MANUSIA SEJARAH

MANUSIA SEJARAH

Filsafat:

MANUSIA SEJARAH
Djoko Sukmono

Manusia sejarah adalah manusia konkret. Ia adalah manusia hari ini, manusia yang tidak terperangkap oleh masa lalu yang abu-abu. Ia tidak hidup dari nostalgia, tidak pula menjadikan sejarah sebagai altar pemujaan.

Ia adalah manusia yang memijakkan dirinya pada kenyataan kini dan, karena itu, mampu memandang masa depan sebagai ruang kemungkinan yang terbuka.

Dalam sikap itulah kebahagiaan memperoleh maknanya, bukan sebagai janji, melainkan sebagai proses yang sedang berlangsung.

Bagi manusia sejarah, masa depan yang tiada berbatas bukan sekadar angan-angan, melainkan bentuk keabadian yang harus diwujudkan secara konkret di dunia.

Keabadian yang demikian tidak jatuh dari langit dan tidak pula diwariskan oleh dogma.

Ia lahir sebagai proses historis yang menampakkan dirinya dalam kebahagiaan masyarakat yang nyata, yang dapat dirasakan, diukur, dan dialami secara kolektif.

Namun kebahagiaan masyarakat kerap dirusak oleh apa yang disebut sebagai “malaikat sejarah”.

Sosok ini bukan realitas empiris, melainkan konstruksi mistis yang dengan kekuatan simboliknya menyeret sebagian anak-anak manusia kembali ke masa lalu yang tidak dapat dijelaskan secara logis dan realistis.

Tidak ada bukti otentik bahwa masa lalu itu hadir sebagai realitas objektif; yang ada hanyalah persepsi, tafsir, dan romantisasi.

Ketika cara pandang tidak lagi bertumpu pada bukti, baik logis maupun empiris, maka sejarah berubah menjadi mitologi yang membelenggu.

Masa lalu pada dasarnya adalah persepsi, sedangkan masa depan adalah prediksi. Kemajuan hanya mungkin terjadi jika manusia berpijak pada masa kini.

Ketika anak-anak manusia justru terpikat oleh masa lalu yang memesona, mereka jatuh ke dalam kehidupan ilusif dan menjadi pengikut malaikat sejarah.

Pilihan itu memang bersifat individual, tetapi konsekuensinya bersifat sosial: mereka menjadi batu sandungan bagi gerak kemajuan yang secara kodrati selalu berorientasi ke depan.

Menjadi manusia lebih mulia daripada menjadi malaikat. Secara empiris, manusia itu ada, dapat diverifikasi keberadaannya, dan dapat dimintai tanggung jawab.

Malaikat, sebaliknya, tidak pernah dapat dibuktikan secara ilmiah; ia hanya hidup sebagai konsep dalam struktur pikiran.

Ia menjadi pegangan bagi mereka yang terpesona oleh ajaran masa lalu dan menutup mata terhadap kondisi objektif masa kini.

Dalam pengertian ini, malaikat sejarah adalah simbol pelarian dari kenyataan.

Karena itu, manusia sejarah adalah manusia konkret dan autentik di muka bumi, yang bergerak seiring perkembangan sains dan teknologi.

Ia tidak memusuhi kemajuan, tidak mencurigai rasionalitas, dan tidak alergi terhadap perubahan.

Manusia konkret berkata dengan tegas: abaikan saja malaikat sejarah yang keberadaannya tidak dapat dibuktikan secara metodologis.

Anggap saja ia tidak ada dan hapus dari ingatan. Dalam bahasa digital, ia adalah sampah.

Inilah manusia konkret. Ia sering kali tidak dimengerti oleh zamannya sendiri. Ia berada pada posisi esensial yang melampaui batas-batas filsafat yang beku, melampaui romantisme sejarah, dan melampaui ideologi yang mengeras.

Ia sungguh-sungguh ada sebagai eksistensi yang autentik. Ia tidak tunduk pada tirani waktu, tidak diperbudak oleh masa lalu, dan tidak hidup dari janji kosong masa depan.

