Puisi esai: Greed
ENERGI UNTUK SEMUA?
Oleh Monica Jr.
(Refleksi Seorang Pegawai Rendahan)
Kasus korupsi pengelolaan minyak mentah dan produk kilang di lingkungan Pertamina dan mitranya (2018–2023) melibatkan direksi anak usaha serta pihak swasta, dengan potensi kerugian negara mendekati Rp 200 triliun.
***
Waktu aku diterima di Pertamina Patra,dusunku seperti merayakan kelulusan bersama.
Pak Lurah mampir ke rumah,
Ibu masak tumpeng kecil,
dan para tetangga mengucap:
“Wah, bakal jadi orang gede, nih.”
Seragam merahku belum sempat lusuh,
tapi harapan sudah menempel di punggungku seperti skotlet di motor anak SMA:
“Anak Desa, Penjaga Energi Negeri.”
Ibu berpesan singkat saja,
dengan suara lembut seperti doa jadi ceramah:
“Sing penting jujur lan rajin, Wan.”
Aku, Iwan, sangat percaya.
Pertamina adalah negara keduadan aku,
walau hanyaseorang admin cabang…
adalah bagian dari sesuatuyang lebih besar dari seonggok gaji.
Seiring waktu,
ada angka yang tak bisa kuterjemahkan.
Ada laporan yang tak cocok,
ada solar yang berubah warna,
dan ada istilah baru yang tidak diajarkan waktu aku kuliah di politeknik:
“Optimalisasi jalur distribusi.”
Awalnya kupikir itu termin efisiensi.
Lalu kuingat kata-kata atasan saat rapat Senin pagi:
“Kita harus kreatif melihat celah.”
Celaka dua belas,
usut punya usutcelah yang dimaksud Pak Bos itu ternyata untuk memuat dua tangki dan satu proyek fiktif.
Kadang aku berpikir,
apakah ini warisan dari yang dulu saat membangun kerajaan ini?
Ibnu Sutowo, nama yang sering disebut-sebut dengan nada hormat dan sinis sekaligus.
Yang katanya membangun rumah sakit,
tapi juga membuka pintu bagi sesuatu yang tak bisa ditutup lagi:
gaya hidup di atas utang
dan uang yang bukan miliknya.
Ambisi
yang dibayar dengan anggaran negara,
dan minyak sebagai ilusi kemakmuran yang tidak pernah menyentuh pompa rakyat kecil.
Di kantor, aku sering bubuhi tanda tangan berkas-berkas yang tidak sepenuhnya kupahami.
Excel penuh angka, tapi nurani mulai kosong.
Setiap minggu ada bonus,
namun aku tahu ada bayarannya yang harus kubayar dan mahal sekali
harganya: kehilangan kesadaran.
Ilang Eling!
Doaku mulai pendek-pendek.
Cermin di kamar kututup dengan jaket.
Ibu nelpon,
aku jawab singkat:
“Masih kerja, Bu. Banyak lembur.”
Padahal aku tidak lembur,
aku hanya menatap angka-angka yang makin hari makin menjauh dari arti “amanah.”
Lalu… berita itu muncul.
Skandal Patra meledak seperti tangki bocor.
193 triliun disebut-sebut.
Tapi yang lebih mengejutkanku bukan jumlahnya,
tapi bahwa aku tidak kaget.
Yang kurasa hanya satu:
lega.
Aku resign seminggu kemudian.
Bukan karena marah,
tapi karena ingin berhenti berdamai dengan pembusukan.
Sekarang aku kerja di perusahaan lain, SPBU-nya lebih kecil,
namun tenang.
Gajinya lebih sederhana,
tapi tidak ada spreadsheet yang musti disucikan.
Ada tiga kucing yang suka menemaniku di sini.
Mereka suka tidur di atas dispenser.
Nama mereka:
Tico
Oli
Bella
Ada mahasiswa lokal merekam.
Videonya jadi viral.
Komentar netizen lucu-lucu:
“Mas SPBU yang kerja bareng kucing.”
“Kucing-kucing ini karyawan SPBUagar tak ada tikus-tikus koruptor!”
Aku tertawa. Tapi kali ini,
tanpa rasa bersalah.
Ibuku akhirnya bicara,
Setelah aku sempatkan pulang
Seminggu sebelum hari raya:
“Kamu kelihatan lebih ringan sekarang, Wan”
Aku hanya mengangguk, sambil melahap nasi goreng buatanku sendiri
dengan sambal yang sedikit terlalu pedas,
tapi jujur…
seperti hidup yang kini kupilih. ***
Posted: sarinahnews.com
Kumpulan Puisi Esai oleh Monica Jr, yang berjudul: “Koe Kok Yo Ora Isin”
Jakarta, 8 Agustus 2025
Catatan Kaki:
Pertamina seharusnya mengutamakan pasokan minyak daridalam negeri merekayasa sebelum impor, rapat optimalisasi namun hilir para tersangkauntuk menurunkanserapan produksi kilang domestik.
Link: bit.ly/45uZOAH2.Korupsi di tubuh Pertamina sudah santer sejak era dirutpertamanya.
Kalau sekarang Pertamina main oplosan bahanbakar minyak, dulu menggelapkan laporan keuangan.
Link:bit.ly/3Hdbjn63.Kucing-kucing dipakaikan rompi perusahaan Shell menjadiviral di social media. Link: bit.ly/4lWpyMr





