WAJAH BARU HUMANISME

WAJAH BARU HUMANISME

Filsafat:

WAJAH BARU HUMANISME
Djoko Sukmono

Humanity, Nasionalisme, Demokrasi, dan Social Justice adalah prinsip yang berasal dari dunia ini—prinsip yang bukan jatuh dari langit, bukan wahyu yang steril dari pengalaman, melainkan hasil pergulatan panjang manusia konkret dalam sejarah.

Karena ia bersumber dari realitas duniawi, ia menimbulkan konsekuensi langsung terhadap realitas sosial: pada cara manusia bekerja, membangun, bertarung, dan saling menentukan nasib.

Keempat prinsip ini abstrak, tetapi justru keabstrakannya menuntut energi raksasa agar dapat menubuh dalam dunia nyata. Abstraksi itu bukan jarak dari realitas, tetapi medan tempat manusia merumuskan arah, tujuan, dan makna dari hidup kolektifnya.

Karena itulah, setiap generasi memikul beban yang sama: bagaimana menurunkan prinsip yang tinggi ini menjadi institusi, menjadi kebijakan, menjadi moral publik, menjadi pola hidup.

Namun sejarah menunjukkan bahwa manusia selalu terdampar di batas-batas sosial yang konkret. Pemikiran selalu melaju lebih cepat daripada struktur. Aspirasi lebih berani dibandingkan sistem.

Proyeksi masa depan lebih jauh dibandingkan kapasitas institusional yang tersedia.

Maka, manusia masa kini pun masih mengerahkan energi besar untuk membumikan empat prinsip tersebut—tetapi energi itu sering terantuk kebuntuan politik, tradisi yang mandek, struktur sosial yang telah lama kehilangan daya cipta, dan mentalitas birokratis yang terpenjara oleh masa lalu.

Humanity sebagai Fondasi

Humanity adalah kemanusiaan—dan kemanusiaan memiliki dua wajah: esensial dan eksistensial. Esensial karena manusia memiliki nilai bawaan yang universal; eksistensial karena nilai itu hanya berarti ketika sungguh dihidupi dalam dunia nyata.

Itulah sebabnya setiap perjuangan kemanusiaan selalu memikul dua kerja berat: membersihkan kotoran yang menempel pada esensi manusia, sekaligus menelusuri sebab-sebab struktural yang menggagalkan kehadiran manusia yang autentik dalam eksistensinya.

Perjuangan kemanusiaan, pada puncaknya, adalah perjuangan melawan segala bentuk penindasan yang menutup potensi manusia konkret. Ia bukan hanya etika; ia adalah tugas sejarah. Ia bukan hanya ideal moral; ia adalah mandat bagi masa kini.

Perilaku Orde Industri

“Hari ini”—kata yang berulang ini bukan retorika, melainkan diagnosis. Hari ini adalah tahap historis yang menentukan arah umat manusia.

Hari ini adalah titik ketika individu konkret dituntut untuk produktif, kreatif, dan berani menerobos batas-batas lama.

Hari ini adalah medan operasi umat manusia dalam era industri dan teknologi digital, di mana kecepatan adalah hukum baru, efisiensi adalah etika baru, dan inovasi adalah moralitas baru.

Hari ini tidak memedulikan mereka yang terpinggirkan. Hari ini tidak menunggu yang lambat.

Hari ini tidak bernegosiasi dengan mereka yang puas pada kenyamanan lama.
Hari ini adalah mekanisme rasional yang tidak dapat dihindari oleh siapa pun yang ingin hidup dalam dunia industri.

Hari ini adalah peluang.
Hari ini adalah tindakan.
Hari ini adalah kemenangan.
Hari ini adalah panggung untuk mempraktikkan perilaku administratif yang logis, realistis, dan produktif.

Hari ini adalah lahirnya perilaku sosial baru—perilaku yang tidak lagi menilai moralitas berdasarkan kategori klasik, tetapi berdasarkan efektivitas dalam perubahan.

Ia tidak anti-moral, tetapi melampaui moralitas statis. Ia tidak anti-nilai, tetapi membentuk nilai baru yang selaras dengan hukum sejarah yang sedang bekerja.

Digitalisasi adalah wujud konkret dari Orde Industri ini. Ia telah melepaskan umat manusia dari ruang dan waktu tradisional, menggiring kehidupan ke dalam kecepatan, fluiditas, dan ketidakpastian.

Tidak ada institusi klasik—politik, agama, budaya—yang dapat mendefinisikan digitalisasi secara tuntas; mereka hanya bisa bereaksi. Dan reaksi itu pun selalu terlambat.

Rezim Politik yang Tertinggal oleh Revolusi Industri

Setiap rezim politik, tanpa kecuali, akhirnya tertinggal. Regulasi selalu datang ketika realitas sudah berubah. Kebijakan selalu dibentuk ketika substansi masalah sudah berpindah ke tahap berikutnya.

Itulah Revolusi Industri: ia selalu berada di depan, tidak menunggu siapa pun, tidak mengenal belas kasihan terhadap struktur yang ketinggalan zaman.

Siapa pun yang mencoba melawan hukum rasional sejarah akan mengalami disorientasi terhadap organisasi yang ia bangun sendiri.

Mereka sibuk membuat redefinisi yang ilusi, konsep-konsep yang indah tetapi kosong, rumusan-rumusan yang tampak canggih tetapi tak menyentuh realitas.

Kini hukum rasional sejarah tidak lagi ditentukan oleh elite politik, melainkan oleh Esensial Industrial—subjek manusia industri yang konkret, yang hidup berdasarkan ritme produksi, inovasi, dan kompetisi.

Dalam kondisi seperti ini, nilai-nilai kemanusiaan—kebebasan, keadilan, kesejahteraan—dapat muncul justru karena dipraktikkan langsung oleh manusia konkret, tanpa hegemoni paradigma klasik yang selama ini menghambat mereka dengan moralitas yang tidak lagi bekerja.

Kerajaan Material dan Kapitalisme Global

Gold, Gospel, War, Glory, and Victory—lima kata ini adalah DNA Homo Economicus Kapitalisme, spesies sosial yang membangun kerajaan material di seluruh muka bumi.

Dunia telah berada dalam genggamannya.
Dunia telah dikunci oleh sistemnya.
Dunia menyerah oleh efisiensinya, kekuatannya, dan ketahanan strukturalnya.

Kapitalisme menaklukkan siapa pun yang berusaha melawannya:
Sukarno—ditundukkan.
Uni Soviet—ditumbangkan.
Yugoslavia—dipecah.
Rusia—mengalami disorientasi fundamental.
Tiongkok—terjebak dalam tahap pasca-produksi.
Timur Tengah—retak secara eksistensial.

Tidak ada lagi peluang terbuka untuk melawannya—bahkan selubang jarum pun tidak.

Bukan karena kapitalisme moral, tetapi karena ia selaras dengan hukum industrial zaman ini: mobilitas, percepatan, ketahanan, dan kemampuan memakan apa pun yang tidak adaptif.

Rezim industri merobohkan rezim politik.
Rezim peradaban mengoreksi rezim kebudayaan.

Rezim sejarah menghapus rezim nostalgia.

Segala struktur yang bangga pada prestasi masa lalu tidak punya masa depan.

Hukum Rasional Perubahan

Dan inilah puncaknya: hukum rasional perubahan.
Ia sederhana, tetapi absolut:
yang tertinggal akan runtuh;
yang maju akan bertahan.

Selamat datang kemajuan.
Selamat datang perubahan. ***)

Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 28 November 2025