial manusia.

Lebih lanjut lagi Dechiperisme menunjukkan bahwa moral politik yang berupa ajakan untuk menjadi sesuatu ternyata dapat menyeret anak-anak manusia menuju dunia imajiner yang tidak logis dan tidak realistis.

Dalam konstruksi Dechiperisme keadaan tersebut disebut sebagai deimajinatif konstruksionalisasi politis, yakni keadaan ketika anak-anak manusia dijebak ke dalam situasi ilusif, imajinatif, absurd, tajam, runcing, tak bertepi, dan tidak terurai.

Manusia kemudian tidak lagi hidup berdasarkan keberadaan konkretnya, tetapi berdasarkan bayangan tentang siapa dirinya yang harus diwujudkan sesuai dengan tuntutan moral politik.

Ia diperintahkan untuk menjadi sesuatu sebelum ia sempat bertanya siapa dirinya. Ia dituntut mencapai sebuah ideal sebelum memahami kondisi material keberadaannya sendiri.

Inilah gangguan utama di dalam pergulatan eksistensial manusia konkret. Manusia tidak semata-mata berhadapan dengan persoalan bagaimana bertahan hidup, tetapi berhadapan dengan persoalan yang jauh lebih mendasar: bagaimana menjadi manusia yang benar-benar ada.

Sebab keberadaan manusia konkret selalu berada di antara dua tekanan, yaitu tekanan material kehidupan yang harus dijalani dan tekanan esensial yang memerintahkannya untuk menjadi sesuatu yang telah ditentukan sebelumnya.

Di sinilah pergulatan eksistensial memperoleh bentuknya yang paling keras: manusia harus merebut kembali keberadaannya dari dunia yang telah lebih dahulu memberikan definisi tentang dirinya.

Kemudian daripada itu Dechiperisme menyatakan bahwa tuntutan sejarah terhadap segala bentuk perubahan sosial-politik adalah keberanian eksistensial politik otentik dari manusia konkret untuk memberikan stimulasi yang menyenangkan kepada anak-anak manusia yang malang ini: bahwa situasi sosial-politik selama ini telah menjadikan langkah-langkah eksistensial mereka menuju kepada kesia-siaan historis.

Manusia tidak ubahnya binatang piaraan yang dipelihara selama masih menghasilkan keuntungan politis bagi rezim, tetapi akan dicampakkan ketika sudah tidak produktif lagi. Ketika produktivitas sosialnya berakhir, dunia tidak lagi mempedulikannya. Bahkan dunia tidak lagi mengenal siapa dirinya.

Dalam konstruksi Dechiperisme, situasi seperti itu disebut sebagai disotentisitas esensial politis, yakni keadaan sosial yang terjadi akibat moralitas otoritas politik global yang imperialistik.

Manusia ditempatkan sebagai instrumen selama dirinya berguna, tetapi kehilangan makna ketika kegunaannya berakhir. Di sinilah letak esensi kehidupan sosial yang ilusif itu: manusia merasa hidup karena terus bergerak, tetapi gerak tersebut belum tentu merupakan gerak eksistensialnya sendiri.

Ia bekerja, mengonsumsi, mengejar status, membangun relasi, mempertahankan identitas, dan mengejar pengakuan, namun seluruh aktivitas tersebut dapat berlangsung tanpa pernah menyentuh pertanyaan fundamental mengenai keberadaannya.

Keadaan tersebut dalam bahasa Dechiperisme dinamakan disilusisasi absurd, yaitu sebuah peristiwa kesia-siaan sosial yang berakibat kepada trauma kolektif yang mendalam. Kesia-siaan tidak lagi merupakan pengalaman individual, tetapi menjadi pengalaman bersama yang diproduksi oleh struktur sosial.

Manusia hidup dalam sebuah dunia yang terus menjanjikan masa depan, tetapi pada saat yang sama terus memproduksi ketakutan terhadap masa depan.

Ia dijanjikan kebebasan, tetapi dibebani ketergantungan. Ia dijanjikan kesejahteraan, tetapi hidup dalam kecemasan ekonomi. Ia dijanjikan keamanan, tetapi terus dipelihara dalam ketakutan. Kontradiksi inilah yang membuat pergulatan eksistensial manusia semakin tajam.

Lebih dalam lagi Dechiperisme menunjukkan bahwa runtuhnya jembatan esensial yang selama ribuan tahun dipelihara dan dipertahankan merupakan apa yang disebut sebagai derasionalisasi tirani ekstrem, yakni sebuah situasi yang dilandasi oleh instrumen politik yang tidak berdasar pada rasionalitas politik otentik.

