Filsafat Politik
TRAGEDI EKSISTENSIAL
Joko Sukmono
Untuk menjadi sungguh-sungguh ada sebagai manusia otentik bukanlah perkara yang mudah. Dalam perjalanan sejarah manusia, keberadaan yang otentik hampir selalu terhalang, bahkan sering kali dihalangi secara sistematis oleh sesuatu yang disebut sebagai ajaran.
Ajaran pada mulanya lahir sebagai usaha manusia untuk memahami dunia dan memberi arah bagi kehidupannya. Namun seiring perjalanan waktu, ajaran itu membeku, mengeras, dan berubah menjadi institusi yang menuntut kepatuhan mutlak. Ia tidak lagi menjadi sarana pencarian makna, melainkan berubah menjadi mekanisme kekuasaan yang menjaga dirinya sendiri.
Para penjaga ajaran tersebut sering tampil sebagai otoritas moral yang tidak dapat digugat. Mereka mengklaim memegang kebenaran dan kebaikan yang absolut.
Namun dalam praktik kehidupan sehari-hari, kebenaran dan kebaikan yang mereka serukan sering kali tidak pernah hadir secara konkret dalam kehidupan individu maupun dalam kehidupan sosial. Ia hadir sebagai ancaman moral yang abstrak: sesuatu yang selalu dikhotbahkan tetapi jarang benar-benar diwujudkan dalam realitas.
Dari sinilah muncul paradoks yang dalam. Manusia dipaksa tunduk kepada konsep yang tidak pernah sepenuhnya hadir dalam kehidupannya sendiri.
Dalam pandangan Dechiperisme, berbagai peristiwa besar dalam sejarah manusia pada dasarnya memiliki akar yang sama, yaitu ajaran yang telah membeku menjadi dogma. Ajaran yang semula bersifat reflektif lambat laun berubah menjadi agama, lembaga, dan sistem yang menuntut loyalitas total.
Yang paling ironis, ajaran itu kemudian menjelma dalam bentuk manusia-manusia yang menghidupi dan menyebarkannya. Mereka menjadi agen-agen dogma yang membawa ajaran itu ke dalam kehidupan sosial.
Tanpa mereka sadari, mereka sendiri hidup sepenuhnya di dalam keyakinan yang mereka jaga. Keyakinan tersebut menjadi struktur batin yang menentukan cara mereka melihat dunia dan cara mereka memperlakukan manusia lain.
Kondisi semacam ini, menurut Dechiperisme, melahirkan sebuah moral yang justru menjerumuskan umat manusia ke dalam situasi tragis. Moral yang dibangun di atas ajaran yang membeku sering kali memproduksi konflik yang tidak berkesudahan.
Tragedi demi tragedi muncul dan terus berulang sepanjang sejarah manusia. Setiap generasi mewarisi konflik yang lahir dari keyakinan-keyakinan yang dianggap suci, tetapi pada saat yang sama memecah kehidupan sosial ke dalam kubu-kubu yang saling berhadapan.
Dechiperisme menyatakan bahwa moral yang lahir dari ajaran yang membeku itu pada akhirnya membawa manusia ke dalam kehidupan sosial yang penuh paradoks.
Manusia hidup di dalam sistem nilai yang menjanjikan kepastian, tetapi justru menjerumuskannya ke dalam ketidakpastian eksistensial yang berkepanjangan.
Individu kehilangan ruang untuk menjadi dirinya sendiri karena identitasnya telah ditentukan sebelumnya oleh ajaran, doktrin, dan institusi yang menuntut kepatuhan.
Dalam membaca situasi ini, Dechiperisme mencoba membuka kesadaran anak-anak manusia yang hidup di muka bumi bahwa pembentukan karakter dan identitas yang terlalu kaku sering kali justru merupakan bentuk pengkerdilan eksistensial.
Ketika manusia dipaksa untuk menjadi sesuatu yang telah didefinisikan oleh ajaran tertentu, maka ruang kebebasan eksistensialnya menyempit. Ia tidak lagi bebas untuk menjadi dirinya sendiri sebagai individu yang hidup dan berkembang.
Fenomena ini tidak hanya menimpa individu, tetapi juga menimpa komunitas yang lebih besar yang disebut sebagai bangsa. Bangsa-bangsa di dunia sering kali membangun identitas kolektifnya melalui klaim-klaim keunggulan yang bersifat eksklusif.
Setiap bangsa berlomba untuk menunjukkan dirinya sebagai yang paling unggul dibandingkan bangsa-bangsa lain. Dalam kondisi seperti inilah lahir apa yang dapat disebut sebagai tragedi eksistensial sebuah bangsa.
Sejarah memberikan banyak contoh tentang bagaimana klaim identitas semacam itu dapat membawa dunia ke dalam konflik yang sangat destruktif. Bangsa-bangsa yang berasal dari rumpun Semit, misalnya, sering dihubungkan dengan identitas religius yang kuat.
