Opini
MUHIBBIN INDONESIA
Oleh Ayik Heriansyah
_Shalawat sebagai Perekat Bangsa_
“Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur….” Demikian kalimat pada Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Kalimat ini pengakuan para pendiri bangsa bahwa kemerdekaan Indonesia adalah karunia Allah SWT. Karena itu, membangun Indonesia bertumpu pada kekuatan spiritual yang melahirkan rasa syukur dan akhlak mulia.
Nilai tersebut tampak kembali dalam penyelenggaraan Zikir dan Doa Kebangsaan yang digelar Kementerian Agama pada Sabtu, 1 Agustus 2026. Acara yang berlangsung sejak pukul 17.00 hingga 21.30 WIB itu menghadirkan Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf untuk memimpin lantunan zikir dan shalawat dalam rangka menyambut Bulan Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81.
Diselenggarakan secara terbuka dan gratis, kegiatan itu berhasil menghadirkan sekitar 100.000 jamaah dari berbagai daerah.
Besarnya antusiasme masyarakat menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki cadangan modal spiritual yang luar biasa.
Di tengah derasnya arus digitalisasi, polarisasi politik, dan budaya individualistik, masyarakat tetap rela berkumpul berjam-jam hanya untuk berzikir, bershalawat, dan berdoa bersama. Spiritualitas masih menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Indonesia.
Karena itu, Indonesia layak disebut sebagai negeri para muhibbin, yakni negeri orang-orang yang mencintai tanah airnya sebagaimana Rasulullah SAW mencintai tanah airnya. Kecintaan yang tidak dibatasi oleh organisasi, mazhab, profesi, maupun pilihan politik.
Muhibbin Indonesia adalah identitas kultural yang menggambarkan jutaan muslim Indonesia yang menjadikan cinta kepada Rasulullah saw sebagai inspirasi dalam mencintai sesama, menjaga persatuan, dan merawat negeri. Kecintaan kepada Nabi tidak menjauhkan seseorang dari urusan kebangsaan.
Oleh sebab itu, keberhasilan Zikir dan Doa Kebangsaan tidak boleh hanya dilihat dari angka sekitar 100.000 peserta. Yang lebih penting adalah pesan bahwa pembangunan nasional memerlukan keseimbangan antara kemajuan material dan penguatan spiritual. Bangsa yang besar, bangsa yang memiliki karakter, adab, dan solidaritas sosial yang kokoh.
Dari perspektif sosiologi agama, fenomena tersebut dapat dijelaskan melalui teori collective effervescence yang dikemukakan Emile Durkheim dalam The Elementary Forms of Religious Life (1912).
Durkheim menjelaskan bahwa ritual keagamaan yang dilakukan secara kolektif akan membangkitkan energi emosional bersama yang memperkuat solidaritas sosial. Ikatan yang lahir dari pengalaman spiritual bersama sering kali lebih kuat daripada ikatan yang dibangun oleh kepentingan politik atau ekonomi.
Menjelang Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, lautan manusia yang bershalawat mengingatkan kembali bahwa bangsa ini lahir atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa.
Selama semangat cinta kepada Allah dan Rasul-Nya terus hidup di tengah masyarakat, harapan untuk mewujudkan Indonesia sebagai baldatun ṭayyibatun wa rabbun ghafūr akan selalu terpelihara. Itulah tanggung jawab dari Muhibbin Indonesia. ***)
Posted: sarinahnews.com
Bandung, 2 Agustus 2026
_Ayik Heriansyah_