Dari keadaan tersebut lahir dampak psikologis berupa ketakutan yang kemudian disebut sebagai kompleksitas traumatik syndrome.

Anak manusia mengalami berbagai jenis ketakutan: takut mati, takut terhadap otoritas, takut terhadap bayang-bayang hari esok, takut tidak mendapatkan pasangan, takut miskin, takut gagal, takut kehilangan pekerjaan, takut kehilangan status, dan masih banyak lagi deretan ketakutan yang telah menyebar sebagai racun sosial di setiap lorong kehidupan manusia.

Inilah tirani ekstrem yang esensial, sebab kondisi sosial seperti itu pada akhirnya tampak seolah-olah alamiah dan seolah-olah memang demikianlah kehidupan manusia harus dijalani.

Ketakutan tidak lagi dipertanyakan karena telah menjadi kebiasaan. Kecemasan tidak lagi dianggap sebagai penyakit sosial karena telah menjadi bagian dari rutinitas.

Manusia bahkan belajar untuk mencintai sesuatu yang membuatnya takut karena ia telah kehilangan kemampuan untuk membayangkan kehidupan di luar struktur ketakutan tersebut.

Tirani yang paling sempurna bukanlah tirani yang selalu menggunakan kekerasan, melainkan tirani yang berhasil membuat manusia menerima kondisi keterkungkungannya sebagai sesuatu yang normal.

Namun demikian, sang tiran justru mendeklarasikan dirinya sendiri sebagai seseorang yang memiliki kemampuan mutlak untuk membebaskan manusia dari rasa takut dengan politik mercusuarnya yang bernama kemanusiaan.

Ia tampil sebagai pembebas, sebagai pelindung, sebagai penjaga nilai-nilai kemanusiaan, dan sebagai pihak yang mengklaim mengetahui apa yang terbaik bagi manusia.

Dalam konstruksi Dechiperisme, keadaan tersebut dinyatakan sebagai dishumanisasi esensialisasi politis karena konsep humanitas justru dijadikan bentuk baru dari mitologi kemanusiaan. Manusia konkret menghilang di balik sebuah konsep abstrak bernama kemanusiaan.

Lebih dalam lagi Dechiperisme menunjukkan bahwa tirani yang esensial terjadi ketika basis material peradaban manusia otentik mulai ditinggalkan oleh manusia, kemudian manusia kembali terjerumus ke dalam bentuk-bentuk baru basis material peradaban yang di dalamnya dipaksakan berbagai pandangan yang sebelumnya merupakan mitos untuk kemudian dijadikan mitologi dan berkembang menjadi ideologi.

Pada titik inilah tirani tidak lagi hanya berdiri di luar manusia, tetapi mulai bekerja melalui kesadarannya sendiri. Manusia menjaga tirani tersebut karena ia telah menganggapnya sebagai bagian dari kebenaran dirinya.

Tiran yang esensial adalah ketika mitologi kemanusiaan berubah menjadi idealisme. Idealisme tersebut kemudian menciptakan ukuran tentang manusia yang ideal, masyarakat yang ideal, negara yang ideal, kehidupan yang ideal, dan masa depan yang ideal.

Tetapi semakin kuat idealisme tersebut dipaksakan, semakin jauh manusia konkret dari keberadaan konkretnya. Manusia harus menyesuaikan dirinya dengan konsep, bukan konsep yang menyesuaikan diri dengan keberadaan manusia.

Di sinilah Dechiperisme melihat paradoks terdalam dari tirani: sesuatu yang mengatasnamakan pembebasan justru dapat menjadi instrumen baru bagi penaklukan manusia.

Kemudian daripada itu Dechiperisme menjelaskan bahwa tirani dengan sang tirannya, berlandaskan pada mitologi kemanusiaan dan strategi instruksional politiknya, mengubah ketakutan menjadi harapan. Nilai-nilai fundamental kemanusiaan mulai digaungkan kembali: kebebasan, kesetaraan, kesejahteraan, perdamaian, dan keadilan.

Tetapi konstruksi Dechiperisme dengan tegas menyatakan bahwa moral kemanusiaan yang sedemikian itu dapat menjadi sebuah tirani yang mampu menghancurkan keberadaan ontologis eksistensial manusia konkret apabila idealisme tersebut dipaksakan menjadi ukuran tunggal bagi seluruh kehidupan.

Idealisme dapat membunuh manusia konkret untuk menjadi otentik. Keadaan tersebut oleh Dechiperisme disebut sebagai disontologis ephystimik substansial, yaitu suatu keadaan ketika sesuatu dipaksakan berhadap-hadapan dengan esensinya sendiri.

