SURABAYA, SARINAH NEWS, – Pudarnya paradigma yang berbunyi: “KEBERUNTUNGAN” telah membawa serta perubahan sosial yang cepat. Sains dan teknologi informasi telah menjadi “Lifestyle” dalam kehidupan sosial manusia.
Revolusi industri adalah gerak sejarah yang tak terelakkan. Sektor-sektor yang berhubungan dengan peradaban, yang berkaitan dengan sandang, pangan, dan papan, mau tidak mau melebur ke dalam industrialisasi.
Misalnya, industrialisasi pertanian, perkebunan, perikanan, manufaktur, bahkan dunia pendidikan juga terkena dampak industrialisasi.
Disamping itu, sektor perbankan, sektor moneter, dan fiskal tidak dapat menghindari arus industrialisasi ini. Secara bertahap, namun pasti, industrialisasi juga menginfiltrasi “BIROKRASI”.
Saat ini, digitalisasi telah menjadi model yang paling disenangi oleh anak-anak manusia yang tinggal di muka bumi ini.
Hampir tidak ada penolakan terhadap digitalisasi; semuanya serba digital, semuanya dilalap oleh digital.
Bagi mereka yang anti-digital, pastilah akan dihempaskan oleh keadaan.
Berbondong-bondong para penganjur menggunakan media sosial dalam penyebaran ceramahnya.
Tiba-tiba semuanya “Online”, tiba-tiba semuanya “Boleh”, tiba-tiba pancang-pancang kebenaran dan kebaikan roboh.
Tiba-tiba setiap orang menjadi manusia individu konkret karena kebebasan yang selama ini terkrangkeng oleh paradigma lama telah terbuka gemboknya.
Tiba-tiba semuanya berubah dengan cepatnya. Tiba-tiba ada anak-anak manusia yang menurut paradigma lama tidak layak menjadi A atau B, ternyata tiba-tiba mereka “Menjadi”.
Tiba-tiba sesuatu yang baru datang. Tiba-tiba yang lama tidak sempat mencegah tibanya yang baru.
Dan ketika yang baru itu telah ada dan menjadi, para pengikut yang lama menjadi “Plonga-plongo”, dan dengan senjata yang mereka miliki—bernama hujatan—mereka meneriakkan seruan sambil “Komat-kamit”, dengan harapan bisa membatalkan kedatangan yang baru.
Perubahan tidak dapat dicegah.
Kedatangan yang baru adalah keniscayaan sejarah.
Yang “Baru” adalah sebuah keadaan yang berbeda dengan yang “Lama”, dan juga tidak ada hubungannya dengan yang lama.
Bila suatu keadaan masih berhubungan dengan yang lama, itu bukan “Baru”, melainkan kelanjutan dari yang lama dengan alasan menyempurnakannya agar menjadi lebih baik.
Selalu saja ini dijadikan argumen yang dipelihara terus-menerus selama ribuan tahun, seolah secara sosio-historis kita berutang kepada yang lama.
Sepertinya tidak akan ada yang lebih baik dan lebih benar jika tidak melanjutkan yang lama, meskipun sifatnya hanya evaluatif.
“Baru” juga menunjuk kepada siapakah yang baru itu. Yang baru itu ialah individu manusia maupun kelompok yang benar-benar berbeda dengan individu manusia dan kelompok yang lama.
Mereka yang baru adalah manusia-manusia yang memiliki pola berpikir baru, pola berbicara baru, pola bertindak baru.
Cara berpikir yang baru adalah cara berpikir yang logis dan realistis. Cara berbicara yang baru adalah berbicara secara terstruktur dan sistematis. Tindakan yang baru adalah tindakan administratif yang berorientasi dinamis.
Apakah ini “Krisis kemanusiaan?”
“YA,” akan tetapi ini adalah krisis kemanusiaan yang masih berpedoman pada konsep-konsep kemanusiaan yang lama.
Konsep kemanusiaan yang baru sudah tidak membutuhkan definisi lagi, karena segala sesuatu yang terkonsep secara sistematis dan terstruktur “Rentan” terhadap perubahan. ***)
Editor: Redaksi
Posted: sarinahnews.com
Surabaya, January 22, 2025
Penulis adalah pengamat sosial politik, alumnus GMNI Jember.





