IlUSI TEOKRASI DAN DECIPHERIME

IlUSI TEOKRASI DAN DECIPHERIME

Filsafat

IlUSI TEOKRASI DAN DECIPHERIME
Joko Sukmono

Pemikiran Martin Buber sering disalahpahami sebagai pembela teokrasi atau religiusitas politik. Padahal, Buber justru membedakan secara tegas antara iman yang hidup dengan agama yang membeku menjadi institusi kekuasaan.

Dalam kerangka relasionalnya yang terkenal — Aku–Engkau — hubungan dengan Yang Ilahi bersifat dialogis, bukan administratif, bukan pula koersif.

Ketika agama berubah menjadi struktur dominasi yang memaksa, relasi itu runtuh dan digantikan oleh hubungan Aku–Itu, yakni hubungan instrumental yang memperlakukan manusia sebagai objek. Dalam kondisi demikian, agama tidak lagi menjadi sumber kehidupan, melainkan perangkat kekuasaan.

Decipherisme membaca titik ini sebagai gejala historis: teokrasi bukanlah puncak religiusitas, melainkan degenerasi dari pengalaman spiritual menjadi mekanisme kontrol sosial.

Ketika manusia masih terperangkap dalam ilusi teologis yang dilembagakan, kehidupan sosial tidak bergerak menuju masa depan, melainkan menuju stagnasi yang menyerupai kematian historis.

Kematian di sini bukan sekadar biologis, melainkan kesia-siaan eksistensial — hidup tanpa otonomi, tanpa kreativitas, tanpa kemampuan menentukan arah sejarahnya sendiri.

Teokrasi, dalam pengertian ini, tidak mempersiapkan manusia bagi kehidupan, melainkan bagi kepatuhan absolut. Ia menggantikan tanggung jawab eksistensial dengan ketaatan ritual, menggantikan kebebasan dengan dogma, dan menggantikan sejarah dengan mitos yang dibekukan.

Decipherisme memandang kondisi tersebut sebagai bentuk pembusukan nilai: moral teokratis menjadi moral yang tidak lagi berfungsi bagi kehidupan manusia konkret, melainkan bagi kelangsungan struktur itu sendiri.

Simbol-simbol religius kemudian beralih fungsi menjadi horizon historis. Bintang Daud, misalnya, tidak semata-mata simbol teologis, tetapi juga simbol keberlangsungan historis suatu komunitas yang berhasil bertahan dari diaspora, pengusiran, dan kehancuran berulang.

Dalam perspektif decipherisme, simbol semacam itu memperoleh makna bukan dari wahyu, melainkan dari daya tahan historisnya. Ia menjadi tanda bahwa suatu subyek kolektif mampu mempertahankan eksistensinya di tengah kekerasan sejarah.

Pernyataan-pernyataan absolut seperti “akulah jalan, kebenaran, dan hidup” dibaca bukan sebagai klaim metafisik semata, melainkan sebagai ekspresi kehendak historis untuk menjadi pusat makna.

Subyek yang mengucapkannya sedang menempatkan dirinya sebagai poros sejarah, bukan sekadar sebagai individu religius. Di titik ini, agama bersinggungan dengan politik eksistensial: siapa yang berhak menentukan arah dunia.

Decipherisme menyatakan bahwa moral teokrasi yang telah terlepas dari kehidupan konkret pada akhirnya menjadi bangkai sejarah. Ia mungkin tetap dipertahankan secara simbolik, tetapi tidak lagi memiliki daya kreatif.

Moral semacam itu tidak mampu menjawab penderitaan aktual manusia, tidak mampu mengorganisasi masa depan, dan hanya mengulang masa lalu dalam bentuk ritual. Ketika moral kehilangan fungsi historisnya, ia berubah menjadi residu peradaban.

Bangsa Israel sering dipandang sebagai contoh ekstrem dari subyek historis yang berhasil mempertahankan kontinuitasnya. Selama ribuan tahun diaspora, penganiayaan, hingga pembentukan negara modern, identitas kolektif tersebut tidak larut sepenuhnya.

Decipherisme membaca hal ini bukan sebagai keunggulan metafisik, melainkan sebagai keberhasilan eksistensial: kemampuan suatu komunitas untuk mempertahankan dirinya sebagai aktor sejarah.

Sebaliknya, banyak entitas politik lain runtuh, terfragmentasi, atau lenyap: Kekaisaran Romawi, blok Uni Soviet, federasi Yugoslavia, dan berbagai konstruksi negara lain yang tidak mampu mempertahankan kohesi historisnya.

Runtuhnya entitas-entitas tersebut menunjukkan bahwa menjadi bangsa bukanlah status permanen, melainkan proses yang harus terus diproduksi melalui tindakan sosial, politik, dan kultural.

Zionisme, dalam kerangka ini, dapat dipahami sebagai proyek historis untuk mengubah identitas diaspora menjadi subyek negara. Ia bukan semata doktrin religius, tetapi strategi material untuk membangun pusat kekuasaan konkret.

Klaim tentang Yerusalem sebagai pusat dunia bukan hanya klaim spiritual, melainkan klaim geopolitik: penetapan ruang sebagai pusat legitimasi historis.

Namun decipherisme mengingatkan bahwa menjadi bangsa bukanlah hak istimewa yang diberikan oleh sejarah atau Tuhan. Ia adalah hasil pergulatan eksistensial yang panjang, penuh konflik, dan sering kali tragis.

Tidak ada bangsa yang kebal terhadap disintegrasi. Keberlangsungan selalu bersifat kontingen — bergantung pada kemampuan mempertahankan struktur material, kohesi sosial, dan legitimasi politik.

Dalam kerangka ini, tokoh filsafat decipherisme menolak kebutuhan akan pengakuan eksternal. Jika subyek benar-benar menjadi penggerak sejarah, ia tidak memerlukan legitimasi dari luar dirinya.

Ia identik dengan kode-kode yang menggerakkan peristiwa itu sendiri. Pengakuan datang kemudian, sebagai efek, bukan sebagai syarat.

Dengan demikian, kritik terhadap teokrasi, pembacaan atas simbol religius, dan analisis tentang bangsa semuanya bertemu pada satu titik: sejarah digerakkan oleh subyek konkret yang mampu bertindak, bukan oleh doktrin yang membeku.

Religiusitas dapat menjadi sumber kehidupan jika ia tetap dialogis sebagaimana ditekankan Martin Buber, tetapi ia menjadi kekuatan mematikan ketika berubah menjadi mesin kekuasaan yang meniadakan kebebasan manusia.

Di sinilah decipherisme menempatkan dirinya: bukan sebagai penolak makna, melainkan sebagai upaya membaca ulang kode-kode sejarah agar manusia tidak hidup di bawah ilusi yang diciptakannya sendiri.

Sejarah, pada akhirnya, bukan milik simbol, bukan milik dogma, melainkan milik mereka yang mampu menanggung konsekuensi eksistensial dari kebebasannya. ***)

Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 3 Maret 2026

Note:
Martin Buber sering digambarkan dalam ilustrasi sebagai filsuf Yahudi tua berjanggut putih panjang, mengenakan jas gelap atau mantel tradisional Eropa awal abad ke-20, dengan ekspresi bijaksana dan tatapan penuh refleksi. Karya terbesarnya adalah “Ich und Du” (Aku dan Engkau).

https://id.wikipedia.org/wiki/Martin_Buber?utm_source=perplexity