Opini:
MENYONGSONG PERUBAHAN SIGNIFIKAN
Oleh Djoko Sukmono
Gold, Gospel, War, Glory, and Victory—lima kata yang pada mulanya hanya semboyan, kini telah berubah menjadi poros kosmologi bagi homo economicus kapitalisme.
Semboyan itu bukan lagi rangkaian kata yang berfungsi sebagai penggerak ekonomi, melainkan telah meresap hingga ke moral, psikologi masyarakat, institusi global, bahkan ke jantung peradaban manusia itu sendiri.
Kapitalisme tidak lagi sekadar sistem; ia telah menjelma menjadi ekosistem total yang mengatur aliran kehidupan, dari detak ritme individu sampai pergeseran tektonik geopolitik planet ini.
Dengan fondasi itu mereka membangun Kerajaan Material, sebuah kerajaan tanpa batas-batas tradisional.
Kerajaan yang tidak bertumpu pada pedang, tidak ditentang oleh tembok, tidak dibatasi oleh gunung; melainkan kerajaan yang dibangun dari data, jaringan, persepsi, citra, dan hasrat manusia.
Dalam dunia seperti ini, manusia bukan lagi makhluk yang utuh, tetapi simpul konsumsi, sumber tenaga, dan peluang akumulasi yang terus diolah untuk kepentingan pertumbuhan tanpa henti.
Dunia pun perlahan bergerak ke posisi eksistensinya: bukan sebagai ruang terbuka, bukan sebagai ladang kemungkinan, tetapi sebagai properti penuh dari mesin ekonomi global.
Bersamaan dengan itu, dunia juga masuk ke posisi esensinya: esensi yang dikemas dalam angka, grafik, indikator, proyeksi pasar, dan algoritma yang membentuk kehidupan sosial jauh lebih kuat daripada konstitusi atau ajaran moral mana pun.
Semua ini menandakan betapa eratnya dunia tergenggam oleh logika kapitalisme, hingga tidak ada lagi yang benar-benar liar.
Apa pun yang liar segera dijinakkan menjadi komoditas: pemberontakan menjadi hiburan, cinta menjadi iklan, identitas menjadi pasar, dan penderitaan menjadi statistik.
Ketika gembok kapitalisme mengunci seluruh arena kehidupan, dunia menyerah tanpa syarat kepada binatang buas yang tak berkepala dan tak berhati itu.
Binatang yang tidak mengenal empati tetapi sangat menguasai kalkulasi risiko; binatang yang tidak mengerti sejarah tetapi sangat mahir membaca momentum; binatang yang tidak peduli pada jiwa manusia tetapi sangat peka terhadap selera pasar.
Di hadapan kekuatan yang semacam ini, hampir tidak ada ruang yang tersisa untuk melawannya. Celah sekecil lubang jarum pun lenyap dalam pusaran kontrol data dan penetrasi modal.
Sukarno tidak ditumbangkan hanya oleh politik dalam negeri, melainkan oleh pergeseran struktur global yang membuat gagasan kemerdekaan menjadi terlalu kecil dibandingkan kekuatan akumulasi kapital.
Uni Soviet bubar bukan semata persoalan ideologi, tetapi karena kapitalisme berhasil menawarkan gaya hidup yang tampak lebih nyata dan lebih memikat daripada sistem komando.
Yugoslavia pecah bukan hanya karena retakan etnis, tetapi karena rekayasa ekonomi yang merusak fondasi politiknya.
Bahkan Rusia kini berada pada posisi yang limbung: terjebak antara bayang-bayang masa lalunya dan tuntutan sistem kapitalisme global yang terus menekan.
Sementara itu Tiongkok menghadapi post-delivered, sebuah kondisi ketika mereka telah menjadi pabrik dunia namun dunia perlahan bergerak melampaui kebutuhan pabrik, menuju otomatisasi, kecerdasan buatan, dan data sebagai komoditas utama.
Ketika kran distribusi mulai mengecil, raksasa ekonomi itu merasakan kembali getaran ketidakpastian yang selama ini ditutupi oleh pertumbuhan.
Di Timur Tengah, struktur sosial dan politik yang selama puluhan tahun bergantung pada minyak kini menghadapi kondisi eksistensial yang retak, akibat perubahan energi global yang memukul fondasi politik mereka.
Pada saat yang sama, rejim industri perlahan merobohkan seluruh rejim yang pernah berdiri di muka bumi, termasuk rejim politik yang kini melebur menjadi instrumen pasar.
Politik tidak lagi menjadi arena keputusan moral, tetapi telah menjadi ruang transaksi modal. Rejim kebudayaan tunduk kepada rejim peradaban baru—peradaban kecepatan, digitalisasi, algoritma, dan efisiensi.
Dan apa pun rejim yang masih hidup dalam nostalgia prestasi masa lalu, dan masih menatap masa lalu sebagai pegangan, akan segera ambruk, sebab nostalgia dalam zaman percepatan hanyalah candu yang memperlambat kematian.
Rejim industri, rejim politik, dan rejim peradaban telah lama meninggalkan konstruksi sosial yang usang. Birokrasi lama yang lamban berubah menjadi museum.
Sistem hukum yang tidak adaptif tergeser oleh mekanisme digital. Budaya yang tidak mampu menyesuaikan diri berubah menjadi sekadar ornamen wisata.
Struktur sosial yang kaku pecah dari dalam oleh realitas baru yang menuntut fleksibilitas ekstrem.
Semua ini bergerak menurut Hukum Rasional Perubahan. Perubahan yang tidak bersandar pada moralitas, tidak menunggu persetujuan rakyat, tidak memerlukan debat panjang, dan tidak menawarkan kompromi.
Ia bekerja seperti hukum fisika: jika objek tidak mau menyesuaikan diri, ia akan hancur. Jika struktur tidak ingin berubah, ia akan diganti oleh struktur lain. Jika masyarakat tidak ingin bergerak, sejarah akan melompat tanpa mereka.
Perubahan ini datang tanpa belas kasihan. Ia tidak menunggu kesiapan para pemimpin. Ia tidak menunggu kebijaksanaan masyarakat. Ia tidak memerlukan sintesis filosofis.
Ia bergerak seperti gelombang yang menelan seluruh pantai—gelombang yang tidak membawa niat baik atau buruk, melainkan membawa fakta bahwa dunia selalu berubah, dan siapa pun yang tidak bergerak bersama perubahan akan terseret.
Hari ini sejarah tidak lagi berjalan sebagai narasi panjang yang ditulis oleh kekuasaan. Ia berubah menjadi fragmen-fragmen yang viral, bergerak cepat, liar, dan tidak terpeta.
Sejarah tidak lagi menjadi garis lurus yang dapat diprediksi, tetapi menjadi serpihan peristiwa yang diciptakan oleh jutaan aktor kecil, masing-masing dengan kecepatan dan logika sendiri.
Dan di tengah semua ini, manusia berdiri dalam kebingungan sebesar ambisi mereka sendiri, menyaksikan dunia berubah dengan ritme yang tak pernah mereka bayangkan.
Dunia sosial abad ke-21 bergerak menuju titik kritisnya, dan perubahan signifikan itu sudah berjalan—tanpa izin, tanpa jeda, dan tanpa jalan kembali. ***)
Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 24 November 2025





