Opini:
JALAN SEJARAH
Oleh Djoko Sukmono
Dunia sosial hari ini menampakkan diri sebagai dunia yang digerakkan oleh ambisi—
ambisi individu, ambisi kelompok, ambisi negara, ambisi pasar, ambisi ideologi.
Ambisi yang mengaburkan batas antara kepentingan dan kebenaran.
Ambisi yang menyingkirkan nilai sebagai acuan,
hingga tak ada lagi pancang kebenaran dan kebaikan
yang dahulu menjadi arah bagi gerak sejarah.
Kini tidak ada sistem yang benar-benar dianut untuk menggerakkan roda dunia.
Institusi internasional, nasional, maupun regional
berjalan tidak pada jalur konstitusional
dan sering hanya menjadi alat legitimasi kehendak kekuasaan.
Mengapa demikian?
Karena:
● konstitusi dilanggar secara sistematis;
● konstitusi tidak lagi terhubung dengan kondisi psikologis objektif masyarakat;
● konstitusi telah menjadi teks kuno yang tak mampu mengakomodasi realitas kekinian;
● liberalisasi merembes ke seluruh aspek kehidupan sosial;
● tidak ada persiapan konkret terhadap regulasi di era global-instans;
● manusia tidak adil terhadap institusi yang mereka bentuk sendiri;
● struktur institusi itu sendiri korup, manipulatif, dan kehilangan legitimasi moral.
Dari situasi sosial yang seperti ini, dunia sosial manusia berada pada posisi esensialnya yang paling kronik.
Kita memasuki situasi batas—situasi yang mengerikan,
yang ditandai oleh resesi multidimensional dan depresi sosial yang akut.
Apa pun keputusan institusi yang lahir dari situasi kronik ini
tetap saja akan berada pada posisi kronik tersebut.
Seperti borok yang belum sembuh namun terus ditambal dengan borok baru,
yang lebih ganas, lebih menjalar, lebih merusak.
Sementara itu, warga dunia telah muak terhadap segala sesuatu yang berbau regulasi.
Kepercayaan terhadap institusi runtuh.
Orang-orang kini mencari pola mereka sendiri
dalam menjalani kehidupan sosial—
berkomunitas tanpa negara,
bertransaksi tanpa bank,
berkomunikasi tanpa media resmi,
membangun solidaritas tanpa lembaga.
Kebohongan demi kebohongan kekuasaan
sudah ditelanjangi oleh sejarah yang diciptakannya sendiri.
Dan pada saat itu terjadi,
sejarah tidak lagi ditentukan oleh penguasa.
Sejarah keluar dari rel-rel bakunya,
retak menjadi serpihan peristiwa kecil
yang berjalan tanpa koordinasi,
tanpa pusat,
tanpa narasi tunggal.
Sejarah menjadi peristiwa individual,
yang hanya bisa dituliskan oleh para pelakunya sendiri.
Ia tidak lagi bisa dimonopoli oleh negara,
oleh birokrat,
oleh para perekayasa narasi besar.
Dan inilah tanda dunia sosial abad ke-21:
dunia yang penuh intrik, penuh ambisi, penuh eskalasi.
Dunia yang bergerak tanpa arah moral yang kokoh.
Dunia yang menunggu kelahiran sistem baru,
atau justru menunggu kehancuran besar berikutnya. ***)
Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 23 November 2025