Ia dapat berbentuk rezim agama, rezim politik, rezim sosial, maupun rezim kebudayaan. Bahkan instrumen yang paling mematikan dapat berupa makna dari bahasa itu sendiri, karena bahasa mampu menentukan apa yang boleh dikatakan, apa yang tidak boleh dikatakan, siapa yang dianggap benar, siapa yang dianggap salah, dan bagaimana manusia harus memahami dirinya sendiri.

Ketika bahasa telah dikendalikan oleh kekuasaan, maka kekuasaan tidak perlu lagi selalu menggunakan kekerasan. Cukup dengan mengendalikan makna, ia telah mampu mengendalikan kesadaran.

Dechiperis menyatakan bahwa pergulatan eksistensial manusia konkret di hadapan tirani adalah kemampuan koadaptasi, komodifikasi, dan koeksistensi terhadap segala bentuk tiran yang esensial.

Dalam konstruksi Dechiperisme, hal tersebut merupakan tindakan eksistensial konkret dalam rangka meningkatkan daya eksistensial manusia konkret di dalam ruang sosial yang tetap tunduk kepada gerak hukum rasional perubahan.

Manusia tidak harus menunggu dunia menjadi sempurna untuk menjadi otentik. Ia justru harus menemukan bentuk keberadaannya di tengah dunia yang belum selesai, di tengah kekuasaan yang belum runtuh, dan di tengah struktur sosial yang masih bekerja.

Pergulatan eksistensial manusia konkret di hadapan tirani dengan bentuk yang paling ekstrem adalah perjalanan eksistensial manusia konkret di hadapan sang tiran dengan memikul seluruh konsekuensi eksistensialnya.

Tidak ada kebebasan yang benar-benar bebas dari konsekuensi. Tidak ada keberanian eksistensial yang tidak memiliki harga. Manusia yang memilih untuk menjadi otentik harus bersedia menanggung akibat dari pilihannya sendiri, sebab keberadaan otentik bukanlah hadiah yang diberikan oleh rezim, melainkan sesuatu yang harus direbut melalui tindakan konkret manusia itu sendiri.

Transhistorisitas manusia hanya dapat dilakukan dengan metodologi Dechiperisme, yakni peniadaan terhadap segala bentuk ahistoris. Manusia tidak dapat melompat keluar dari sejarah dengan membawa seluruh bayang-bayang masa lalu sebagai dasar untuk menentukan masa depan.

Transhistorisitas justru menuntut manusia untuk membaca sejarah secara kritis, membongkar residunya, dan meniadakan apa yang tidak lagi memiliki dasar ontologis bagi kehidupan konkret. Masa lalu tidak menjadi musuh karena ia telah berlalu, tetapi menjadi problem ketika ia dipaksakan untuk terus menentukan kehidupan yang sudah berubah.

Dari sini, dari tempat ini, dari konstruksi Dechiperisme ini, Dechiperis membacakan surat dari Dechipering yang berbunyi:

Kepada seluruh anak-anak manusia yang telah terlanjur menjadi penghuni bumi,

Carilah landasan esensialmu, yakni sebuah kontingensi yang utuh, logis, dan realistis tentang keterlemparan kalian hidup di dunia sosial ini.

Jangan lagi menerima kehidupan hanya karena kehidupan itu telah diberikan. Jangan lagi menerima makna hanya karena makna itu telah diwariskan. Jangan lagi menerima ketakutan hanya karena semua orang telah takut.

Manusia konkret harus berani menanyakan kembali seluruh dasar keberadaannya, sebab hanya dari pertanyaan yang paling mendasar itulah kemungkinan eksistensial yang baru dapat dibuka.

Kemudian lebih lanjut Dechiperis membacakan bahwa pergulatan eksistensial di hadapan sebuah tirani membutuhkan tenaga eksistensial yang otentik. Tenaga tersebut oleh Dechiperisme disebut sebagai otentisitas thinking, yakni sebuah keberanian untuk menggunakan rasio sebagai instrumen penghancur bagi keruntuhan sebuah tiran.

Rasio bukan sekadar alat untuk menghitung, bukan sekadar instrumen akademik, dan bukan pula sekadar kemampuan berpikir abstrak.

Rasio adalah kekuatan yang mampu membongkar struktur ilusi yang selama ini membuat manusia percaya bahwa tirani merupakan sesuatu yang tidak mungkin dihancurkan.

Pergulatan eksistensial otentik tersebut adalah peniadaan terhadap jembatan esensial yang telah ditetapkan oleh sang tiran sebagai idealisme yang bersumberkan pada mitos, berubah menjadi mitologi kemanusiaan, kemudian berkembang menjadi ideologi.

