Esai
JANDA MANTAN RATU IRAN BICARA TERBUKA: “WAFATNYA KHAMENEI TAK AKAN LANGSUNG RUNTUHKAN IRAN”
Oleh Sugoto Sulistyono
Farah Pahlavi, janda mendiang Shah Iran dan mantan Permaisuri Iran, menyampaikan pandangan yang relatif jarang terdengar dari figur oposisi monarki: wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tidak otomatis akan menjatuhkan negara tersebut.
Dalam pernyataannya, Farah Pahlavi menilai bahwa Iran bukanlah sistem yang bergantung pada satu figur semata. Meski Ayatollah Ali Khamenei berperan sebagai simbol kekuasaan tertinggi, struktur politik dan keamanan Iran telah dibangun selama puluhan tahun dan bersifat berlapis.
Ia menyoroti peran institusi-institusi kunci seperti Garda Revolusi Iran, jaringan ulama konservatif, serta sistem politik pasca-revolusi yang saling menopang. Menurut Farah Pahlavi, jaringan inilah yang membuat Iran relatif tahan terhadap guncangan akibat pergantian figur pemimpin.
Lebih jauh, ia memperingatkan bahwa tekanan eksternal justru berpotensi menghasilkan efek sebaliknya. Konflik terbuka yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel, kata dia, dapat memperkuat solidaritas internal di Iran, alih-alih melemahkannya. Ancaman dari luar kerap dimanfaatkan elite politik Teheran untuk mengonsolidasikan dukungan domestik.
Farah Pahlavi sendiri telah hidup di pengasingan di Paris sejak Revolusi Iran 1979, ketika monarki digulingkan dan keluarganya meninggalkan tanah air. Dari pengasingan, ia menegaskan sikap yang konsisten: masa depan Iran seharusnya ditentukan oleh rakyat Iran sendiri, tanpa intervensi asing.
Ia mendesak komunitas internasional untuk menghormati hak rakyat Iran dalam memilih jalan hidup dan sistem politik mereka, seraya mengingatkan bahwa perubahan yang dipaksakan dari luar sering kali membawa konsekuensi yang tak terduga.
Laporan ini disusun untuk memberikan wawasan dan konteks geopolitik, tanpa mendukung pihak manapun. ***)
Author: Sugoto Sulistyono (Cemara Blora)
RepostedSarinahnews.com
Blora, 4 Maret 2026





