Surabaya | sarinahnews.com || – Indonesia Hari Ini. Politik Indonesia hari ini berjalan tanpa api. Demokrasi sekadar prosedur, kehilangan nyawa, sementara semangat revolusi makin redup di dada bangsa.
Kekuasaan lebih sibuk mempertahankan kursi ketimbang menyalakan cita-cita. Rakyat pun diarahkan untuk pasrah, seolah jalan sejarah bangsa ini hanya satu: jalan kompromi dengan modal.
Pertanyaannya: masih adakah keberanian untuk menempuh jalan lain?
Pancasila dan Panggilan Sejarah
Menetapkan Pancasila 1 Juni sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa berarti menetapkan arah perjalanan sejarah Indonesia.
Penjajah baru dengan bentuk-bentuk baru dan wajah-wajah baru harus dihancurkan, dihapus total, hingga tak tersisa debu-debunya.
Peniadaan imperialisme adalah mutlak.
Dan inilah panggilan sejarah:
Indonesia bubar, atau Indonesia tanpa imperialisme!
Sejarah Sebagai Cermin
Ketika Romawi runtuh, embrionya tetap hidup. Ia hanya berganti nama, hadir dalam serpihan-serpihan kekaisaran, dan tetap menguasai Eropa lewat dominasi Vatikan. Kekuasaan Paus bahkan melampaui Kaisar.
Namun waktu bergerak. Napoleon Bonaparte menghancurkan dominasi itu, dan seluruh Eropa jatuh dalam genggamannya dengan meniadakan batas-batas negara.
Indonesia baru berumur 80 tahun.
Apakah konstruksi dan struktur sosial kita cukup kuat untuk melanjutkan eksistensi sebagai bangsa dan negara?
Kapitalisme Sebagai Ancaman
Kapitalis birokrat telah menjelma kanker ganas di republik ini.
Tidak ada jalan sejarah lain, kecuali jalan yang bernama Revolusi.
Imperialisme berwajah kapitalisme.
Dan makanan pokok kapitalis adalah eksploitasi.
Untuk mendunia, kapitalis menempuh lima jalan: Gold, Gospel, War, Glory, dan Victory.
Kelimanya telah menjerat dunia ke dalam genggamannya.
Dengan budaya dan media, kapitalis menyebarkan virus mental: kesadaran yang membahagiakan, dan kesadaran yang tidak membahagiakan.
Kedua kategori ini digoreng terus-menerus, disebar ke seluruh dunia, menembus lorong-lorong sosial, hingga menjelma opini publik.
Sementara kekuasaan yang sudah menjadi alat kapitalis menebar teror mental: intimidasi dan ambisi.
Dunia sosial kini berada dalam genggamannya. Kanal-kanal sejarah mereka bangun, agar anak-anak manusia hanya berjalan di jalan yang mereka tentukan.
Itulah yang dinamakan: Jalan Sejarah Kapitalis
Jalan Lain: Berdikari
Namun, adakah jalan sejarah lain yang bisa ditempuh anak-anak manusia?
Jawabnya: ADA!
Tetapi ia belum menjadi.
Apakah itu?
Dia adalah Berdikari.
Dimensi Manusia yang Terabaikan
Ada satu dimensi manusia yang sering diabaikan:
Manusia adalah endapan dari limbah ekonomi, endapan dari limbah budaya.
Struktur sosial-ekonomi yang membusuk bisa melahirkan manusia.
Struktur budaya yang menjadi sampah pun bisa melahirkan manusia.
Tetapi manusia semacam ini hanya memiliki kesadaran yang tidak bahagia.
Sementara kesadaran manusia selalu mendamba kebahagiaan.
Kedua kesadaran ini digoreng oleh kekuasaan, hingga dalam diri anak-anak manusia timbul sebuah paradoks.
Dari sinilah lahir depresiasi, delusi, halusinasi, bahkan ilusi.
Dan virus mental ini telah sukses melanda anak-anak manusia.
Bangsa ini tidak boleh berhenti di jalan kompromi. Sejarah menuntut keberanian, bukan kepasrahan. ***)
Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 23 September 2025