Representasi yang paling menonjol adalah bangsa Israel yang dalam tradisi tertentu dipahami sebagai bangsa pilihan Tuhan. Klaim teologis semacam ini pada kenyataannya tidak jarang memicu ketegangan yang panjang dan kompleks dalam hubungan antarbangsa, khususnya di kawasan Timur Tengah.
Tragedi yang serupa juga pernah muncul dalam bentuk lain di Eropa ketika gagasan tentang ras unggul Arya berkembang menjadi ideologi politik yang ekstrem. Klaim tentang superioritas rasial tersebut menjadi salah satu pemicu utama meledaknya Perang Dunia Kedua, sebuah konflik global yang membakar hampir seluruh dunia dan menelan jutaan korban jiwa.
Dalam peristiwa tersebut terlihat dengan jelas bagaimana ajaran tentang keunggulan identitas dapat berubah menjadi kekuatan destruktif yang menghancurkan peradaban manusia.
Dalam konteks Timur Tengah, klaim identitas yang bersumber dari ajaran religius maupun historis masih terus memproduksi konflik hingga hari ini. Kawasan tersebut berkali-kali berada di ambang kehancuran karena api tragedi eksistensial yang terus menyala.
Akar dari konflik tersebut tidak dapat dilepaskan dari keberadaan ajaran yang membentuk identitas kolektif secara eksklusif dan sering kali menempatkan pihak lain sebagai ancaman yang harus dilawan.
Di Indonesia, kondisi yang serupa sebenarnya juga memiliki potensi untuk muncul. Namun bangsa Indonesia memiliki sebuah fondasi kebudayaan yang berbeda, yaitu Pancasila.
Sebagai budaya dasar bangsa, Pancasila berfungsi sebagai ruang bersama yang mampu menampung keragaman identitas tanpa harus menjadikannya sebagai sumber permusuhan.
Dengan kerangka nilai yang demikian, bangsa Indonesia memiliki peluang untuk menanggulangi potensi tragedi eksistensial yang sering muncul dalam masyarakat yang majemuk.
Meskipun demikian, Dechiperisme tetap memberikan peringatan yang tegas. Tragedi eksistensial bukanlah sekadar kemungkinan teoretis, melainkan sebuah sinyal bahaya yang nyata bagi kelangsungan hidup manusia di muka bumi.
Selama ajaran-ajaran yang membeku itu masih berdiri kokoh dan terus mempertahankan dirinya tanpa refleksi kritis, maka potensi tragedi akan selalu ada.
Ajaran tersebut sering kali tidak peduli terhadap akibat yang ditimbulkannya, karena ia telah berubah menjadi sistem yang lebih mementingkan keberlangsungan dirinya sendiri daripada keselamatan manusia.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah tragedi eksistensial ini akan terus dibiarkan berlangsung dan berulang sepanjang sejarah manusia.
Dechiperisme tidak memberikan jawaban yang sederhana. Ia menyerahkan persoalan tersebut kepada apa yang disebut sebagai hukum rasional sejarah. Hukum inilah yang pada akhirnya akan menentukan apakah manusia mampu keluar dari lingkaran tragedi yang diciptakannya sendiri.
Dalam kerangka ini, Dechiperisme membayangkan sebuah proses pembedahan terhadap klaim-klaim kebenaran dan kebaikan yang selama ribuan tahun telah membentuk apa yang disebut sebagai moral kawanan.
Pembedahan ini bukan dimaksudkan untuk menghancurkan kehidupan manusia, melainkan untuk membuka lapisan-lapisan struktur yang selama ini menjerat kesadaran manusia dalam lingkaran setan yang rumit dan berbelit-belit.
Meja bedah yang dimaksud oleh Dechiperisme adalah upaya untuk meniadakan sel-sel dogma yang telah menyatu menjadi jaringan kepercayaan yang sulit ditembus. Dengan membedah jaringan tersebut, manusia dapat melihat dengan lebih jernih kondisi objektif dari keberadaannya sendiri.
Dalam proses ini Dechiperisme berusaha memperlihatkan kepada manusia sebuah cermin besar. Di dalam cermin tersebut manusia dapat melihat dirinya sendiri secara telanjang, tanpa perlindungan ajaran yang selama ini membungkus kesadarannya. Manusia yang berani menatap cermin itu akan menyadari bahwa banyak jiwa yang tampak hidup sebenarnya telah lama mati di dalam struktur dogma yang membelenggunya.
Pada tahap itulah Dechiperisme berusaha mengangkat candu kehidupan sosial yang telah menggumpal seperti tumor ganas pada tubuh peradaban manusia. Candu tersebut adalah keyakinan yang tidak pernah dipertanyakan, tetapi terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Ajakan Dechiperisme kepada anak-anak manusia adalah ajakan untuk berani melepaskan diri dari racun ajaran yang telah menguasai kehidupan sosial selama berabad-abad.
Bukan untuk menolak makna kehidupan, tetapi untuk membuka kemungkinan baru bagi manusia untuk hidup secara lebih otentik, bebas dari belenggu dogma yang selama ini menutup jalan menuju keberadaan yang sejati. ***)
Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 13 Maret 2026





