Filsadat Politik
Tingkah Laku Politik dalam Pencairan Struktur: Antara Ketakutan, Ilusi, dan Ledakan Historis yang Ditunda
Joko Sukmono
Pencairan struktur sosial-politik bukanlah sekadar gejala permukaan, melainkan proses ontologis yang secara diam-diam menggerogoti fondasi keberadaan kolektif manusia. Ia bergerak menuju kekacauan bukan sebagai kemungkinan, tetapi sebagai arah yang inheren dalam struktur yang telah kehilangan daya eksistensialnya.
Dalam gerak menuju kekacauan itu, seluruh aktivitas politik tidak pernah berhenti memproduksi alasan. Alasan menjadi perangkat retoris yang paling halus sekaligus paling menipu—ia bekerja sebagai pelukan hangat yang menenangkan ketakutan kolektif, sekaligus menunda konfrontasi dengan realitas.
Alasan bukan lagi instrumen rasionalitas, melainkan mekanisme anestesi yang melumpuhkan kesadaran di tengah kehancuran yang sedang berlangsung.
Kekacauan yang muncul bukanlah hasil dari ketiadaan sistem, melainkan akibat dari tidak hadirnya otoritas ekstrem sebagai tindakan eksistensial politik.
Struktur sosial-politik yang ada hari ini tidak runtuh karena diserang, tetapi karena kehilangan kemampuan untuk bertindak secara otentik. Ia tidak lagi memiliki pusat kehendak. Ia tidak lagi memiliki keberanian untuk memotong dirinya sendiri.
Dalam konstruksi Dechiperisme, struktur yang ada hanyalah konstruksi yang diorganisasi secara artifisial—ia dipertahankan bukan untuk hidup, tetapi untuk menunda kematian yang sudah pasti. Ia adalah tubuh yang masih bergerak, tetapi sudah kehilangan jiwa.
Ketakutan terhadap kekacauan yang tak terhindarkan ini kemudian mengalami sublimasi menjadi harapan. Namun harapan ini bukanlah produk keberanian, melainkan derivasi dari ketakutan yang tidak diakui. Ia dibungkus dalam janji-janji eskatologis—narasi tentang masa depan yang lebih baik, tentang keteraturan yang akan kembali, tentang keselamatan yang dijanjikan oleh sistem.
Dalam perspektif Dechiperisme, seluruh konstruksi ini adalah tindakan absurd yang dilembagakan. Ia bukan sekadar ilusi, tetapi ilusi yang dimanipulasi secara sistematis menjadi konstitusi.
Konstitusi tidak lagi menjadi dasar rasional bagi kehidupan bersama, tetapi berubah menjadi alat kompensasi terhadap kegelisahan eksistensial yang tidak mampu dihadapi secara langsung.
Konstitusi sosial, dalam pembacaan ini, tidak pernah benar-benar ditujukan untuk memperkuat struktur, melainkan untuk menambal keretakan yang semakin melebar. Ia terus dimodifikasi, direvisi, dan disakralkan, bukan karena ia efektif, tetapi karena ia dibutuhkan sebagai penyangga psikologis.
Sumpah, janji, dan simbol kesakralan ditampilkan sebagai legitimasi, tetapi sesungguhnya hanyalah bentuk substitusi yang sublimatif—pengganti sementara bagi ketiadaan fondasi ontologis. Politik kemudian berubah menjadi theater kesakralan, di mana legitimasi diproduksi bukan dari kebenaran, tetapi dari pengulangan simbolik yang terus-menerus.
Dalam kondisi ini, manusia tampil sebagai makhluk yang tragis sekaligus ironis. Ia hidup dalam ketakutan kolektif yang tidak pernah diakuinya secara jujur. Ketakutan itu menjelma menjadi borok sosial yang menyebar melalui institusi, melalui bahasa, dan melalui praktik politik sehari-hari.
Pencarian struktur sosial-politik pun menjadi kesia-siaan historis, karena tidak disertai keberanian eksistensial untuk menghadapi kekacauan yang sesungguhnya merupakan hasil dari tindakannya sendiri.
Manusia mencari stabilitas, tetapi menolak kehancuran yang menjadi syarat kelahiran stabilitas itu.
Dechiperisme membaca bahwa entropi sosial bukanlah kecelakaan, melainkan strategi yang disamarkan. Para agen kekuasaan menjadikannya sebagai alasan untuk mempertahankan dominasi. Sejarah kemudian dinarasikan seolah-olah hanya dapat bergerak melalui izin kekuasaan.
Dalam kondisi ini, kekacauan tidak diselesaikan, tetapi dikelola. Ia dipelihara sebagai legitimasi bagi keberlanjutan struktur yang sebenarnya telah mati.
Kekuasaan tidak lagi menciptakan keteraturan, tetapi mengelola ketidakteraturan agar tetap berada dalam batas yang menguntungkan.