Manusia konkret harus berani memutus rantai tersebut apabila rantai itu telah kehilangan dasar rasional dan realistisnya. Namun pergulatan eksistensial ini tetap berdiri di tengah-tengah hukum rasional perubahan yang sedang bekerja.

Ia bukan tindakan yang lahir dari kekosongan sejarah, melainkan tindakan yang menemukan momentumnya di dalam gerak sejarah itu sendiri.

Pada abad ke-21 ini adalah abad pergulatan eksistensial di hadapan tirani. Sang tiran, dalam pembacaan Dechiperisme, telah mengalami tingkat kejenuhan esensial. Kemampuan ontologisnya dalam menggenggam sejarah, secuil demi secuil, mulai terlepas.

Hantaman tersebut datang dari beban yang semakin berat akibat kesenjangan hidupnya sendiri.

Kekuasaan yang terlalu lama mempertahankan dirinya akan menghadapi problem yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan menambah instrumen kekuasaan, sebab setiap instrumen baru pada akhirnya menjadi beban baru bagi sistem yang menggunakannya.

Keadaan tersebut dalam konstruksi Dechiperisme disebut sebagai dispatologis historis, yaitu terjadinya pengulangan terhadap penyimpangan jalannya sejarah yang terus diemban oleh sebuah struktur kekuasaan.

Sejarah dipaksa mengulang dirinya sendiri, sementara kondisi material manusia telah berubah. Di sinilah kontradiksi mulai membesar.

Apa yang dahulu mungkin efektif tidak lagi menjamin keberhasilan hari ini. Apa yang dahulu mampu mempertahankan otoritas justru dapat berubah menjadi sumber kehancurannya sendiri.

Dan di sinilah hukum rasional perubahan bekerja. Ia tidak membutuhkan izin dari tirani. Ia tidak menunggu pengakuan dari otoritas. Ia bergerak melalui perubahan konkret yang berlangsung di dalam kehidupan sosial manusia.

Pergulatan eksistensial manusia konkret menjadi salah satu saluran bagi gerak tersebut, karena manusia yang mulai mempertanyakan keberadaannya sendiri pada akhirnya mulai mempertanyakan pula struktur yang selama ini menentukan kehidupannya.

Maka kemenangan pergulatan eksistensial bukanlah sekadar kemenangan satu kelompok manusia atas kelompok manusia lainnya. Kemenangan itu adalah terbukanya kemungkinan historis baru ketika manusia konkret mampu melepaskan dirinya dari jembatan-jembatan esensial yang telah kehilangan dasar ontologisnya.

Dari sanalah hukum rasional perubahan menemukan saluran historisnya dan bergerak menuju hukum rasional peralihan sejarah.

Tirani dapat bertahan selama manusia masih mempercayai bahwa dirinya tidak memiliki kemungkinan lain. Tetapi ketika manusia konkret mulai memahami bahwa keberadaannya tidak identik dengan definisi yang diberikan kepadanya, ketika rasio mulai menggantikan ilusi, ketika keberanian menggantikan ketakutan, dan ketika tindakan konkret menggantikan kepatuhan terhadap bayang-bayang historis, maka tirani mulai kehilangan fondasi ontologisnya.

Ia mungkin masih berdiri sebagai institusi, masih memiliki aparat, masih memiliki bahasa, masih memiliki simbol, bahkan masih memiliki kemampuan untuk memerintah, tetapi secara historis ia telah mulai kehilangan dirinya.

Inilah pergulatan eksistensial manusia konkret di hadapan tirani: bukan sekadar perjuangan untuk bertahan hidup, melainkan perjuangan untuk menentukan apakah manusia akan tetap menjadi objek dari sejarah atau mulai menjadi keberadaan konkret yang ikut menentukan arah sejarahnya sendiri. ***)

Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 23 Agustus 2026

Note: (Sumber tambahan)
1. Filsafat (Jean-Paul Sartre & Albert Camus): Konsep tentang manusia yang tetap memilih untuk “menjadi dirinya sendiri” dan menolak menyerah pada absurditas serta kekejaman dunia.
2. Sastra Distopia: Buku seperti 1984 karya George Orwell atau Fahrenheit 451 karya Ray Bradbury menggambarkan bagaimana individu berjuang menjaga kewarasannya di tengah sistem totaliter yang mengontrol pikiran.
3. Sejarah Nyata: Perjuangan tokoh seperti Nelson Mandela, Vaclav Havel, atau para penyintas kamp konsentrasi (seperti Viktor Frankl dalam buku Man’s Search for Meaning) yang menolak tunduk pada tirani demi menjaga api kemanusiaan mereka.