Manusia konkret adalah manusia yang berdikari: mampu menghidupi dirinya sendiri, melindungi dirinya sendiri, dan mengambil tanggung jawab penuh atas keberadaannya di dalam dunia.

Makhluk yang secara fisik menyerupai manusia tetapi tidak berdikari bukanlah manusia dalam pengertian eksistensial.

Sebaliknya, mereka yang sedang berjuang menuju keberdikarian berada dalam proses menjadi manusia konkret. Kemanusiaan bukan status, melainkan proses.

Namun jutaan makhluk yang menyerupai manusia justru terjerat oleh dogma budaya yang membekukan makna kebenaran dan kebaikan.

Dogma-dogma itu diperlakukan seolah-olah final, padahal ia hanya konstruksi historis.

Akibatnya, mereka hidup sebagai kawanan, menyerahkan kebebasan dan tanggung jawabnya kepada moral kolektif yang tidak pernah mereka pertanyakan.

Mereka hidup, tetapi tidak sungguh-sungguh ada.

Pertanyaan tentang kondisi objektif masyarakat Indonesia pun menjadi relevan. Apakah manusia konkret sudah hadir? Jawabannya tidak perlu diumumkan, cukup dicari dan direnungkan secara jujur.

Tidak ada alasan rasional untuk membenci orang lain atas dasar ras, suku, atau agama. Setiap manusia konkret adalah unik dan menjadi dirinya sendiri.

Selama ratusan bahkan ribuan tahun, tatanan deterministik dan hegemonik telah dipertahankan atas nama keteraturan, namun tidak pernah benar-benar menghadirkan kebahagiaan manusia konkret maupun masyarakat.

Yang terjadi justru sebaliknya: perbedaan semakin dipertajam dan dipolitisasi, padahal perbedaan adalah keniscayaan yang membuat dunia bergerak dan bergairah.

Struktur dan konstruksi sosial di Indonesia rentan terhadap perubahan karena ketidakmampuan mengorganisasikan diri secara rasional.

Inilah yang dapat disebut sebagai disorientasi organisasi, yang tampak dalam disharmoni sosial yang terus berulang.

Masyarakat dipenuhi oleh makhluk hidup yang menyerupai manusia, tetapi belum menjadi manusia konkret.

Mereka hidup seperti hantu gentayangan, menjalani eksistensi yang absurd, menggantungkan hidup pada keyakinan tanpa keberadaan nyata, dan menyerahkan moralnya kepada moral kawanan.

Secara evolusioner, Indonesia sebagai negara-bangsa pada akhirnya akan menjadi milik manusia konkret: mereka yang mampu mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial secara nyata, bukan sekadar dalam slogan dan retorika.

Menjadi manusia konkret berarti berdikari, membangun relasi dengan dunia secara jujur, dan tidak mengingkari keberadaannya sendiri.

Menjadi manusia konkret lebih penting dan lebih mulia daripada sekadar mendambakan kemanusiaan.

Nilai-nilai fundamental kemanusiaan yang selama ratusan tahun diajarkan sering kali berubah menjadi ilusi yang justru membelenggu kebebasan manusia konkret dalam men-Dunia.

Bahkan ketika nasionalisme memudar atau negara-bangsa runtuh, jalan sejarah manusia konkret tetap terbuka.

Manusia konkret mampu bernegara secara nyata. Mereka membangun struktur dan konstruksi sosial tanpa manipulasi dan tanpa kebohongan moral.

Ketidakhadiran manusia konkret hanya akan melahirkan disorientasi dalam segala bentuk kehidupan bersama.

Hari ini, Indonesia berada pada posisi esensial yang disorientatif. Namun hukum rasional sejarah tidak lagi berada di tangan mitos, dogma, atau malaikat sejarah. Ia kini berada dalam genggaman manusia konkret—jika manusia itu berani hadir. ***)

Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 14 Desember 2025

Referensi: https://www.kompas.com/stori/read/2023/04/04/233000579/manusia-dalam-sejarah-diposisikan-sebagai-apa