Para pemikir, dalam lintasan sejarah, sering kali berhenti pada formulasi konsep. Mereka membangun idealitas, tetapi menyerahkan realisasinya kepada para pelaku. Dan para pelaku ini, dalam pembacaan Dechiperisme, adalah manusia-manusia yang dipenuhi kegelisahan eksistensial yang akut.
Mereka mengenakan topeng ketegaran, tetapi di baliknya tersembunyi ketakutan yang mendalam terhadap dunia yang sedang bergerak menuju kekacauan. Mereka bertindak, tetapi tidak pernah sungguh-sungguh berani. Mereka berbicara tentang perubahan, tetapi tidak siap menghadapi konsekuensinya.
Dalam kondisi seperti ini, krisis ekonomi, perang, dan krisis sosial tidak mungkin diselesaikan melalui konstitusi atau reformasi bertahap. Semua itu hanyalah respons permukaan terhadap problem yang bersifat ontologis.
Satu-satunya jalan adalah tindakan eksistensial politik—tindakan yang lahir dari Subyek Tunggal Sejarah, yang mampu memotong ilusi, menghancurkan struktur yang busuk, dan membuka ruang bagi keberadaan yang baru. Tindakan ini tidak kompromistis, tidak gradual, dan tidak membutuhkan legitimasi eksternal. Ia adalah tindakan yang mutlak.
Namun setiap tindakan eksistensial semacam itu akan selalu menghadapi resistensi.
Agen-agen dogma akan mempertahankan narasi lama, para pemilik modal akan mempertahankan struktur yang menguntungkan mereka, dan para pemuja kesakralan historis akan mempertahankan simbol-simbol yang telah kehilangan maknanya. Inilah ironi struktural: yang seharusnya runtuh justru dilindungi, dan yang seharusnya lahir justru dihalangi.
Dalam dinamika ini, ilustrasi historis sering digunakan sebagai kompensasi. Salah satu yang paling kuat adalah pidato Leonidas di Thermopylae.
Dalam situasi terkepung, tanpa harapan kemenangan material, Leonidas tidak berbicara tentang strategi, tidak berbicara tentang peluang, tetapi tentang tindakan. Ia tidak menjanjikan masa depan, tetapi menegaskan keberadaan pada saat itu juga.
“Apa yang akan mereka temukan dari kita?” bukanlah pertanyaan retoris, melainkan penegasan eksistensial. Bukan monumen, bukan struktur, bukan simbol—tetapi tindakan itu sendiri. Hari ini. Dalam pembacaan Dechiperisme, momen ini mendekati tindakan eksistensial, tetapi tetap berada dalam horizon kompensasi historis. Ia menjadi narasi yang menginspirasi, tetapi tidak mengubah struktur ontologis dunia yang melahirkannya. Ia diingat, tetapi tidak dilanjutkan.
Struktur sosial-politik yang ada hari ini ditopang oleh fondasi yang ilusif: agama yang direduksi menjadi alat legitimasi, moral palsu yang kehilangan daya eksistensialnya, sistem yang rapuh, dan manusia-manusia yang hidup dalam ketakutan yang tidak pernah diselesaikan.
Struktur ini bukan hanya busuk, tetapi terus membusuk—digerogoti oleh kontradiksi internal yang tidak pernah dihadapi secara jujur. Ia tidak menunggu kehancuran; ia sedang menghancurkan dirinya sendiri.
Dalam situasi ini, pertanyaan menjadi semakin radikal: bagaimana mungkin manusia dapat terbebaskan jika tidak ada struktur sehat yang menopangnya?
Namun sejarah tidak memberikan waktu untuk refleksi yang terlalu lama. Ia bergerak. Ia menekan. Ia memaksa. Dan dalam tekanan itu, pilihan menjadi tak terhindarkan.
Konsep-konsep klasik yang masih digunakan hari ini sebenarnya telah kehilangan daya historisnya. Trias politica, sosialisme, bahkan berbagai bentuk ideologi modern, semuanya lahir sebagai respons terhadap konteks tertentu yang telah berlalu.
Namun manusia tetap berpegang pada mereka, bukan karena relevansi, tetapi karena ketakutan terhadap kekosongan. Ia lebih memilih ilusi yang dikenal daripada realitas yang belum terbentuk.
Akumulasi dari semua ini membentuk tekanan historis yang semakin besar. Racun sosial menggumpal dalam kesadaran kolektif, dan titik ledaknya mulai tampak dalam konflik global yang semakin intens.
Konflik di Timur Tengah, dalam pembacaan Dechiperisme, bukan sekadar konflik geopolitik, tetapi manifestasi dari dendam historis yang telah lama tertimbun dan kini menemukan ekspresinya dalam bentuk yang paling destruktif. Ia adalah puncak dari kegagalan eksistensial yang berulang.
Dengan demikian, dunia sosial-politik hari ini tidak sedang bergerak menuju keteraturan, tetapi menuju pemutusan. Struktur yang ada tidak lagi dapat diperbaiki, hanya dapat ditunda. Dan selama penundaan itu berlangsung, kekacauan akan terus mendekat—bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai kepastian. ***)
Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 5 April 2026





