Puisi Esai
Anterin Ibu Pulang: Esai untuk 4 Anak yang Lupa
Oleh Kadir Wahyudi
_4 orang anak sehat, dewasa. Tapi saat ditanya “siapa yang mau ngasuh Ibu?”, semuanya diam. Sementara Ibu di kursi roda hanya bisa lirih: “Nak… anterin Ibu pulang…”_
***_
Dadaku bergetar. Melihat 4 orang anak lupa diri. Dari mana mereka datang?
Aku tak sanggub melihatnya.
Dadaku sesak.
Dulu, ketika kita tidak bisa apa-apa kecuali menangis.
Hanya ibu yang mengerti kenapa kita menangis, apalagi di tengah malam.
4 orang anak. Dewasa semua. Sehat semua. Tamat sekolah semua. Sudah menikah semua. Tapi tak tau sejarah hidupnya. Tak tau terimakasih.
Tapi ketika ditanya, “Siapa yang mau ngasuh Ibu?”
Semuanya menunduk. Saling lihat. Saling lempar.
“Giliran kamu.”
“Aku sibuk.”
“Aku nggak bisa.”
“Aku punya anak.”
Sementara di tengah mereka, ada seorang Ibu.
Tua. Di kursi roda. Tangannya gemetar.
Lirih dia bilang: “Nak… anterin Ibu pulang…”
Kalimat itu seharusnya cukup untuk meluluhkan 4 hati sekaligus.
Tapi tidak.
Kita sering dengar pepatah: “Surga ada di telapak kaki Ibu.”
Tapi, surga itu mereka tolak. Ditolak 4 kali. Oleh 4 orang yang dulu pernah ada di rahimnya.
Melihatnya, dadaku sesak. Oh tuhan. Ajari aku beristiqfar. Bagaimana caranya aku memanjatkan ampunanMu.
Aku tak mampu berkata-kata. Rasanya air mata ini akan jatuh. Aku tahan. Dadaku berdetak penuh marah.
***_
Dulu, Ibu Tidak Pernah Menolak
Waktu kita demam tengah malam, Ibu tidak pernah bilang “aku sibuk”.
Waktu kita rewel minta susu jam 2 pagi, Ibu tidak pernah bilang “giliran bapak”.
Waktu kita tidak punya uang jajan, Ibu rela tidak makan.
Mengasuh 1 anak, rasanya seperti mengasuh 10 orang.
Tapi mengasuh 10 anak, Ibu tetap bilang: “sanggup.”
Sekarang giliran dibalik.
1 Ibu. Butuh 4 anak.
Jawabannya: “tidak sanggup.”
***_
Ini Bukan Soal Miskin atau Kaya
Anak-anaknya tidak miskin. Ada motor. Ada HP. Pakaian rapi. Cukul makan. Dan sehat.
Ini soal hati. Soal ingatan. Soal budi. Soal mental. Soal iman. Soal taqwa. Beriman tetapi tidak bertaqwa.
Kita bisa sekolah karena ada Ibu yang begadang nyuci.
Kita berpengetahuan karena ada ibu yang mengajari kita sebelum guru kita.
Kita bisa kerja karena ada Ibu yang doa tiap sujud.
Kita bisa jadi “orang” karena ada Ibu yang rela “bukan siapa-siapa” demi kita.
Lalu saat Ibu butuh kita, 1 jam saja untuk “nganter pulang”…
kita bilang sibuk?
***_
Teguran untuk Kita Semua
Vidio itu mempertontonkan aklaq kita.
Mempertontonkan kita lupa cerita nabi-nabi.
Mempertontonkan kita ‘Dracin’ di medsos.
Dan, nitizen adalah CEO yang akan memvonis kebutaan hati mereka.
Sesungguhnya ini bukan untuk menghakimi 4 orang itu saja.
Video ini kaca.
Coba tanya ke diri sendiri:
Kapan terakhir nelpon Ibu?
Kapan terakhir pulang tanpa ditanya?
Kapan terakhir bilang “Bu, aku kangen” bukan “Bu, minta transfer”?
Jangan tunggu sampai Ibu di kursi roda.
Jangan tunggu sampai yang tersisa hanya video dan penyesalan.
Jangan tunggu orang lain merebut kasih sayangnya.
Jangan sampai kau keluarkan kalimat ikrar untuk menolak ibu.
Jangan sampai orang lain merebut kasih sayangnya. Sungguh kau pendusta!
***_
Ketika Ibu pergi.
Ketika ibu di panti jumpo, alasan kemanusiaan, kau jangan merasa berbangga diri.
Kau janga merasa ‘merdeka’ tanpa beban seorang ibu.
Kau lupa dari mana kau datang.
Ibu itu bukan barang. Yang bisa dioper ke saudara kalau “ribet”.
Ibu itu rumah. Pulang kita. Tempat kita mengadu. Tempat kita menangis. Dan tempat kita berharap. Tempat kita memohon doa.
Kalau 4 anak saja menolak, lalu siapa yang mau menerima?
Malaikat? Tetangga? Panti jumpo?
Iya panti jumpo atas dasar kemanusiaan.
Padahal dulu, saat kita tidak bisa apa-apa…
Ibu menerima kita. Dengan muntahan, dengan pipis, dengan tangis jam 3 pagi. Tanpa mengeluh. Masa kecil kita dulu adalah tempat ibu melepas lelah.
Sudah selayaknya sekarang kita yang menerima Ibu.
Dengan uban, dengan pikun, dengan kursi rodanya. Rewel seperti bayi. Seperti kita dulu.
Karena kelak, kita juga akan tua.
Dan kita juga akan bertanya: “Nak… anterin Ibu pulang…”
Siapa yang akan menjawab?
***_
Posted: sarinahnews.com
Malang, 9 Agustus 2026
sumber: @https://vt.tiktok.com/ZS4GA1L6P/





